Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kontroversi Puisisasi Al-Qur’an Bacaan Mulia karya H.B. Jassin

Sumber: https://statik.tempo.co/

Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci umat Islam yang diimani serta menjadi petunjuk dan pedoman hidup. Agar dapat menjadi petunjuk dan pedoman ia perlu dipahami. Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bacaan bahasa Arab dan diperuntukkan untuk semua umat Islam. Baik yang berbahasa Arab ataupun tidak, maka secara tidak langsung terjemahan Al-Qur’an dibutuhkan umat Islam yang non-Arab—di samping tafsir—agar dapat mudah memahami wahyu termasuk dalam bahasa Indonesia.

Salah satu karya terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia berjudul Al-Qur’an Bacaan Mulia karya H.B. Jassin yang memiliki kekhasan tersendiri yakni disusun dalam bentuk puisi. Karya ini cukup menuai kontroversi di masa awal kemunculannya dan mengundang berbagai reaksi di beberapa kalangan seperti MUI dan Departemen Agama.

H.B. Jassin Sang Paus

Jassin memiliki nama lengkap Hans Bague Mantu Jassin. Ia lahir dari ayah yang bernama Bague Mantu Jassin dan ibu bernama Habiba Jaudi Gorontalo dari, 31 Juli 1917. Jassin tamat dari Gouvernments H.I.S. Gorontalo 1832 dan melanjutkan ke H.B.S di Medan dan tamat tahun 1939. Delapan belas tahun kemudiantepatnya pada 15 Agustus 1957 ia berhasil menamatkan studinya di Fakultas Sastra UI dan kemudian memperdalam pengetahuan mengenai ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika serikat selama setahun (1958-59). Bahkan almamaternya pada 1979 merasa perlu menganugerahinya gelar Doktor HonorisCausa.

Predikat Paus Sastra diperoleh Jassin dalam dunia kesusastraan Indonesia tak lain karena keistimewaan kemampuannya sebagai; seorang kritikus dokumentator, pengajar, penulis, penerjemah serta kemampuan-kemampuan lain yang dimilikinya sulit dicari bandingannya di Indonesia. Jasanya sebagai dokumentatorsangat membantu pelestarian kekayaan budaya bangsa yang amat bernilai. Kecintaannya terhadap sastra membuatnya dijuluki “Paus” (wali penjaga) sastra Indonesia yang sesungguhny

Baca Juga  Fakhruddin Ar-Razi: Ulama Multiwajah Di Balik Tafsir Mafatihul Ghaib

Jassin juga dikenal teguh dan pemberani dalam mempertahankan idealismenya. Seperti ketika terjadi pertentangan antara Lekra dan Manifest. Lekra yang saat itu didukung penuh pemerintah sehingga mendapat kemudahan di berbagai aspek namun berideologi komunis mencoba mengajak Jassin untuk berpindah haluan dan bergabung dengan Lekra dan tentu saja Jassin menolak. Begitu juga ketika Tenggelamnya Kapal Van der Wijck Hamka dituduh sebagai karya plagiat, Jassin berada di garda terdepan membela Hamka. Apalagi ketika kontroversi cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin, Jassin membela habis-habisan sampai dijebloskan ke penjara.

Begitu juga dengan proyek Al-Qur’an Bacaan Mulia dan Al-Qur’an Berwajah Puisi, Jassin menyatakan ia siap dipenjara untuk mempertahankan proyeknya tersebut apabila tindakan itu diperlukan.

Tentang Al-Qur’an Bacaan Mulia

Jassin mengakui sendiri bahwa dia tidak pernah mendapatkan pelajaran khusus membaca Al-Qur’an. Hanya sering mendengar dari neneknya waktu kecil sehingga merasa akrab dengan bunyi-bunyian ayat-ayat Al-Qur’an.Ketika kuliah Jassin mempelajari bahasa Arab juga karena diwajibkan Fakultas Sastra UI saat itu.

Kesadaran keberagamaan Jassin bangkit ketika istri pertamanya meninggal pada tahun 1963. Di rumahnya dibacakan Al-Qur’an selama tujuh hari berturut-turut sebagai tradisi mengirimkan bacaan Al-Qur’an kepada yang sudah meninggal. Jassin kemudian berpikir mengapa ia tidak mengirim sendiri bacaan Al-Qur’an kepada istrinya. Mulailah Jassin membaca Al-Qur’andan sejak saat itu karena menemukan nikmatnya membaca Al-Qur’an Jassin selalu menyempatkan diri setiap hari membaca Al-Qur’ansetidaknya satu dua baris.

Setelah berjalan selama 10 tahun Jassin tergerak menerjemahkan Al-Qur’an secara puitis dan kebetulan pada saat itu ia mendapat undangan ke Belanda. Jassin mendapatkan ide menerjemahkan Al-Qur’anketika membaca terjemahan Al-Qur’an karya Abdullah Yusuf Ali, The Holy Quran, yang ia dapatkan dari pemberian kawannya. Ia mulai memikirkan bagaimana jadinya jika terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia disusun dalam bentuk puitis.

