Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Fenomena Pertemuan Dua Lautan dalam Pandangan Al-Qur’an

Sumber: okezonetravel.com

Fenomena alam merujuk pada segala peristiwa yang terjadi di secara alami dimuka bumi. Fenomena alam cenderung mendeskripsikan peristiwa yang tidak disebabkan oleh manusia, karena datangnya tidak terduga dan tidak dibuat-buat. Hal ini seringkali disamakan dengan bencana alam. Nyatanya, tak semua fenomena alam itu adalah bencana alam karena pada umum nya bencana alam lebih cenderung menyebabkan kerugian jiwa, lingkungan, harta benda, dan psikologi. Di antara banyaknya fenomena alam yang terjadi di dunia ini, saya akan mengutip satu fenomena alam yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Bahkan fenomena alam ini sudah banyak di kaji oleh ilmuwan-ilmuwan luar yakni fenomena bertemunya dua lautan. Dimana fenomena ini terjadi di laut merah dan teluk Aden, lebih tepatnya di selat gibraltar.

Fenomena alam yakni fenomena bertemunya dua lautan ini sudah menjadi perbincangan semua ilmuwan dunia. Bahkan banyak sekali ilmuwan-ilmuwan yang mengkaji tentang fenomena ini, Disni muncul lah pertanyaan-pertanyaan. Apakah ada dinding yang membatasi kedua lautan itu?, kenapa kedua air itu tidak boleh sa bercampur menjadi satu?, lantas bagaimanakah pandangan Al Qur’an tentang fenomena ini:

Setiap laut memiliki warna yang berbeda dari laut yang lain. Ada yang berwarna biru pekat, biru dan hitam. Perbedaan warna ini disebabkan suhu yang ada diantara laut-laut tersebut. Perbedaan warna dan suhu tersebut, juga terlihat ada garis lurus yang berwarna putih seakan menjadi pemisah antara satu laut dengan laut yang lain. Nah, garis itu lah yang disebut dalam Al Qur’an dengan istilah barzakh (batas).

Pembatas dua laut dalam Al Qur’an

Dalam di Al Qur’an, Allah telah menjelaskan apa itu barzakh dalam surah Ar-rahman ayat 19-20

Baca Juga  Manfaat Air Hujan berdasarkan al-Qur'an

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ

Artinya ” dia membiarkan dua laut mengalir yang kemudian bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing” (Q.S. Ar-rahman: 19-20)

Ayat 19 menjelaskan tentang bagaimana kedua lautan atau air itu bertemu secara langsung tanpa ada pembatas yang membatasi pertemuan keduanya secara langsung. Makna kata “MARAJA” secara harfiah adalah bertemu dan saling bercampur satu dengan yang lain. Sedangkan ayat 20 membuktikan adanya pembatas diantara kedua laut itu. Pembatas itulah yang di sebut barzakh sehingga jika  kedua laut itu bertemu secara langsung tidak bisa bercampur menjadi satu karena adanya pembatasan (barzakh).

Pembatas (barzakh) yang terdapat dalam surah Ar-Rahman ayat 20, Yang disebut  pembatas dalam Al Qur’an bukan lah pembatas secara fisik seperti adanya kayu atau penghalang melainkan pembatas (barzakh) yang dimaksudkan adalah pembatas (barzakh) non fisik. Diantara pembatas (barzakh) non fisik yang dimaksud adalah suhu, salinitas, massa, dan kerapatan yang berbeda, karena itulah yang membuat, kenapa kedua lautan itu tidak bisa bercampur menjadi satu walaupun keduanya bertemu secara langsung.

Pandangan mufasir

Menurut para mufasir, ketika dua laut bertemu baik itu air asin dengan air tawar. Allah menjadikan keduanya tetap mengalir seperti seharusnya, mengalir keluar masuk sebagai akibat dari berhembusnya angin,  gelombang, dan fenomena pasang surut. Allah pun menjadikan diantara keduanya pembatas untuk memisahkan kedua, sehingga diantara kedua tidak satu sama lain.

