Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Sikap Toleransi Tidak Hanya Kepada Sesama Muslim Saja!

Sumber: http://www.lespimous.com/

Sikap toleransi sangat penting untuk menjaga bangsa agar tetap satu. Tolerasi berfungsi untuk menyatukan kemajemukan dan perbedaan agar tidak terjadi perpecahan di antara manusia satu dengan yang lainnya. Bangsa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemajemukan yang tinggi. Sikap toleransi dibutuhkan untuk mewujudkan perbedaan suku, budaya, ras, dan golongan. Karena Allah Swt menciptakan manusia berbeda bangsa, suku atau golongan tidak lain unuk saling toleran dan mengenal satu sama lain.

Setiap manusia harus saling memahami dan mengerti arti perbedaan. Akan tetapi, fenomena yang terjadi akhir-akhir ini membuktikan adanya gejolak sosial yang timbul akibat kurangnya sikap toleransi antar umat beragama. Toleransi harus dikaji secara mendalam karena merupakan suatu keniscayaan sosial bagi seluruh umat beragama serta jalan bagi terciptanya kerukunan antarumat beragama.

Toleransi dalam Islam

Dalam Islam, toleransi berkaitan dengan kebebasan beragama, seperti tidak main hakim sendiri kepada kaum kafir. Menurut Imam Malik, orang dengan perbuatan dan penyataan yang mengarah kepada kekufuran tapi masih menyisakan keimanan walau dari satu arah, maka orang itu disebut sebagai orang beriman. Islam juga menyebutkan bahwa toleransi disebut sebagai tasamuh atau kemudahan. Kata tasamuh dapat diartikan bahwa agama Islam akan memberikan kemudahan bagi siapapun yang telah menjalankan apa yang ia yakini tanpa adanya tekanan atau tidak mengusik kepercayaan yang sudah dijalani orang lain.

Rasulullah Saw.  mencontohkan umatnya untuk memiliki sikap toleransi. Beberapa hadist menceritakan sikap Rasulullah Saw. saat beliau melakukan kunjungan kepada orang yahudi yang sakit, bersedekah kepada tetangganya yang kafir, makan dirumah orang kafir, dan yang lainnya. Dalam sejarah Islam, sikap toleransi telah digambarkan pada Perang Salib yang ditulis oleh sejarawan Inggris, Karen Armstrong. Amstrong menuliskan bagaimana akhlak seorang khalifah ketiga Umar bin Khattab dalam penaklukkan Jerussalem. Potongan tulisan yang diambil, yaitu:

Baca Juga  Benarkah Tidur dalam Islam Itu Bisa Mendapatkan Pahala?

Umar mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dibandingkan dengan semua penakluk Jerussalem lainnya, ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atau mengambil alihan dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerussalem memeluk Islam”.

Toleransi Rahmatan Lil ‘Alamin

Ajaran agama Islam tentang rasa persaudaraan adalah yang terpenting dalam Islam, tidak memandang agama, suku, ras, atau hal lain. Persaudaraan dalam Islam dapat dibagi menjadi empat, yaitu Ukhuwah Ubudiyah (saudara sesama mahkluk dan ketundukan kepada Allah), Ukhuwah Insaniyah (semua manusia adalah bersaudara karena semua manusia sama), Ukhuwah Wafhaniyah Wannasab (persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan), dan Ukhuwah Fid-din Al-Islam (persaudaraan sesama Muslim).

Sikap toleransi tidak hanya berlaku terhadap orang lain saja, tapi juga kepada diri sendiri. Sikap toleransi harus dimulai pada diri sendiri. Rasulullah Saw. mengingatkan kita akan satu hal, yaitu:  “sesungguhnya  tubuhmu punya hak (untuk kamu istirahtkan) matamu punya hak (untuk dipejamkan) dan istrimu juga punya hak (untuk dinafkahkan)”. (HR. Bukhori).

Secara doktrinal, toleransi diharuskan oleh Islam. Secara definisi, Islam berarti agama yang damai, selamat, dan menyerahkan diri. Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin atau agama yang mengayomi seluruh alam. Karena agama Islam selalu menawarkan dialog serta toleransi dalam bentuk saling menghormati, bukan memaksa. Islam juga menyadari bahwa keragaman uman manusia dalam beragama adalah kehendak Allah Swt.

Di dalan Islam, toleransi berlaku bagi siapapun, baik sesama Muslim maupun non-Muslim. Dalam buku yang berjudul “Ghoir Al-Muslim Fil Mujtama”, Yusuf Qordhowi menyebutkan ada empat faktor utama penyebab toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat Islam terhadap non-Muslim, yaitu:

  1. Keyakinan bahwa manusia itu hakikat penciptaannya merupakan mahkluk paling mulia dari makhluk lain, apapun agama, ras, dan bangsanya.
  2. Adanya perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas yang dikehendaki Allah Swt. yang telah memberi kebebasan untuk memilih antara iman dan kufur.
  3. Seorang Muslim tidak dituntut untuk mengadili dan menghakimi kekafiran non-Muslim. Hanya Allah Swt. yang boleh menghakiminya di akhirat nanti.
  4. Keyakinan bahwa Allah Swt. memerintahkan untuk berbuat adil serta mengajak kepada budi pekerti yang baik, bahkan kepada orang musyrik sekalipun. Allah Swt. mencela perbuatan dzholim meskipun terhadap kafir.
Baca Juga  Nikah Wisata Perspektif Tafsir Al-Qur'an

***

Kepada mereka yang berbeda agama dan keyakinan, Al-Qur’an telah menetapkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama (Qs. Al-Baqarah : 256).

ِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

256.  Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut79) dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Hal ini memiliki arti bahwa kebebasan beragama merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak-hak manusia yang sangat mendasar. Maka itu penting bagi bangsa Indonesia untuk selalu menumbuhkan sikap toleransi untuk memperkuat persaudaraan antarumat.

Penyunting: An-Najmi