Baca Juga  Konsep Keadilan Tuhan Menurut Tafsir Syi'ah dan Mu'tazilah

Karya terjemahannya diberi nama Alquran Bacaan Mulia dan dicetak sebanyak tiga kali. Cetakan pertama pada 1987 sebanyak 10.000 eksemplar oleh penerbit Djembatan. Cetakan kedua, beralih ke penerbit lain danbertepatan dengan HUT-nya, 31 Juli 1988, dicetak sebanyak 35.000 eksemplar. Untuk cetakan ketiga, 1991, Jassin kembali lagi ke penerbit Djembatan.

Penulisan Alquran Bacaan Mulia cukup unik,awal halamannya dimulai dari kiri ke kanan layaknya buku biasa. Meskipun penyusunan suratnya menggunakan tartib mushaf Usmani tetapi penyajian ayat dan terjemahannya yang tergolong beda dengan yang lain walaupun layoutnya mirip pada terjemahan Al-Qur’an pada umumnya. Yang membedakan Al-Qur’an bacaan Mulia dengan terjemahan lain adalah pemenggalan redaksi terjemahan yang diformulasikan oleh Jassin sendiri menjadi bentuk yang lebih puitis.

Kontroversi Al-Qur’an Bacaan Mulia

Langkah yang dilakukan Jassin dalam menerjemahkan Al-Qur’an merupakan terobosan yang sangat baru, terutama di Indonesia sendiri. Meskipun Hamka dalam sambutannya mendukung penuh apa yang dilakukan Jassin merupakan tindakan revolusioner yang timbul dari kecerdasan Jassin tetapi tetap saja ada pihak yang kurang setuju atas tindakan H.B Jassin.

Oemar Bakry merupakan salah satu tokoh yang mengkritik tindakan H.B Jassin. Dalam harian Kompas, 19 Oktober 1978, Bakry menganggap Jassin tidak menjunjung kesucian Al-Qur’an dan isinya menyimpang jauh dari maksud ayat-ayat kitab suci. Bahkan dengan pedas Bakry menyalahkan judulnya, harusnya “Al-Qur’an Karim Wahyu Illahi.” Judul yang diberikan Jassin menurutnya menurunkan martabat Al-Qur’an sama dengan buku-buku lainnya.

Ihwal redaksi terjemahannya Jassin juga mendapat kritik dari Oemar Bakry dan Departemen Agama sebab Jassin tidak memiliki pengetahuan yang mendalam terkait qawaid tafsir dan ilmu-ilmu pendukungnya.Contohnya terjemahan Q.S. Al-Baqarah ayat 3:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

Baca Juga  Rezeki Mengalir: Anjuran JanganTidur Setelah Sholat Shubuh

“(Yaitu) mereka beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kepadanya Kami berikan”

Bakry menganalisa terjemahan mengenai “mereka beriman kepada yang gaib…” dengan memahaminya bahwa yang dapat menjadi petunjuk kepada orang yang bertakwa, walaupun tidak beriman kepada yang gaib, dan seterusnya, dan sebaliknya kepada orang yang mempercayai saja adanya hari kiamat, walaupun tidak bertakwa kepada Tuhan. Menurutnya, isi ayat tersebut dipecah oleh Jassin karena kekeliruannya yang disebabkan kurang penguasaannya terhadap bahasa Arab.

Memang tidak ada riwayat Jassin mendalami ilmu-ilmu terkait Al-Qur’an dan tafsir. Maka dari itu Jassin pantas diragukan kapasitasnya sebagai penerjemah Al-Qur’an. Ketika menerjemahkan, menurut pengakuan Jassin, ia mengacu pada terjemahan Depag. Kemudian jika dirasa ada diksi yang kurang tepat bagi dia barulah Jassin merubahnya.

Penutup

 Al-Qur’an Bacaan Mulia terlepas dari persoalan Jassin tidak memiliki kapasitas sebagai mufassir menurut penulis merupakan karya yang luar biasa. Ketika membaca ABM banyak dari mereka yang merasa mudah meresapi makna Al-Qur’an. Ini merupakan hasil kerja keras Jassin sebagai seorang muslim dan sastrawan dalam mengontemplasi makna Al-Qur’an dalam waktu yang lama baru menuliskannya.

Dalam hal ini penulis setuju dengan Fadli Lukman dalam artikelnya “Epistemologi Intuitif dalam Resepsi Estetis H.B. Jassin terhadap Al-Qur’an” yang menyatakan bahwa ABM merupakan hasil pengetahuan intuitif (berasal dari Tuhan) yang oleh al-Jabiri dinamakan pengetahuan irfani.Maka tak heran banyak pembaca tergerak hatinya ketika membaca ABM.

Terjemahan ABM ini hemat penulis belum bisa dikategorikan sebagai karya tafsir. Ada  pendapat yang menganggap terjemah merupakan salah satu bentuk tafsir. Namun Jassin tidak memenuhi satu pun syarat-syarat menjadi mufassir terlebih menilik kemampuan bahasa Arabnya. Wallahua’lam.

Editor: An-Najmi