Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Biografi Imam Bukhari dan Kitabnya yang Fenomenal

Biografi imam bukhari
Sumber: islami.co

Perjalanan panjang penghimpunan hadis memiliki tempat spesial di hati para pengkajinya. Berbagai masa terlewati dengan fasenya dan tantangannya masing-masing. Di mulai dari zaman Rasulullah hingga pengklasifikasiannya oleh para ulama. Sejarah telah mencatat banyak tokoh hebat terlibat dalam proses panjang yang menakjubkan tersebut.

Islam dianugerahi tokoh-tokoh luar biasa yang mampu mengumpulkan ingatan dan manuskrip-manuskrip kemudian menghimpunnya menjadi sebuah kitab yang mampu kita jamah dan pelajari saat ini. Salah satunya adalah tokoh yang pasti dikenal oleh seluruh umat Muslim, yakni Imam Bukhari. Berikut adalah biografi Imam Bukhari.

Biografi Imam Bukhari

Lewat Shahih Bukharinya yang berjilid-jilid, kita mampu memahami banyak hal. Terutama tentang betapa kayanya umat ini dengan segala pembahasannya yang rinci. Beliau terkenal dengan nama Bukhari yang merupakan nisbat terhadap kota kelahirannya, yakni kota Bukhara.

Nama lengkap Imam Bukhari adalah Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al-Ja’fi al-Bukhari. Imam Bukhari dilahirkan pada hari Jum’at 13 Syawwal 194 H. Imam Bukhari dianugerahkan kecerdasan yang luar biasa oleh Allah, lengkap dengan kekuatan hafalannya yang menakjubkan. Beliau menghafal kurang lebih 200.000 hadis yang terdiri dari hadis shahih dan dha’if.

Perjalannya dalam mendapatkan hadis tentu tidak mudah. Banyak kota yang mesti dilalui. Seperti Bashrah, Madinah, Baghdad, Syam, Bashrah, Hims, dan kota lainnya. Di dalam buku Kritik terhadap Kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim karya Marzuki, tepatnya pada halaman 29, beliau mendapat gelar Imam al-Mu’minin fi al-Hadis atau Amir al-Mu’minin fi al- Hadis. Tentu gelar tersebut tidak didapatkan dengan mudah, melainkan merupakan hasil dari kegigihan, kesabaran, kecerdasan, hingga kecintaan beliau terhadap lautan ilmu.

Baca Juga  Mengenal Abdul Rauf Sinkel: Mufasir Pertama dari Indonesia

Kitab Shahih Al-Bukhari

Nama kitab termasyhur beliau dikenal dengan Shahih Bukhari, meski sebenarnya nama kitab yang aslinya cukup panjang, yakni Al-Jami’ Ash-Shahih Al-Musnad min Hadits Rasulillah saw Sunnanihi wa Ayyamihi. Kitab ini disiapkan beliau selama 16 tahun lamanya. Cetakan pertama diterbitkan Mathba’ah Salafiah pada 1400 M. Kebetulan saya menemukan cetakan pertamanya. Rasanya seperti bahagia yang tak tertandingi meski hanya dengan melihat karya beliau.

Mengapa dinamai al-Jami’? ternyata, pemilihan nama kitabnya menggambarkan isinya yang kelak akan memudahkan kita dalam mencarinya. Nama al-Jami’ dipilih karena ingin memberitahu kita bahwa kitab ini merupakan kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis shahih dengan berbagai pembahasan, alias banyak topik.

Kata al-Jami’ kemudian diikuti dengan kata  al-musnād al-ṣahīh yangmengindikasikan bahwa hadis-hadis yang dihimpun merupakan hadis-hadis yang berkualitas shahih. Tentu shahih berdasarkan kriteria beliau. Kok bisa menurut beliau? Jika ada kesempatan insyaAllah kita akan bahasa tentang hadis shahih.

Di antara kita tentu ada yang bertanya-tanya mengenai apa yang melatarbelakangi penulisan kitab beliau. Nah ternyata, latar belakang penulisan kitab ini memiliki kisah di belakangnya. Yakni, Imam Bukhari bermimpi bertemu Rasulullah, yang pada saat itu Rasulullah seperti sedang berada di hadapan beliau. Kemudian Imam Bukhari bertanya perihal mimpinya kepada ahli nujum atau para penafsir mimpi.

Ternyata, makna dari mimpi Imam Bukhari adalah bahwa ia akan mengikis kebohongan dan menghancurkan keburukan. Dengan adanya mimpi tersebut, beliau seperti mendapat panggilan jiwa dan merasa terdorong untuk menulis kitab yang berisi hadis-hadis shahih.

Selain karena mimpinya, alasan lain beliau menulis shahih Bukhari ialah dikarenakan pada saat itu belum adanya kitab yang khusus memuat hadis-hadis shahih yang membahas berbagai bidang dan masalah dan karena adanya dorongan guru beliau yang bernama Ishaq bin Rahawaih.  

Baca Juga  Tiga Ahli Tafsir yang Pernah Jadi Jurnalis

Beliau selalu menanamkan sifat kehati-hatian dalam melakukan sesuatu, apalagi dalam memasukkan hadis ke Shahih Bukharinya. Bahkan, menurut salah seorang muridnya yang bernama Al Firbari, ia pernah mendengar Imam Bukhari berkata “Saya menyusun kitab  Al-Jami’ as-Shahih di Masjidil Haram, Makkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadispun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”.

Menurut Ibnu Shalah, di dalam Muqaddimahnya, di kitab Imam Bukhari terdapat 7275 hadis yang diulang dengan letak yang berbeda, dan ada 4000 hadits tampa pengulangan.

Setelah mengembara ke berbagai penjuru, beliau kembali ke Bukhara dan wafat di Desa Khartank pada 30 Ramadlan (malam ‘Idul Fitri) tahun 256 H. Beliau wafat dengan meninggalkan mutiara yang tidak akan pernah ada tandingannya. Sebab karya-karya beliau menjadi kitab pegangan hampir seluruh umat Muslim di segala penjuru dunia.

Editor: Yusuf