Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bincang Buku Tafsir Ayat Cahaya Perspektif Sosial

bincang
Bincang buku Tanwir.ID

Tanwirid — Setelah selesai bincang buku mengenai penafsiran ayat cahaya perspektif sufistik, kini beralih kepada perbincangan penafsiran ayat cahaya perspektif sosial.

Pada kesempatan ini, Rijal Ali dan Nurul Fela Safitri Mubarokah selaku kontributor penulisan buku silih berganti menyampaikan isi buku tafsir ayat cahaya dari perspektif sosial.

Pembacaan Tafsir Ayat Cahaya Perspektif Makarim asy-Syirazi

Rijal sapaan akrabnya mengawali perbincangan ini dengan mengungkapkan bahwa syiah sudah tidak lagi mendapat sentimen negatif dalam penafsiran.

“Dalam dunia Islam, sekte syiah seringkali mendapat sentimen negatif. Seiring berjalannya waktu, syiah sudah tidak lagi mendapat sentimen demikian. Hal ini ditenggarai dalam penafsiran syiah ternyata banyak lahir hikmah dan hal-hal menarik seperti yang banyak dilakukan oleh Syekh Thabathaba’i ataupun Murtadha Muthahari“, ungkapnya.

Lebih lanjut, ia kemudian mengenalkan  Makarim asy-Syirazi yang merupakan mufasir berhaluan syiah dan pengarang kitab al-Amsal fi Tafsir Kitab Allah al-Munzal.

Secara corak, tafsir ini memiliki nuasnsa filosofis santis, meski begitu sang mufasir memberikan penekanan kepada nuansa ijtima’i.

“Beliau melihat bahwa pebafsiran yang ada lebih condong kepada hal-hal teologis sehingga sulit dipahami masyarakat. Untuk itu beliau berusaha membumikan penafsiran itu”, jelasnya.

***

Dalam proses membumikan penafsiran tersebut, melalui tafsir ayat cahaya ini (QS. an-Nur ayat 35) ada 4 poin penting yang dijadikan analogi kepada kaum mukmin.

Pertama, lafal Misykah yang artinya sebagai wadah atau caruk lampu menyala di dinding. Kedua, Zujajah adalah botol lampu yang menyala. Ketiga, Misbah yaitu minyak dan sumbu di atasnya. Keempat, Sajaratin Mubarakatin Zaitunatin yang merupakan simbol energi atau bahan bakarnya.

Baca Juga  Hadis Andalus: Wacana Perkembangan Hadis di Wilayah Periferal Islam

“Jadi, untuk mendapatkan cahaya di hati, seseorang perlu menyalakan iman di hati sebagai suatu penuntun. Lalu botol yang menyala itu adalah hati orang mukmin”, tegasnya.

Dari botol itu ada minyak dan sumbu. Rijal menjelaskan bahwa ada kepribadian yang perlu diisi dengan bahan bakar.

“Minyak dan sumbu itu merupakan kepribadian orang mukmin yaitu segala pengetahuan, keilmuan, pemikiran yang memproteksi dari segala bahaya dan ancaman. Hal itu membutuhkan bahan bakar yaitu wahyu ilahi atau al-Qur’an”, sambungnya.

Dari penjelasan demikian, Makarim asy-Syirazi tidak hanya menjelaskan secara filosofis, tapi dikaitkan langsung secara dekat dengan keimanan orang mukmin.

Pembacaan Tafsir Ayat Cahaya Perspektif Sayyid Qutb

Sementara Nurul, mengeksplorasi penafsiran ayat cahaya dari kitab Tafsir fi Zilal al-Qur’an karya Sayyid Qutb. Menurutnya suatu penafsiran itu tidak lepas dari latar belakang penafsirnya.

“Sayyid Qutb merupakan seorang duta di departemen Amerika. Yang mana Amerika terkenal dengan sains dan teknologinya”, ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa beliau di sana juga terlibat dalam partai politik bernama Ikhwanul Muslimin. Partai ini merupakan partai yang berlandaskan pada asas negara Arab Islam yang dari partai ini beliau memiliki masalah hingga akhirnya masuk penjara. Di penjara ia melanjutkan penulisan tafsirnya yang sempat dilakukan sebelumnya.

Dari sini, Nurul mengakui alasannya tertarik memilih dan mengkaji lebih dalam penafsiran Sayyid Qutb karena lika-likunya dalam menuntaskan kitab tafsirnya.

Secara penulisan tafsir terlihat bahwa Tafsir fi Zilal al-Qur’an meruoakan tafsir yang bercorak modern dan berbuansa santis. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kritikan kepada barat yang kurang dalam hal spiritualitas. Namun tak salah juga jika tafsir ini disebut bernuansa sosial karena usaha Sayyid Qutb dalam proses penulisannya.

Baca Juga  Kemenangan Hakiki di Bulan Ramadan
***

Menurut Nurul, ada dua poin penting dari penafsiran Sayyid Qutb tentang ayat cahaya ini, yaitu pertama, bahwa cahaya Allah itu berlapis-lapis sehingga tidak dapat dilihat dengan mata kepala. kedua, bahwa Allah adalah pemberi cahaya.

“Meski tidak dapat dilihat secara langsung, Allah memberikan gambaran melalui atom supaya manusia dapat mencerna lebih mudah. Atom ini merupakan sebuah petunjuk bahwa atom atau molekul-molekul lain selalu bertopang pada cahaya baik elektron atau proton. Tidak ada molekul yang tidak bertopang pada cahaya”, jelasnya.

Akhir kata, Nurul menyimpulkan bahwa orang-orang beriman boleh mencari cahaya itu sendiri dengan mendalami ilmu lebih dalam. Sebagaimana api yang bersinar dikasih minyak akan lebih bersinar terang.