Manusia merupakan makhluk Allah paling sempurna karena diberi suatu kemampuan luarbiasa dengan akal. Berbeda dengan makhluk lainnya yang hanya diberi hawa nafsu, sehingga inilah yang merupakan perbedaan signifikan antara manusia dengan makhluk lainnya. Namun bagaimana jika makhluk ciptaan Tuhan diberi akal yang serupa seperti manusia? Dalam al-Qur’an diberikan perumpamaan menyindir atas perbuatan manusia yang tidak menggunakan akal dan hanya terjerumus ...
Sebagai hamba Allah, tentu tidak pernah lepas dari aneka ragamnya problematika hidup. Sesulit apapun itu, tentu ajaran Islam telah menganjurkan supaya memohon berdoa setiap hari. Hal ini merupakan salah satu solusi agar tidak serta merta berangsur-angsur dalam keterpurukan. Secara implisit, kualitas berdoa akan terukur jika ungkapan doa dan esensi dari kebutuhan dapat diketahui dengan jelas. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim. Nabi ...
Sebelum mengulas secara sederhana soal tafsir esoterik, mengetahui makna tafsir esoterik adalah hal yang utama. Karena akan sulit memahami ulasannya jika tidak paham maknanya. Isitilah esoterik secara literatur berasal dari bahasa Yunani “esotero” yang berarti “dalam” atau “batin”. Kemudian dalam literatur Inggirs kata esoterik semakna dengan istilah “esoteric”. Yakni merupakan istilah terhadap doktrin, dimaksudkan hanya untuk kalangan dan maksud tertentu; ...
Mesin-mesin kendaraan politik mulai dipanaskan menjelang Pilpres 2024, tes ombak para kandidat Capres pun mencuat ke permukaan, disinyalir berangkat dari kepala-kepala daerah, yang katakanlah energik serta memiliki daya pikat terhadap kaum millennial, sebut saja Kang Emil yang saat ini menduduki kursi Gubernur Jawa Barat, atau nama lainya, yaitu Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah, dan tak ketinggalan, yang paling tersorot ...
Beberapa pekan yang lalu, Azyumardi Azra, dalam seminar yang diinisiasi oleh AIPI (Akademi Pengetahuan Indonesia) menyampaikan beberapa faktor yang menjadi akar radikalisme. Di antaranya adalah pemahaman literal atau anti-intelektualisme, anti-teologi interpretatif dan sepotong-sepotong dalam memahami kitab suci. Pemahaman ini berbending terbalik dengan konsep wasatiyyah. Pemahaman tersebut tentu tidak bisa kita anggap sebelah mata. Sebab, ia bisa menjadi salah satu penyebab ...
Memang benar adanya bahwa belajar ilmu agama itu haruslah melalui guru atau seorang ustadz. Sebab, kalau seorang ustadz tidak ada memang bisa saja seorang terserat entah mau kemana arah dan tujuan yang ingin ia capai. Dikarenakan salah dalam memahami apa yang telah dipelajari. Namun pergeseran zaman telah mengalami perubahan yang sangat signifikan dahulu. Seseorang ketika ingin mendalami ilmu al-Qur’an atau ...
Perkembangan zaman secara jelas dapat mengakibatkan perubahan konteks pada turunnya al-Qur’an dengan kondisi selanjutnya. Sehingga dalam penafsiran al-Qur’an bersifat dinamis. Oleh karena itu, seorang mufassir terkadang menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan keadaan yang dialami. Tetapi dalam pengertian ini bukan berarti ke ranah subjektifitas dalam penafsiran. Karena hakekatnya al-Qur’an shalih li kulli zaman wa makan yang mana dalam memproduksi makna al-Qur’an relavan ...
Buya Husain Muhammad adalah tokoh kontemporer dengan paradigma metodologis tafsir feminisnya. Beliau banyak menyuarakan pembelaan pada perempuan. Ia tidak hanya mengusung gagasan feminisnya dalam wacana, namun juga dalam aksinya. Ia menulis beberapa karya sebagai bentuk pembelaan pada perempuan, hal tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk perjuangannya bagi para perempuan. Faktor ini yang kemudian membuat penulis tertarik terhadap pemikirannya. Selain itu, ...
Ludwig Josef Johann Witgenstein adalah yang mempengaruhi perkembangan filsafat Analitik Bahasa pada abad ke 20. Ia lahir di Wina, tepatnya di negara Austria pada tanggal 26 April 1889. Ludwig adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya berasal dari keturunan Yahudi yang telah memeluk agama Kristen Protestan sedangkan ibunya beragama Katholik.Diakhir masa hidupnya, Ludwig Wittgeinstein berhasil menulis buku Philosophical Investigation yang ...
Di dalam al-Qur’an, istilah amar ma’ruf nahy munkar, seperti ya’murana bi al-maruf wa yanhawna ‘anil-munkar, ternyata secara berulang disebut secara utuh. Artinya tidak dipisahkan antara amar ma’ruf dan nahy munkar. Istilah itu berulang cukup banyak, 9 kali. Sekalipun hanya dalam 5 surat. Yakni secara berurutan, al A’raf/7:157, Luqman/31:17, ali Imran/3:104, 110, dan 114, al-Hajj/22:103, at-Taubah/9:67, 71, dan 112. Sungguhpun begitu, ...


































Kanal Tafsir Mencerahkan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.