Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bagaimana Cara Islam Mengajarkan Sikap Toleran?

Sesembahan
Sumber: istockphoto.com

Hari selasa 16 November 2021 bertepatan dengan hari Toleransi Internasional beberapa hari lalu. Sejak ditetapkannya sebagai hari besar internasional oleh UNESCO pada 16 November 1995, kampanye untuk bersikap toleransi terus digaungkan. Tak lain visi utama dalam program ini ialah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang sikap toleran.

Islam sendiri sebagai rahmatan lil alamin pun telah mengatur para penganutnya agar selalu bersikap toleran. Tidak semata menjadi slogan, tetapi diaplikasikan dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari kehidupan bermasyarakat hingga menjadi sebuah peradaban.

Islam menyeru kepada seluruh manusia untuk berta’aruf.

Saling mengenal, tidak hanya secara zahir tetapi juga mengenai latar belakang keluarga, pendidikan, budaya, agama, pemikiran, suku dan cita-cita sesama manusia. Dengan saling mengenal manusia dapat hidup berdampingan dengan damai, toleran dan tenteram.

Seruan ini tertuang jelas dalam Alquran surah Al Hujurat [49] ayat 13. Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

As Sa’di menafsirkan, “Allah memberitahukan bahwa Dia menciptakan anak cucu Adam dari asal usul dan diri yang satu, semua keturunan Adam berasal dari lelaki dan perempuan yang silsilah semuanya merujuk pada Adam dan Hawa. Allah mengembangbiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak.

Mereka kemudian disebar dan dijadikan “berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,” yakni suku-suku nyang besar dan kecil. Yang demikian itu bertujuan agar saling mengenal satu sama lain, sebab andai masing-masing orang menyendiri, tentu tidak akan tercapai tujuan saling mengenal satu sama lain yang bisa menimbulkan saling tolong menolong, bahu-membahu, saling mewarisi satu sama lain serta menunaikan hak-hak kerabat.

Adanya manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bertujuan agar berbagai hal positif tersebut bisa terwujud yang bergantung pada proses saling mengenal satu sama lain serta pemaduan nasab. Namun, ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa.

Baca Juga  Tafsir Q.S. Al-Mu’minun Ayat 27: Hikmah Peristiwa Banjir Nabi Nuh

Orang yang paling mulia di antara sesama adalah yang paling bertakwa kepada Allah, paling banyak melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan, bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang keturunannya paling terpandang (karena status sosial).

Islam menyeru untuk berta’awun khususnya sesama kaum muslimin.

Yakni saling tolong-menolong dalam kebaikan. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang kuat menolong orang yang lemah, yang berkecukupan menolong yang membutuhkan, dan yang mempunyai kelebihan menolong yang tengah kekurangan. Dengan begitu umat manusia dapat hidup sejahtera.

Seruan ini termaktub dalam Alquran surah Al Maidah [5] ayat 2. Allah berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Masyarakat yang terbiasa berta’awun akan melahirkan satu nilai bahwasanya berbuat kebaikan dan toleran berlaku kepada siapa pun tanpa pandang bulu. Termasuk kepada yang berbeda agama dan keyakinan, bahkan terhadap kaum kafir dan pihak yang memusuhi sekalipun. Sebaliknya berbuat baik dan bekerjasama dalam hal segala keburukan dengan dalih apa pun tidak boleh diwujudkan kepada siapa pun juga. Entah dia sebangsa, seagama bahkan sekeluarga.

Islam juga menganjurkan untuk bertakaful

Takaful berarti saling memberikan jaminan, yaitu memberikan jaminan dalam hal keselamatan jiwa, harta, dan agama di antara manusia. Jaminan tersebut harus diwujudkan agar timbul rasa aman bagi semua masyarakat. Akhirnya lenyaplah rasa saling curiga dan saling hina satu sama lain. Dengan demikian hal itu dapat mengikis rasa khawatir masyarakat dalam menghadapi hidup karena adanya jaminan.

Takaful sesama muslim tergambar dalam momen ketika turun perintah agar orang-orang Makkah hijrah ke Madinah. Tanpa membawa harta sedikit pun, juga tanpa kerabat dan hubungan darah, mereka akhirnya dipersaudarakan dengan orang-orang Anshar oleh Rasulullah. Bahkan salah seorang Anshar rela memberikan separuh hartanya dan menceraikan salah satu istrinya untuk diserahkan.

Baca Juga  Meneguhkan Kembali Konsep Akal dan Manfaatnya Menurut Islam

Adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Radhiyallahu anhuma. Sa’ad berkata kepada ‘Abdurrahman, “Aku adalah kaum Anshâr yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa ‘iddahnya, engkau bisa menikahinya.”

Mendengar pernyataan saudaranya itu, ‘Abdurrahman menjawab, “Aku tidak membutuhkan hal itu. Aku hanya ingin tahu adakah pasar (di sekitar sini) tempat berjual-beli?” Lalu Sa’ad menunjukkan pasar Qainuqa’. Mulai saat itu, ‘Abdurrahman sering pergi ke pasar untuk berniaga, sampai akhirnya ia berkecukupan dan tidak memerlukan lagi bantuan dari saudaranya.”

Tak sampai di situ, takaful kepada non muslim pernah terjadi tatkala peristiwa Fathu Makkah. Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh, seorang kafir yang murtad dari Islam. Ia murtad dan bergabung bersama orang-orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Hingga kaum muslimin menaklukkan kota Makkah, Rasululullah lalu memerintahkan untuk membunuhnya.

Mendengar kabar itu, Utsman bin Affan bergegas mendatangi Nabi dan menyatakan memberikan jaminan perlindungan Abdullah, yang memiliki hubungan susuan dengannya. Maka Rasululullah pun menjamin keamanannya. Maka siapa pun tak boleh melukai apalagi membunuhnya.

Guru SMP IT Wihdatul Ummah Takalar :: Penulis Buku Kun Al Fatih (2017) & Falyaqul Khairan (2018) :: Pengurus FLP Cabang Gowa :: IG @budiman_almakassary