Sesungguhnya hukum yang ada di alam semesta ini merupakan ciptaan dari Sang Pencipta alam semesta, yakni Allah Swt. Sang pemilik kekuatan mutlak dan kekuasaan yang tak terbatas dalam mempertahankan atau mengubah hukum tersebut. Menciptakan air dari ketiadaan yang mutlak dan kemudian membuatnya memancar dari jari seorang manusia merupakan hal yang mustahil di luar nalar manusia.
Namun dalam hal ini tidak berlaku bagi Allah yang mampu menjadikan hal di atas sebagai mukjizat kepada utusan-Nya. Yakni baginda Nabi Muhammad Saw.
Dalam kasus ini, pikiran sehat yang akan membawa kepada keimanan terhadap Allah Sang Pemilik kekuatan mutlak. Karena seorang yang memiliki akal sehat dan beriman kepada Allah tidak akan pernah menolak kemungkinan terjadinya peristiwa luar biasa ini. Mereka percaya bahwa hukum-hukum alamiah dan segala aturan yang ada pada alam semesta ini tunduk pada kehendak Allah. Jika Allah berkehendak hanya perlu berkata kun fayakun, jadi maka jadilah.
***
Musthafa Muslim dalam kitabnya Mabahits fii I’jaaz al-Qur’an menyebutkan bahwa tidak ada orang yang menyangkal terkait terjadinya peristiwa luar biasa ini yang dialami oleh para nabi dan rasul kecuali dua golongan, yakni:
Pertama, orang kafir yang menyangkal segala sesuatu yang tak bisa dirasakan oleh panca indera, dan orang ini ialah orang yang kafir terhadap hal yang gaib. Ia mengatakan bahwa kita hanya hidup dan mati, yang menghancurkan kita hanya waktu. Orang seperti ini memerlukan proses pemikiran yang mendalam untuk beriman kepada pencipta alam semesta, kehidupan, dan manusia.
Kedua, oang yang percaya kepada Tuhan yang tidak mampu mengendalikan alam semesta dan mahluk sesuai kehendaknya, yakni orang ini ialah yang menyembah kepada berhala. Golongan ini selalu didorong oleh hawa nafsu dan keinginan mereka. Mereka masih membutuhkan pemahaman tentang esensi ketuhanan yang sejati dan sifat kesempurnaan tuhan yang mutlak, dan menjauhi pemikiran tentang kekurangan dan ketidakmampuan Tuhan yang mana hal ini tidak pantas menjadi karakteristik ilahi.
Pengaruh materialis dari filsuf itu, menurut Musthafa Muslim, mempengaruhi ilmuan muslim kontemporer, dimana orang-orang tersebut berusaha untuk menjelaskan mukjizat secara materialis yang menganut kepada sebab-sebab dan hukum alam. Hal ini mengakibatkan tereduksinya makna dari suatu mukjizat dan menghambat indikasi kebenaran dan keistimewaan untuk membuktikan kebenaran seorang rasul dalam menyampaikan pesan dan menerima wahyu dari yang Maha Tinggi.
Musthafa Muslim menyebutkan dalam kitabnya, bahwa para filsuf menafsirkan mukjizat dengan sangat materialis. Seperti contoh terjadinya laut terbelah oleh Musa AS merupakan kejadian pasang surut laut biasa, dan peristiwa burung ababil sebagai kawanan bakteri dan wabah penyakit menular. Pemikiran seperti ini merusak pokok keimanan kepada hal yang gaib dan kepada Sang Pencipta. Mereka juga merusak pemikiran serta iman mereka.
***
Namun dalam hal ini, Musthafa Muslim menyangkal dengan argumen bahwa logika tidak dapat menghalangi terjadinya suatu peristiwa luar biasa yang dialami oleh orang yang memiliki hubungan khusus dengan Allah sang pemilik kekuasaan yang tak terbatas. Karena orang yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan agama-Nya akan selalu dipermudah dan senantiasa didukung. Terutama dengan argumen dan bukti yang memperlihatkan keunggulan mereka terhadap lawan yang menentang mereka.
Mukjizat bukanlah tentang menunjukkan kelemahan manusia. Melainkan mengaitkan kelemahan itu dengan kebenaran. Mukjizat Al-Qur’an menegaskan bahwa segala ajaran berasal dari Sang Pencipta, bahwa rasul adalah utusan-Nya yang membawa pesan-Nya. Serta bahwa petunjuk yang diberikan adalah jalan keselamatan. Intinya, mukjizat menegaskan kebenaran klaim kenabian dan hubungan keterkaitannya dengan Allah sebagai sumber segala ajaran.
Hal yang sama juga terjadi kepada nabi dan rasul sebelumnya yang mengalami kejadian luar biasa. Mukjizat ialah bukti kejujuran yang terwujud dari para nabi dan rasul. Agar orang percaya pada mereka dan mengikuti semua petunjuk mereka. Karena tugas kenabian seorang nabi tidak sah tanpa adanya bukti atau dukungan berupa tanda. Dia jadi tidak dapat dibedakan dari seorang pembohong hanya dari penampilannya, perkataannya, atau hal lainnya. Kecuali bukti yang terlihat melalui tangan mereka yang kemudian menjadi bukti kejujurannya. Mereka adalah utusan Allah yang diwahyukan kepada-Nya.
Penunjukan Allah atas mukjizat pada saat itu adalah pengakuan-Nya terhadap klaim tersebut. Tidak mungkin bagi Allah untuk mendukung seorang pembohong. Karena mendukung seorang pembohong berarti membenarkan, dan membenarkan seorang pembohong adalah kebohongan. Itu tidak mungkin bagi Allah.
***
Jadi, ketika mukjizat terjadi dan itu diluar kemampuan manusia, dan ketika perbandingannya dengan klaim kenabian, maka dengan pasti diketahui bahwa Allah hanya menampilkan mukjizat sebagai dukungan bagi orang yang muncul di tangan-Nya. Meskipun pengetahuan ini dapat dibandingkan dengan penolakan yang keras kepala.
Hal ini sejalan dengan ayat 79-80 surah Ali ‘Imran yang artinya: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam? Q.S. Ali ‘Imran [3]: 79-80”
Dengan begitu, ayat ini mengajarkan bahwa diraihnya ilmu dan berlangsungnya ta’lim dan pengajaran mengharuskan setiap orang menjadi “insan robbani”. Maka barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan hal itu tetapi tidak dengan maksud untuk meraih gelar itu maka segala usaha dan upaya yang ia keluarkan akan sia-sia, dan akan berakhir dengan kerugian dan celaka.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply