Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Belajar dari Kisah Bani Quraidah dan Bani Aus: Tafsir Al-Baqarah Ayat 85

Quraidah
Gambar: https://jateng.inews.id/
Contents

Kemampuan Al-Qur’an dalam menceritakan ulang kisah umat-umat terdahulu ataupun memotret peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Yakni dalam deretan panjang ayat-ayatnya yang dapat menjadi wasilah bagi umat muslim. Khususnya, untuk terus memperbaiki kualitas diri. Setidaknya itulah yang dapat dilakukan saat ini. Sebab direkamnya sebuah kisah masa lalu tidak lain dimaksudkan sebagai sebuah kisi-kisi. Agar kesalahan yang terjadi saat itu tidak terulang kembali di masa yang akan datang.

Lebih lanjut, dalam hal ini Yahudi menjadi salah satu umat yang kisahnya banyak ditemukan di dalam tumpukan ayat-ayat al-Quran. Dengan beragam ibrah yang dapat dikontekstualisasikan baik itu untuk memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama manusia ataupun vertikal dengan Tuhan. Adapun salah satu ayat yang akan disinggung di sini melalui kacamata tafsir ialah QS. Al-Baqarah ayat 85 yang menampilkan kisah umat Yahudi secara menarik.

***

Lantas apanya yang menarik? Pertanyaan yang berbau skeptis ini seringkali dilontarkan begitu saja. Utamanya jika kisah-kisah dalam al-Quran mulai didiskusikan atau diangkat kembali dan di sisi yang lain. Seolah-olah kisah yang dipotret dalam al-Quran itu membosankan alias tidak kekinian banget.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab tafsirnya Marāh Labīd memberikan penjelasan yang luar biasa mengenai ayat tersebut. Terlebih mengapa nantinya umat Yahudi di hari kiamat akan diberikan azab yang pedih, wa yauma al-qiyāmah yuraddūna ilā asyadd al-‘adzāb. Dalam penjelasan berikutnya, Imam al-Su’ud – sebagaimana yang dikutip Imam Nawawi dalam tafsirnya itu – menyebutkan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena bani Isra’il telah melanggar sumpah mereka kepada Allah. Yakni untuk tidak saling membunuh di antara mereka (berperang) dan mengusir (yang kalah) dari tanah tempat tinggalnya.

Baca Juga  Tafsir Q.S An-Nisa Ayat 29: Kehalalan Aplikasi Penghasil Uang

Kisah yang tertuang dalam kitab Marāh Labīd ketika menafsirkan QS Al-Baqarah: 85 itu ialah menyinggung empat kabilah Yahudi yang pada dasarnya merupakan saudara. Wa kāna Quraidah wa al-Nadzir akhwaini ka al-Aus wa al-Khazraj. Namun, walaupun Bani Quraidah dan Nadzir merupakan saudara layaknya Bani Aus dan Khazraj. Mereka dalam satu kondisi saling berlomba membuat paksi satu sama lain. Untuk menghancurkan saudaranya dan mengusir mereka yang kalah dari tanah tempat tinggalnya.

Anehnya, dalam petempuran antara faksi itu – Bani Quraidah berkongsi dengan Bani Aus dan Bani Nadzir berkongsi dengan Bani Khazraj – salah satu saudara tetap akan menebus saudaranya yang tertawan. Misalnya adalah salah seorang Bani Nadzir yang tertawan oleh Bani Aus itu tetap ditebus oleh Bani Quraidah. Justru bukan koalisinya yaitu Bani Khazraj.

Hal ini menarik. Sebab mereka menunjukan dua sikap yang bertentangan. Di satu sisi, mereka berbuat baik kepada saudaranya dengan melakukan mufādāh. Yakni tebusan apabila ada yang tertawan dan di sisi yang lain mereka justru saling berperang dan menjatuhkan antara satu sama lain.

***

Berdasarkan kisah itu, Syekh Nawawi menafsirkan potongan QS. Al-Baqarah: 85 yang berbunyi, afatukminūna bi ba’di al-kitāb wa takfurūna bi ba’d dengan memperinci sifat atau karakteristik dari umat Yahudi. Yakni mereka di satu sisi dapat menaati perintah Tuhan, mufādāh dan di sisi yang lain justru mengkufuri perintah Tuhan dengan saling berperang.

Dalam potongan ayat berikutnya, famā jazā’ man yaf’alu dālika minkum illā khizyun fii al-hayah wa yauma al-qiyamah yuraddūna ilā asyadd al-‘adzab wa mallahu bi ghāfilin ‘ammā ta’malūn, Allah merespon prilaku tersebut dengan menegaskan adanya balasan yang setimpal, baik itu balasan di dunia ataupun balasan di akhirat kelak.

Baca Juga  Lingkungan Hidup dalam Perspektif Al-Qur'an

Adapun mengenai balasan di dunia, Imam Nawawi menafsirkan potongan ayat tersebut dengan menampilkan kisah bagaimana Bani Quraidah mengalami kerugian dengan terbunuhnya 700 orang dari golongannya dalam satu hari. Sedangkan balasan bagi Bani Nadzir di dunia ialah dengan diusirnya mereka dari tempat tinggalnya ke daerah Syam.

Bahkan apesnya, Bani Nadzir yang terusir ke Syam dan Bani Quraidah yang tersisa dan memilih untuk tinggal di sekitaran Khaibar juga diharuskan membayarkan upeti di sana. Adapun balasan mereka di akhirat kelak adalah neraka Jahannam karena maksiat mereka kepada Allah termasuk asyadd al-ma’āsiy.

Pun demikian, karena kisah umat terdahulu tidak berhenti saat itu juga dan tidak dikhususkan kepada mereka saja. Maka kita sebagai umat muslim idealnya mengambil berbagai pelajaran untuk memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia di dunia begitupun hubungan vertikal kita dengan Tuhan.

Adapun pelajaran yang dapat diambil dari kisah tersebut antara lain adalah kita tidak boleh saling menjatuhkan dan memerangi saudara kita. Baik itu saudara seiman ataupun saudara sebangsa dan setanah air. Karena itu tentu saja akan memberikan dampak buruk yang bertingkat di dunia layaknya perseteruan Bani Quraidah dan Nadzir. Sudah mati terbunuh, terusir dari kampung halamannya, dan membayar upeti pula. Tentu saja nantinya, balasan di akhirat juga menanti karena melanggar perintah Allah. Wallahu a’lam.

Penyuting: Bukhari