Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dunia Itu Hina, benarkah demikian?

dunia
Sumber: https://www.colourbox.com/

Kita semua sepakat bahwa ketika kita mendengar suatu yang hina maka secara langsung kita akan men-cap hal itu adalah suatu keburukan. Hina dalam artian ini adalah suatu hal yang akan menjerumuskan kita pada sesuatu yang buruk. Menurut perspektif agama Islam, yang hina adalah sesuatu yang dapat menjerumuskan kita pada dosa. Yang selanjutnya akan membawa kita pada sifat-sifat yang rendah. Apakah dunia termasuk hal yang hina?

Beberapa ceramah yang saya dengar di youtube dan beberapa kanal media sosial lainnya, acapkali dunia yang hari ini menjadi pijakan kehidupan kita dianggap suatu yang hina. Hal ini bukan tidak berdasar akan tetapi hal ini berasal dari beberapa hadis familiar di tengah Muslimin.

Berdasarkan padanan kata bahasa Arab, dunia berasal dari beberapa kata yang merujuk pada beberapa arti. Yakni; yang rendah, dekat dan bersifat duniawi. Dari ketiga terma tersebut jika dikaitkan dengan narasi ceramah-ceramah tersebut dunia diartikan suatu yang hina dan berpotensi menyesatkan manusia. Inilah yang kemudian membentuk stigma bahwa sebagai kaum Muslim harus menghindari kehidupan dunia demi mendekatkan diri kepada pencipta

Salah Persepsi Masalah Dunia

Acapkali dunia dipandang sebagai suatu tempat hina di turunkannya Adam atas dosa yang ia perbuat di surga bersama Hawa. Narasi ini tidaklah salah namun masyarakat awam terlanjur termakan narasi bahwa segala apa yang ada di dunia harus ditinggalkan karena sifatnya yang hina dan berpotensi menyeret pada kesesatan.

Padahal dalam hadis lain nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa dunia merupakan jembatan untuk menuju akhirat. Kemudian dimaknai sebagai tempat atau wadah dalam mengumpulkan amal untuk kemudian dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Dalam beberapa ayat juga Allah menjelaskan bahwa dunia yang hina ini pun dapat dimanfaatkan dalam rangka memenuhi ketaatan kepada Allah.

Baca Juga  Edip Yüksel: Membaca Al-Qur’an Lewat Injil dan Akal

Artinya:“Bukankah orang yang paling baik diantara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain.” (HR. Muslim)

Sudut pandang tentang dunia haruslah dilihat dari sudut pandang Islam yang pada akhirnya itu akan menambah pemahaman kita terkait fungsi dari penciptaan dunia untuk manusia. Sejatinya dunia harus dimaksimalkan sebagai tempat menuju Allah. Segala potensi yang Allah adakan di dunia, saya kira adalah bagian dari kemurahan Allah supaya hambanya dapat menyembah dan mengtahui siapa yang patut disembah.

Dorongan Untuk Menjadi Miskin

Dengan adanya stigma bahwa yang ada di dunia adalah sementara dan bersifat hina ini sedikit banyak mempengaruhi masyarakat untuk bermental miskin. Ia berupaya meminimalisir harta benda dan hidup sederhana untuk menghindari bermegah-megahan. Belum lagi ancaman hisab yang panjang nan rumit mengenai harta juga menjadi salah satu motif mereka bermental miskin.

Padahal seharusnya kita selaku umat Islam memiliki mental yang kaya. Bahkan Rasullullah pun seorang pedagang yang sukses beserta istrinya, beberapa sahabat juga demikian. Yang harus diperhatikan ialah bagaimana kemudian memanfaatkan harta dan juga potensi kekayaan itu untuk disalurkan di jalan Allah.

Dalam Islam banyak sekali ibadah-ibadah yang membutuhkan uang untuk dilaksanakan. Seperti zakat, haji, sedekah, wakaf infaq, kurban dan yang lainnya membutuhkan biaya untuk dilakukan. Ini artinya Islam sendiri tidak melarang orang majadi kaya. Namun Islam menolak orang yang bermegah-megahan dan foya-foya seperti yang dijelaskan dalam surat at-Takatsur ayat 1.

Memang secara potensi kekayaan dapat menjerumuskan kita pada jurang bermegah-megahan. Disitulah letak ujian yang diberikan oleh Allah pada kita. Apakah subjek bisa menggunakan hartanya untuk kebaikan atau sebaliknya, malah berfoya-foya dan menjauh dari Allah. Cukup sederhana memang tapi kita tidak pernah tau bagaimana bila dihadapkan dengan segepok uang yang bernilai ratusan juta. Apakah kemudian kita bisa mengontrol diri dan menggiring hal itu pada kebaikan?

Baca Juga  Menebarkan Sikap Mawaddah dalam Keberagaman

Kesimpulan

Keseimbangan merupakan poin pokok yang harus kita cermati. Dalam Islam konsep keseimbangan berarti tidak menitikberakan pada sebelah pihak saja yang dalam hal ini dunia dan akhirat. Jangan sampai karna ketakutan akan siksa yang bermegah-megahan dan hisab yang rumit membuat kita bermental miskin dan berpikir bahwa miskin adalah solusi. Sungguh tidak.

Kontrol diri atas kekayaan juga menjadi pekerjaan rumah bagi tiap-tiap muslim. Karena seringkali kita lalai terhadap kewajiban-kewajiban yang Allah titipkan pada harta yang kita punya. Banyak sahabat yang rela menggelontorkan dana dan kekayaanya hingga tak bersisa demi kemajuan Islam. Abdurahman bin Auf, Usman bin Affan dan masih banyak lain. Kecintaan mereka terhadap allah telah membentuk sifat materialistik mereka yang didasari pada dunia yang fana dan bersifat sementara.

Narasi dunia yang hina sepertinya perlu dipahami lebih mendalam dan mengakar. Ketika kita mengartikan sebagaimana barang hina yang harus dihindari. Maka hal itu akan berdampak pada kehidupan sosial dan juga ekonomi umat Islam. Namun ketika kita memaknai dunia akan hina jika di dalamnya kita melakukan berbagai prilaku yang justru menjauhkan kita pada tuhan agaknya bisa diterima. Jangan sampai salah pengertian dari masyarakat malah membawa masyarakat tersebut jatuh pada lembah kemunduran.