Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Toleransi Islam dalam Kacamata Orientalis

Toleransi Islam
Gambar: hot.liputan6.com

Keramahtamahan atau toleransi Islam sebagai agama memberikan dimensi tersendiri bagi kaum beragama. Sebagian orientalis sebagai pengkaji Islam itu sendiri, tak menyangkal akan keramahtamahan atau toleransi Islam sebagai agama. Terbukti dengan deretan rentetan hasil penilitian dari sebagaian kalangan orientalis, yang cukup memberikan warna tersendiri bagi umat Islam, berikut uraian ringkasnya:

Kacamata Sebagain Orientalis Terhadap Toleransi Islam

Sir Thomas Arnold seorang orientalis berkebangsaan Inggris, yang mempelajari secara ilmiah, serta menelisik lebih jauh selama kurun waktu bertahun-tahun lamanya perihal tersebarnya Islam yang sangat menakjubkan. Untuk diketahui bahwa seorang Sir Thomas Arnold merupakan professor filsafat di sebuah Universitas bernama Aligargh University. Selain itu ia juga merupakan seorang guru bahasa Arab di University of London. Tak hanya itu, beliau juga merupakan seorang professor di Government Collage di Lahore.

Hasil kajiannya mengenai Islam memberikan warna tersendiri bagi penganutnya. Beliau mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat ilmiah, serta mampu untuk dipertanggungjawabkan secara akademis. Terbukti daripada hasil risetnya ini, lahirlah sebuah buku berjudul Preaching of Islam.

Dalam buku tersebut diuraikan secara gamblang bahwasanya pesatnya kemajuan Islam bukanlah karena paksaan melalui kekerasan. Namun, lebih dari itu, Islam sebagai agama disambut secara sumringah serta sukarela oleh bangsa-bangsa yang menerima Islam itu sendiri. (Guci, 2017, p. 82)

Hal semacam di atas juga ayalnya dibuktikan di zaman Umar bin Khattab. Dalam buku Sejarah Perang Salib Michaud menuliskan, bahwasanya Rasulullah SAW melarang keras panglima-panglima perang menghabisi pendeta-pendeta. Dikarenakan para pendeta tersebut merupakan orang-orang yang melaksanakan sembahyang kepada Tuhan.

Hasil Penelitian Thomas Arnold

Di sisi lain, faktanya tatkala Umar bin Khattab memasuki Palestina, tidaklah Umar bin Khattab menyakiti orang Nasrani. Namun justru sebaliknya, saat orang Nasrani memasuki kota Palestina pada saat perang Salib, maka dihabisilah orang Islam, dan dibakarlah orang Yahudi. (Guci, 2017, p. 84)

Baca Juga  Begini Cara Menyikapi Toxic People menurut Al-Qur’an!

Terlepas dari uraian di atas, yang penulis tekankan di sini, yaitu hasil riset dari seorang Sir Thomas Arnold dengan menelurkan buku berjudul  Preaching of Islam. Atau dalam bahasa Arab yang disalin oleh Dr. Hasan Ibrahim Hasan diberi nama ‘’Asp-Da’watu ilal Islam’’. Pengejawantahan hasil penelitian tersebut bukan berarti mengantarkan Sir Thomas Arnold berpindah haluan menjadi Islam. Namun beliau tetap beragama Kristen.

Tak sampai di situ, dalam buku Sejarah Hidup Charlemagne, karangan Robertson, dipaparkan pula, bahwasanya ‘’hanya kaum muslimin yang mampu mengumpulkan rasa toleransi beragama sembari mengiringinya dengan semangat penyebaran agama. (Guci, 2017, h. 83)

Toleransi Islam Indonesia

Keterangan lainnya yang cukup amat memukai diri penulis, yaitu datang dari seorang pengarang berkenegaraan Prancis, yang bernama Goustave Le Bon yang menulis dalam Civilization of Arab. Beliau mengungkapkan bahwa tersebarrnya kitab suci ummat Islam, yaitu Al-Qur’an bukanlah disebarkan melalui kekerasan. Terbukti penganut Islam telah membiarkan bangsa taklukannya freedom (bebas) untuk menjalankan roda ritual keagamaannya. Namun justru dengan sendirinya orang Kristen berpindah memeluk Islam. Dikarenakan lebih pada faktor Islam dirasa lebih menjunjung tinggi nilai-nilai al-Qisthu (keadilan) saat memerintah. (Guci, 2017, h. 89)

Hal semacam di atas, ayalnya dipertontonkan pula di tanah air. Kecondongan akan kehidupan secara pluralitas nan dihuni masyarakat pluralistik. Semisal toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pembuktian hal tersebut justru bukan dari perspektif kacamata warga pribumi sendiri. Namun dari sesosok ahli sejarah berkebangsaan Inggris yang pernah singgah serta melawat ke Nusantara. Yaitu Arnold Toynbee, yang datang ke Indonesia pada tahun 1965. Arnold Toynbee menuturkan kekagumanya akan toleransi ad-diinul Islam (agama Islam) Indonesia. Salah satu kekagumanya yaitu ketika melihat gereja-gereja indah nan-megah yang berdiri kokoh di Ibu Kota NKRI, Yaitu DKI Jakarta. (Guci, 2017, h. 93)

Baca Juga  Sekufu dalam Pernikahan

Mengapa ummat Islam Indonesia sangat bertasamuh(tenggang rasa) terhadap keyakinan antar ummat beragama di tanah airnya. Pernyataan tersebut, setidaknya terjawab dari salah satu hadis Rasulullah SAW, sebagai berikut:

            مَنْ آذَى ذِمِّيًا فَقَدْ آذَانِيْ , وَمَنْ آذَانِيْ فَقَدْ آذَى اللهِ           

‘’Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non-Muslim yang tidak memerangi ummat Islam), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barangsiapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah SWT.’’(HR. Imam Thabrani).Wallahua’lam

Penyunting: Bukhari