Islam sebagai agama yang mengatur segala sesuatu dengan sangat lengkap dan terinci yang tentu saja banyak mengajarkan asas-asas perjanjian. Asas sangat berpengaruh terhadap suatu akad perjanjian, ketika suatu asas tidak dipenuhi maka akan mengakibatkan batal atau tidak sahnya akad perjanjian yang dibuat.
Asas-asas ini bersumber dari Al-Qur’an, hadits dan ijtihad para ulama. Namun harus diingat, bahwa asas-asas ini tidak berdiri sendiri melainkan saling berkaitan satu sama lain. Adapun asas-asas tersebut antara lain :
Asas Ibahah
Asas ini dipahami dari al-Baqarah, 2: 198
لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَبۡتَغُواْ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّكُمۡۚ فَإِذَآ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَٰتٖ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَشۡعَرِ ٱلۡحَرَامِۖ وَٱذۡكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمۡ وَإِن كُنتُم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ ١٩٨
Artinya : “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.”
Menurut riwayat asbabun nuzul dari Ibn Abbas, ayat ini berkenaan dengan operasional pasar Dzul Majaz dan ‘Ukadh. Setelah Fathu Makkah kedua pasar itu ditutup dan baru dibuka kembali sebagai pusat perdagangan setelah ayat al-Baqarah, 2:198 turun. Pembukaan kembali kedua pasar tersebut dimaksudkan, untuk “kamu sekalian mencari fadl dari Tuhanmu”.
Fadl menurut al-Ashfahani adalah “kelebihan dari pas-pasan”. Dengan adanya kelebihan itu dia bisa berada di strata rata-rata masyarakatnya. Maksud pembukaan pasar tersebut dapat menunjukkan asas ibahah bagi akad. Jadi akad itu dibolehkan untuk memperoleh anugerah yang memenuhi kebutuhan yang tidak sekedar pas-pasan, tetapi bisa mencapai strata rata-rata, bahkan sampai di atas rata-rata.
Asas Tidak Mengandung Kebathilan
Asas ini terdapat dalam Q. S. an-Nisa’, 4: 29:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٖ مِّنكُمۡۚ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا ٢٩
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.
Ayat tersebut melarang terjadinya perpindahan hak secara tidak benar yang disebut dengan cara yang bathil dan perpindahan yang benar adalah dengan saling merelakan di antara pihak-pihak yang melakukan transaksi. Bathil adalah lawan dari haqq (kebenaran), yaitu sesuatu yang tidak memiliki kemantapan ketika dilakukan penelurusan terhadapnya.
Asas Saling Merelakan
Asas ini juga terdapat dalam Q.S. an-Nisa’, 4: 29.
Terkait dengan asas ini ditegaskannya bahwa prinsip kedua memperingatkan agar kebebasan kehendak pihak-pihak bersangkutan selalu diperhatikan. Pelanggaran terhadap kebebasan kehendak itu berakibat tidak dapat dibenarkannya sesuatu bentuk muamalat. Karena harus ada kerelaan diantara dua pihak yang sedang melakukan transaksi.
Asas Iktikad Baik
Asas iktikad baik ditegaskan dalam al-Baqarah, 2: 188َ
Penetapan adanya asas iktikad baik dalam akad ini sejalan dengan ajaran Islam tentang amal shaleh. Amal shaleh merupakan salah satu konsep dasar dalam keberagamaan Islam. Konsep ini meliputi banyak amal, di antaranya a’mal qalbiyah, amal-amal hati, yang berupa iktikad baik.
Di dalam KBBI terdapat pengertian iktikad dengan keyakinan dan niat yang baik. Pada realita kehidupan, niat yang baik hanya muncul jika orang memiliki cita-cita, tujuan, orientasi hidup, dan rencana yang baik. Hal ini karena untuk membangun hayah thayyibah, orang harus memiliki semua kebaikan yang termasuk dalam iktikad baik itu.
Asas Perjanjian Mengikat
Asas perjanjian mengikat ditegaskan dalam Q.S. al-Maidah, 5: 1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَوۡفُواْ بِٱلۡعُقُودِۚ أُحِلَّتۡ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلۡأَنۡعَٰمِ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ وَأَنتُمۡ حُرُمٌۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ ١
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”
Ayat di atas memerintahkan kaum beriman untuk menepati perjanjian. Ayat tersebut menjelaskan perjanjian yang diperintahkan untuk menepatinya disebut dengan ‘aqd, menurut penjelasan al-Ashfahani, perjanjian yang mengikat, perintah itu disampaikan dengan bentuk kalimat perintah (fi’l al-amr). Menurut ushul fikih, perintah itu menunjukkan kewajiban sehingga umat Islam wajib menepati perjanjian tersebut.
Asas amanah
Asas amanah ditegaskan dalam Qs.Al-Mu’minun, 23: 8 dan Qs. Al-Ma’arij, 70: 32
Subyek ayat pertama adalah orang-orang yang beriman (al-mu’minun) dan subyek ayat kedua adalah orang-orang yang shalat (al-mushallin). Pada kaidah tafsir penyebutan dengan kalimat berita menunjukkan bahwa perbuatan dan sifat yang disebutkan seharusnya menjadi kebiasaan dan watak subyek.
Ini berarti bahwa memenuhi amanat itu menjadi kebiasaan dan watak yang dimiliki masing-masing orang yang beriman dan melakukan shalat. Kebiasaan dan watak itu menjadi lebih kuat lagi pada orang yang beriman sekaligus melakukan shalat. Kebiasaan dan watak demikian menunjukkan bahwa amanah itu merupakan asas perjanjian. Mu’min dan mushalli, wajib menerapkan asas itu dalam setiap akad yang mereka selenggarakan.
Asas Saling Menguntungkan
Asas saling menguntungkan ditegaskan dalam al-Baqarah, 2: 279
فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ ٢٧٩
Artinya : “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”
Ayat di atas menegaskan bahwa para pihak yang mengadakan akad tidak boleh menzalimi dan dizalimi. Pengertian zalim yang disampaikan al-Ashfahani adalah “meletakkan sesuatu tidak pada tempat yang khusus disediakan untuknya, dengan mengurangi atau menambah dan dengan tidak menepati waktu”.
Berdasarkan pengertian ini maka mereka tidak diperbolehkan memposisikan pihak-pihak yang mengadakan akad pada posisi yang salah sehingga terjadi pengurangan hak atau penambahan hak secara tidak benar, atau berakibat pada ketidaktepatan waktu pelaksanaan pemenuhan hak. Oleh karena itu, ayat tersebut menunjukkan pada asas saling menguntungkan.
Pemahaman mengenai asas hukum perjanjian islam memiliki peranan penting untuk kita memahami sesuatu yang berkaitan tentang sahnya suatu perjanjian. Dikarenakan perkembangan yang terjadi pada akad bisnis kontemporer lebih mudah dipahami setelah mengetahui asas-asas yang berkaitan dengan perjanjian tersebut.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply