Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tingkatan Makna dalam Kajian Al-Quran

tingkatan makna
gambar: umma.id

Berbica tentang semantik, tentu sangat lekat dengan seorang tokoh non-muslim yang berasal dari Jepang, yaitu Toshihiko Isutzu. Ia menawarkan sebuah pendekatan baru untuk memahami suatu konsep kata-kata dalam al-Qur’an. Kajian ini dikenal dengan istilah semantik. Dalam istilah lain, semantik ini termasuk ke dalam bahasan etnolinguistik. Ia mengkaji perkembangan suatu bahasa yang hidup dalam ruang budaya tertenntu.

Kata-kata kunci dalam al-Qur’an seperti Allah, iman, dan kafir bukanlah kata-kata baru yang muncul tiba-tiba. Kata-kata tersebut sebelumnya sudah dipakai di zaman pra Islam. Hanya saja, Islam menggunakan kata tersebut dengan membawa konsep yang berbeda, tetapi tidak menghilangkan makna dasar yang sama dengan konsep sebelum Islam. Itu artinya, al-Qur’an membuat tatanan atau konsep baru dan memperbaharui makna yang sudah ada sebelumnya. Melalui kata-kata tersebut yang terdapat dalam banyak ayat, al-Qur’an membentuk pandangan dunianya sendiri.

Semantik dan Tingkatan Makna Sebuah Kata

Dalam istilah Izutsu perubahan yang demikian dapat dibedakan menjadi makna dasar dan makna relasional. Tingkatan yang pertama, makna dasar merupakan makna yang akan selalu melekat pada suatu kata walaupun ia diambil di luar konteks al-Qur’an. Maknanya akan tetap merujuk pada hal yang sama. Makna dasar ini merupakan makna dari suatu kata yang disepakati oleh penutur pra-Islam.

Sementara itu, makna relasional adalah makna baru hasil pemodifikasian makna dasar. Makna relasional ini tercipta oleh al-Qur’an yang memberikan makna lebih spesifik terhadap suatu kata tanpa menghilangkan makna dasarnya. Jadi, tingkatan makna dasar berada pada masa pra Islam, sedangkan tingkatan makna relasional hadir sejak kemunculan Islam dengan konsep dalam al-Qur’annya.

Baca Juga  Molekul dalam Ilmu Kimia dan Isyaratnya dalam Al-Qur'an

Ditinjau dari sudut pandang metodologi linguistik modern, terkait perubahan makna suatu kata dikenal istilah sinkronik dan diakronik. Jika sinkronik berusaha memotret makna kata pada periode tertentu, contohnya pra Islam, maka diakronik menjelaskan pertumbuhan atau perkembangan suatu kata hingga era kini. Oleh karena itu, untuk mengungkap kata-kata kunci dalam al-Qur’an, peneliti harus menghadirkan makna suatu kata pada periode pra Islam, Qur’an, dan post-Qur’an, sehingga perkembangan makna akan terjelaskan.

Kata “Allah” Pra-Islam

Sebagai contoh, kata Allah yang terdapat dalam al-Qur’an. Sebelumnya sudah digunakan pada masa pra-Islam. Kata Allah pada pra-Islam (jahiliyah) merujuk pada tuhan tertinggi pada hirarki politeisme atau “Tuhan Ka’bah”. Sebagaimana diketahui, tiap-tiap kabilah mempunyai tuhannya masing-masing yang dapat dilihat secara langsung. Tuhan-tuhan ini biasanya digantung di sekitar Ka’bah. Latta, ‘Uzza, Manaf, Syam adalah contoh nama-nama tuhan mereka. Bisa dikatakan Allah adalah “bos” dari tuhan-tuhan yang telah disebutkan. Hal ini seperti yang terekam dalam al-Qur’an surah al-Zumar ayat 3, yang berbunyi:

“Kami (orang-orang musyrik Mekah) hanya menyembah mereka  (tuhan-tuhan lain) karena mereka membuat kami lebih dekat kepada Allah.”   

Kemudian, Islam datang dengan al-Qur’annya merekonstruksi konsep Tuhan. Ia mengenalkan Allah sebagai Tuhan tertinggi, tanpa mengakui tuhan-tuhan mereka sebagai perantara. Al-Qur’an menempatkan Allah sebagai satu-satunya tokoh sentral yang menafikan tuhan-tuhan mereka. Gagasan ini ditolak oleh masyarakat Mekkah karena mereka tidak terbiasa menyembah tuhan yang tak terlihat atau abstrak.

Jika mereka menerima konsep tuhan yang ditawarkan Nabi, maka itu berarti menurunkan martabat tuhan-tuhan yang selama ini disembah mereka. Sebagai implikasinya, tuhan-tuhan mereka dianggap palsu. Tentu saja, hal ini dianggap sebagai sebuah penghinaan, sehingga timbul perlawanan terhadap Nabi.

Baca Juga  Tabayyun adalah Ciri Orang Berilmu: Tafsir Al-Hujurat Ayat 6

Sementara itu, konsep Allah post-al-Qur’an adalah seperti yang dirumuskan oleh para teolog. Mereka memahaminya dengan istilah dzat dan sifat. Allah yang mempunyai dzat dan sifat merupakan perkembangan makna hasil dari interpretasi konsep Allah. Itulah sekilas penjelasan mengenai semantik sebagai metode untuk memahami konsep dan tingkatan makna kata dalam al-Qur’an.

Penyunting: Bukhari