Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dimensi Ontologis dari Rasionalitas Qur’ani

ontologis
Sumber: https://prezi.com

Sebelum filsafat Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Umat Islam telah mengenal konsep akal atau intelek yang diuraikan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Tentu, berbeda sekali dengan periode Jahiliyah (kebodohan)”. Islam merepresentasikan era keimanan, pengetahuan, akal, keadilan, dan kebebasan sekaligus. Seseorang yang masuk Islam berarti dirinya meninggalkan kebiasaan mental dan sosial dari zaman jahiliyah, politeisme, ketidakadilan dan amoralitas. Dalam kaitan ini, Islam menbangung tatanan sosial-politik baru yang didasarkan pada akal, keadilan, kesetaraan dan kebajikan.

Kenyataan ini membutuhkan ontologi akal yang baru untuk mengatasi logika politeistik dan sinisme moral. Caranyan yaitu dengan memperkenalkan sebuah pencerahan dan cara berpikir yang baru.

Landasan Ontologis Rasionalitas

Pemahaman tentang akal, rasionalitas dalam Al-Qur’an dan tradisi intelektual Islam selanjutnya dapat dieksplorasi. Landasan ontologis baru tentang cara berpikir diperkenalkan oleh Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an menurut Ibrahim Kalin (2012) dalam Reason and Rationality in The Qur’an memperkenalkannya melalui kisah-kisah, ajakan, deduksi, silogisme, perintah, peringatan, pujian, dan janji-janji pahala dan siksa.

Khazanah yang kaya akan deduksi logis dan nasihat-nasihat moral ditemukan dalam Al-Qur’an dan Hadis bertujuan untuk membangkitkan hati nurani sehingga dimulailah pengguanaan kemampuan indrawi dan rasional dengan cara yang sesuai dengan kondisi eksistensi.

Masih menurutnya, QS. Al-Zumar:27 berkaitan dengan hal ini. Dalam ayat ini disebutkan bahwa Allah membuatkan untuk manusia dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan agar mereka mengingatnya. Kata matsal, yang diterjemahkan sebagai perumpamaan, mengacu pada metafora dan perumpamaan yang digunakan untuk menyampaikan pesan mendasar untuk menyeru akal dan imajinasi sehingga dapat memperhatikan sesuatu yang penting.

Ibrahim Kalin (2012) mengemukakan bahwa jalan pemikiran ditemukan dalam Al-Qur’an tidak terdiri dari kumpulan fakta-fakta juga bukan sebuah daftar perintah dan larangan yang bersifat kesalehan yang berlebihan. Jalan pemikiran ini merupakan upaya menyeluruh yang membutuhkan perjalanan intelektual, moral, dan spiritual. Ini mencakup seluruh keberadaan dan mengatasi dualitas seperti yang indrawi versus yang rasional, material versus spiritual, individu versus alam semesta, alam versus budaya, dan seterusnya.
Cara berpikir terpadu yang diwujudkan oleh Al-Qur’an dengan gayanya yang unik mencerminkan sifat realitas yang saling bergantung. Al-Qur’an mendorong manusia untuk melihat keterkaitan berbagai hal dan bagaimana satu hal mengarah pada hal lainnya dalam rantai besar keberadaan.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 30: Malaikat dan Khalifah (1)
***

Dengan demikian, cara berpikir Al-Qur’an pada dasarnya tidak bersifat deskriptif, melainkan preskriptif. Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan sesuatu sebagai fakta atau informasi; kisah-kisahnya yang sugestif, metafora yang mencolok, dan deskripsi yang jelas tentang ciptaan dan intervensi Tuhan dalam sejarah. Al-Qur’an berusaha untuk mengubah hati nurani manusia sehingga manusia dapat menjalani kehidupan berdasarkan iman dan kebajikan yang dibenarkan.

Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an (1994) menyebut begitu hati nurani terbangun dan dibawa untuk memperhitungkan realitas dari segala sesuatu, semuanya jatuh pada tempatnya yaitu akal budi, pemikiran, organ-organ indera, penglihatan, pendengaran, persepsi dan penilaian moral. Akal dan rasionalitas dalam konteks yang lebih besar mengarah pada pemikiran terpadu dan ketajaman moral. Akal budi ternyata berfungsi dalam konteks yang lebih besar dalam keberadaan di dunia juga merespons terhadap realitas.

Karakteristik Akal

Akal budi tidak dapat mengenal Tuhan dalam arti ‘merangkum’. Akal sebagai makhluk yang terbatas tidak dapat merangkum apa yang tidak terbatas. Tuhan tidak dapat diketahui secara empiris karena pengetahuan empiris mensyaratkan adanya batas, posisi, relasi, relativitas, dan lain-lain, yang tidak satupun dari hal tersebut berlaku bagi Tuhan. Tuhan dapat diketahui melalui akal/inteligensi sejauh mana Yang Mutlak dan tak terbatas dapat diintuisi, dipahami dan direpresentasikan melalui proposisi, konsep, dan metafora formal.
Masih menurut Ibrahmi Kalin (2012), mengharapkan akal untuk melakukan lebih dari itu berarti melampaui batas-batasnya sendiri. Jika akal, seperti komponen-komponen realitas lainnya, adalah bagian dari tatanan eksistensi dan bukan keseluruhannya, maka akal tidak akan pernah bisa merangkum seluruh realitas. Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi atau meruntuhkan pentingnya akal.

Tuhan adalah realitas absolut yang merangkum segala sesuatu. Dia adalah al-Muhith, Yang Esa yang meliputi segala sesuatu. Dalam QS al-An’am:103 disebutkan, Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat menjangkau segala penglihatan itu. Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Teliti. Ayat ini menegaskan bahwa Allah di atas segalanya. Dia tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Sebab, indera manusia diciptakan dalam susunan yang tidak akan mampu untuk melihat-Nya. Begitu pun, manusia diciptakan dari materi, sedangkan Allah bukan materi. Pasti, Dia tidak dapat dijangkau oleh indera manusia ketika ia masih di dunia, sebagaimana diungkapkan oleh para mufasir.

Baca Juga  4 Buku At-Tafsīr wal Mufassirūn Berdasarkan Kawasan

Respons terhadap Realitas

Seperti halnya cinta, amal, kebijaksanaan, spiritualitas, dan seni, rasionalitas adalah respons manusia yang mendasar terhadap panggilan realitas. Rasionalitas memungkinkan manusia untuk mengungkapkan struktur tatanan keberadaan yang dapat dipahami. Rasionalitas mengundang manusia untuk mengatasi keberadaan jasmani yang terhubung dengan dunia alam secara rasional dan moral. Al-Qur’an mengajak manusia untuk membangun tatanan sosial-politik yang didasarkan pada kebajikan, keadilan, dan kebebasan.

Al-Qur’an menyajikan pandangan kemanusiaan yang dibentuk oleh rasionalitas (‘aql, nuthq) dan sifat-sifat lain yang sama pentingnya dalam memberikan respons yang bermakna terhadap realitas. Dalam konteks ontologis, hal ini mengakui realitas segala sesuatu sebagaimana adanya dan melihatnya sebagai amanah dari Tuhan. Respons manusia terhadap panggilan Ilahi untuk menjaga amanah-Nya adalah dengan menjadi khalifah di muka bumi dan dengan demikian tunduk kepada Allah yang disebut ibadah, penyembahan, tindakan tertinggi manusia yang melampaui keterbatasan keberadaan manusia dan mengikat diri kepada Yang Maha Mutlak dan Maha Tak Terbatas.