Firman Allah dalam surah Al Furqan

وَهُوَ الَّذِى مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا

Artinya” Dan dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) yang ini tawar dan segar, sementara yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia menjadikan keduanya pemisah dan batas yang tidak tembus (Q.S. Al Furqan: 53).

Baca Juga  Keistimewaan Al-Qur'an: dari Otentisitas Hingga Sastranya

Ayat tersebut sudah menyatakan dengan jelas bahwa, ketika dua air baik itu air laut, air asin, dan air tawar. Ketika Allah telah menciptakan untuk keduanya bertemu secara langsung dengan kondisi yang berbeda yang mencakup suhu, salinitas, massa, dan kerapatan yang berbeda, disisi lain Allah juga menciptakan barzakh yaitu pembatas. Tujuan Allah memberikan pembatas atau barzakh ini tidak lain untuk menjaga kestabilan alam ini.

Pembuktian secara ilmiah

Para ilmuwan modern telah mengatakan bahwa fenomena tersebut disebabkan adanya gaya fisika yang di sebut “tegangan permukaan” . Adanya perbedaan massa jenis atau kepadatan massa diantara dua air (air tawar dan air asin) yang tidak saling bercampur ini menyebabkan tegangan permukaan mencegah kedua lautan untuk saling bercampur, seolah-olah ada dinding tipis yang memisahkan keduanya.

Partikel tiap-tiap air menarik diri dari yang lain sehingga menimbulkan ketegangan di permukaan keduanya. Untuk itu, air sungai tidak akan masuk ke laut dan begitu juga sebaliknya air laut tidak akan masuk ke sungai. PeristiwaFenomena ilmiah ini sudah dijelaskan oleh Al Qur’an dan juga bahkan sudah di konfirmasi oleh ilmuwan laut dan seorang profesor ilmu geologi universitas Corolado, AS, bernama DR. William Hay, dan juga seorang ahli osenografi bernama Francis j. Cousteau, pernah menyampaikan laporannya sebagai hasil pengkajian terhadap penghalang air.

Fenomena alam yang terjadi di dunia ini, semua telah ada dalam Al Qur’an. Bahkan sebelum fenomena itu terjadi Al Qur’an sudah lebih dulu menjelaskan tentang fenomena itu. Pertemuan dua lautan antara laut merah dan teluk Aden sudah di jelaskan dalam Qur’an surah Ar Rahman ayat 19-20 begitupun air tawar dengan air asin juga sudah di jelaskan dalam surah Al Furqan ayat 53. Allah juga telah menciptakan pembatas yang di sebut barzakh dalam Al Qur’an, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan alam.

Baca Juga  Biodiversitas sebagai Isyarat Menjaga Bumi: Tafsir QS. Thaha Ayat 53

***

Pandangan musafir tentang fenomena alam ini, bahwa ketika dua laut bertemu maka disitu Allah telah menciptakan secara tidak langsung telah menciptakan barzakh atau pembatas. Pembatas itu berfungsi untuk memisahkan kedua lautan itu agar tidak bercampur menjadi satu. Penelitian pun telah dilakukan untuk mengkaji fenomena yang aneh ini, seorang ilmuwan laut, profesor ilmu geologi universitas Corolado,AS, dan seorang ahli osenografi, telah menyampaikan laporan sebagai hasil dari penelitian terhadap penghalang air.

Dengan adanya fenomena alam itu, menambah bukti tentang kebenaran Al Qur’an bagi orang yang tidak mempercayai Allah dan Al Qur’an. Al Qur’an telah mengungkapkan ilmu pengetahuan termasuk ilmiah, sains, tegangan permukaan, maupun ilmu kelautan jauh sebelum manusia itu mengkajinya.

Editor: An-Najmi