Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bukti Ilmiah Fenomena Api Pada Dasar Air Laut dalam Al-Qur’an

fenomena api pada dasar laut

Apabila kita berpikir secara logika, fenomena api pada dasar air laut sangat tidak mungkin terjadi. Jika Api itu tersiram air maka pasti akan padam. Faktanya api pada dalam laut yang terjadi sejatinya terkelilingi oleh air yang banyak dan tidak mampu untuk dipadamkan . Al-Qur’an telah menjelaskan fenomena ini terlebih dahulu sebelum para ilmuwan menemukan fakta fenomena ini.

Ungkapan Al-Qur’an pada Fenomena Api dalam Air Laut

Fenomena ini telah terungkap dalam al-Qur’an yaitu surah at-Thur ayat 6 yang berbunyi:

وَٱلْبَحْرِ ٱلْمَسْجُورِ

Artinya: ” dan laut yang pada dalam tanahnya ada api. (Qs. ath-Thur [52]: 6)

Dalam tafsir kemenag RI dijelaskan bahwa dalam ayat ini, Allah bersumpah: “Demi Al-Bahrul-Masjur (laut yang di dalamnya ada api)”. Yakni laut yang tertahan dari banjir. Karena jika laut itu terlepas, maka ia akan menenggelamkan semua yang ada pada atas bumi. Sehingga, hewan dan tumbuh-tumbuhan semuanya akan habis musnah. Maka, rusaklah aturan alam dan tidaklah ada hikmah alam ini tercipta.

Apa Pendapat Ulama Tentang Fenomena Api dan air Laut?

sebagian dari ulama berpendapat dan menetapkan, bahwa lapisan bumi yang keseluruhannya itu seperti semangka dan kulitnya seperti kulit semangka. itu artinya bahwa, perbandingan kulit bumi dan api yaitu terdapat dalam kulitnya, seperti kulit semangka dengan isinya yang di makan. oleh sebab itu, sekarang kita sebenarnya berada di atas api yang besar, yakni pada di laut atau daratan yang sebenarnya berada pada bawah kita adalah penuh dengan api dan laut,yang telah tertutupi dengan kulit bumi dari segala penjurunya.

Baca Juga  Sindiran Al-Quran Untuk Orang yang Lalai Terhadap Fenomena Alam

Menurut Jumhur bahwa maksud dalam ayat ini adalah laut bumi. Akan tetapi, mereka pendapat yang berbeda dalam kata “masjur”, salah satu pendapatnya adalah berarti: Api yang dinyalakan pada hari Kiamat. seperti dalam Al-quran:

وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ

Artinya: Dan apabila lautan dijadikan meluap. (Al-Infitar [82]: 3)

Fakta Ilmiah Fenomena Api Pada Dasar Air Laut

Fenomena api pada dasar air laut ini, mulai terbukti secara ilmiah. Ketika dua ahli geologi berkebangsaan Rusia, Anatol Sbagovich dan Yuvi Bagdanov bersama rekannya ilmuwan Amerika Serikat (As) Rona Clint. Mereka telah meneliti tentang kerak bumi dan patahannya yang berada pada dasar laut. Pertengahan tahun 1990-an, mereka menyelam pada dasar laut menggunakan kapal selam sedalam 1.750 km lepas pantai Miami. Pada darat laut itulah mereka terkejut dengan fenomena aliran air yang sangat panas mengalir pada arah retakan batu. Pada aliran air itu bersama dengan semburan lava cair panas yang menyembur layaknya api pada daratan, serta debu vulkanikyang ikut layaknya asap kebakaran. Panas suhu api vulkanis dalam air tersebut mencapai 231 derajat celcius.

Fenomena alam yang terjadi adalah akibat aliran lava vulkanis yang terjadi pada dasar laut seperti halnya gunung api pada daratan. Para ilmuwan menemukan lebih banyak lagi gunung api aktif pada bawah laut, yang tersebar pada seluruh lautan. Selain itu , penjelasan terkait fenomena ini juga muncul. ketika itu, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera, dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang. Para Ilmuwan tersebut terkejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain)’yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer pada tengah-tengah seluruh samudera bumi. Kemudian mereka sebut sebagai “gunung-gunung tengah samudera”. Rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks); yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar.

Baca Juga  Tafsir Al‐Jawahir: Mengurai Keajaiban Alam dalam Al-Qur'an (1)

Jaring yang retak itu, dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan juga melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah, dan terpusat pada dalam dasar samudera dan beberapa lautan. Sedangkan, kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini, menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga). yang lapisan yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.

***

Batuan-batuan yang lunak itu terdorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan, semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis itu beratnya mencapai jutaan ton dan bisa mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian hal itu sebut oleh para ilmuwan dengan sebutan “fenomena perluasan dasar laut dan samudera”. Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, wilayah-wilayah yang telah terbentuk oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma dan bebatuan, yang dapat menimbulkan pendidihan pada dasar samudera dan beberapa dasar laut.

Salah satu fenomena yang mencengangkan saat ini adalah bahwa meskipun begitu banyak air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan, magma yang sangat panas sekalipun tidak mampu untuk memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api pada atas dasar samudera bumi, termasuk dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah. Fenomena retakan pada dasar lautan yang mengeluarkan lava. Lava tersebut menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah-ruah, ia tidak bisa memadamkan api.

Baca Juga  Tegangan Permukaan Pada Selat Giblartar dalam Al-Qur'an

Penyunting: Wiwik