Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Urgensi Teologi Optimisme dalam Meraih Masa Depan

Teologi Optimisme
Gambar: republika.co.id

Teologi optimisme dalam konteks keindonesiaan pertama sekali diluncurkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir ketika memberikan taushiyah dalam menghadapi pandemi covid-19. Guru Besar Sosiologi ini mendasarkan teologi optimisme kepada al-Qur’an surah al-Inshirah. Karena itu, teologi optimisme ini juga disebut teologi al-Inshirah.

Teologi al-Inshirah merupakan lanjutan dari dua teologi sebelumnya yang dikembangkan oleh Muhammadiyah, yaitu: teologi al-Maun dan teologi al-‘Ashr. Dua teologi sebelumnya fokus kepada kerja kemasyakaratan dan manajemen waktu. Teologi al-Inshirah menegaskan bahwa kerja sosial dan manajemen waktu membutuhkan sikap lanjutan. Yakni selalu optimis terhadap niat baik, kerja kebajikan, dan warisan kebajikan.

Definisi Optimisme

Dalam bahasa Arab kata optimis diambil dari kata abshara. Dalam kamus Lisanu al-‘Arab lafal tersebut diartikan bahagia, gembira, senang, riang, girang, dan kebahagiaan yang bersifat baik. Selain itu, optimis yang dinisbahkan pada lafal tersebut bermakna ‘berjumpa dengan siapapun dengan wajah bahagia atau sumringah’. Sedangkan, dalam kamus al-Muhit lafal tersebut dimaknai bahagia, senang, gembira, digembirakan, mengembirakan, dan membahagiakan. Dengan demikian, orang yang optimis adalah orang yang selalu bahagia, bergembira dan menggembirakan. Dia selalu memiliki energi dan aura positif untuk lingkungannya. Orang yang selalu menebar semangat untuk dirinya dan juga orang sekitarnya.

Sabar dan Taqwa: Basis Teologi Optimisme

Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali dan Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi menisbahkan pemaknaan teologi optimisme pada lafal sabar dan taqwa. Al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulum al-Din memandang kesabaran sebagai separuh dari keimanan. Sabar merupakan sifat yang diwujudkan oleh seseorang dalam berproses meninggalkan segala hal yang mengarah pada keburukan serta melanggar syari’at Islam. Pewujudan sifat sabar seperti ini dapat menjadi energi positif bagi seseorang dalam mengarungi kehidupannya.

Baca Juga  Interupsi Al-Qur’an atas Korupsi: Refleksi Al-Baqarah Ayat 188

Sedangkan makna taqwa menurut al-Ghazali adalah ridha terhadap pemberian Allah meskipun sedikit. Sikap takwa seperti ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mengelola dirinya dengan baik. Dia dapat menempatkan dirinya dan perasaannya pada situasi apapun dengan baik. Inilah optimisme.

Ibn ‘Arabi menegaskan optimisme dikaitkan dengan kesabaran dalam makna menghadapi sesuatu yang menyenangkan atau yang menggembirakan. Dengan tujuan agar tidak merusak akhlak dan iman. Ibn ‘Arabi menekankan pentingnya makna sabar dalam menghadapi kesulitan atau cobaan. Setiap langkah kita dalam menghadapi ujian atau cobaan selalu dipantau oleh Allah. Pantauan Allah ini sekaligus evaluasi seberapa sabar seseorang dalam menghadapi cobaan dan ujian dari-Nya.

Pandangan dua cendekiawan tersebut terkait sabar dan taqwa, menurut penulis, dapat dijadikan sebagai landasan teologi optimisme. Karena dengan kesabaran dan ketaqwaan, seseorang dapat mengarungi masalah yang dihadapinya dengan tetap bersemangat tanpa putus asa. Sebab dia yakin Allah akan selalu membersamainya, menolongnya, dan memberinya kesempatan sukses dan bahagia di masa mendatang.

Fondasi Meraih Sukses di Masa Depan

Dalam setiap langkah dan usaha yang kita lakukan untuk mengapai cita-cita yang kita inginkan sejak kecil serta masa depan yang cerah pasti ada halangan dan rintangan yang menghadang. Dalam pada itu, setiap muslim diberikan panduan oleh Allah Swt., dalam usahanya menggapai cita-cita tersebut. Panduan tersebut adalah ikhtiar dengan maksimal, do’a dan tawakkal dengan penuh harap hanya kepada Allah Swt.

Dalam melaksanakan panduan ini, setiap muslim diperintahkan juga harus tetap berpegang teguh dengan niat awal ketika memilih sesuatu yang sebagai kebajikan, dan fokus kepada tujuan yang telah disematkan dalam hati.

Sifat dan sikap optimis merupakan sifat dan sikap yang dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan di masa depan. Dalam mempraktekkannya hal penting yang perlu dilakukan seseorang adalah mampu memanage dirinya agar dapat bekerjasama dengan kehidupan yang dijalaninya. Selanjutnya mengendalikan diri terhadap adanya pengaruh yang berasal dari dalam maupun dari luar diri. Pengaruh yang memungkinkannya untuk terhindar dari akibat buruk yang ditimbulkan. Dalam bahasa al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi, orang ini telah menjalani kesabaran dan ketaqwaan maksimal.

Baca Juga  Resiliensi: Seni Bertumbuh Bersama Ujian

Kebanyakan anak di usia remaja sangat mudah mengalami peralihan pemikiran hanya karena beberapa masalah yang cukup sepele. Kemudian dengan hadirnya berbagai masalah yang dialami dari lingkungan tempat berinteraksinya itu dapat mempengaruhi semangat yang awalnya membara bagaikan kobaran api menjadi krupuk yang tersiram oleh percikan air.

Harus Selalu Optimis

Seharusnya, justru dengan masalah yang dihadapi, seseorang semakin kuat mentalnya, semakin banyak belajar bagaimana caranya mengatasi masalah yang dihadapinya itu. Hal yang penting adalah berusaha terus untuk bersikap optimis bahwa kita mampu mengatasi masalah yang kita hadapi, serta yakin Allah akan selalu memberi pertolongan kepada hamba-Nya yang selalu sabar, bertakwa dan penuh harap terhadap rahmat-Nya.

Sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Inshirah: 5-6 bahwa sungguh setiap kesulitan pasti dibersamai dengan kemudahan. Serta seperti disebutkan dalam QS. al-Baqarah: 286, bahwa Allah yang Maha Mengetahui tidak mungkin memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya. Wallahu a’lam

Penyunting: Bukhari

Penulis adalah Mahasiswi STIQSI Lamongan, Anggota Epistemic Community of STIQSI (ECOMS) dan Guru Abdi di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan.