Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Macam Makna untuk Memahami Hadis dalam Kajian Ilmu Ma’anil Hadis

hadis
Sumber: bukalapak.com

Hadis atau sunnah adalah  segala perkara yang datang  dari rosulullah yang berupa qouli (ucapan), fi’li (perbuatan), taqrir (ketetapan), hammiyah (keinginan atau hasrat), dan siffah (sifat). Dalam memahami hadis mrupakan bagian yang tidak mudah (rumit), karena hadis adalah segala sesuatu yang di sandarkan pada Nabi Muhammad saw. Dalam permasalahan pemahaman hadis para ulama mencetuskan beberapa ilmu untuk menalaah suatu makna yang terkandung dalam hadis. salah satunya yaitu ilmu ma’anil hadis  yang para ulama terdahulu menyebutnya sebagai ilmu gharib al-hadis, Ilmu mukhtaliful hadis, atau ilmu fiqh al-hadis, syarh al-hadis.

Ilmu ma’anil hadis sendiri adalah ilmu yang mengkaji tentang  bagaimana memahami hadis nabi dengan mempertimbangkan struktur teks hadis, konteks ilmu pengetahuan hadis (asbab wurud), kedudukan Nabi saat menyampaikan hadis, dan bagaiman menghubungakan teks hadis masa lalu dengan konteks kekinian, sehingga memperoleh pemahaman yang relatif tepat, tanpa kehilangan relefansinya dengan konteks kekinian. Salah satu persoalan yang di bahas dalam ilmu ma’anil hadis adalah memahami makna dalam suatu hadis atau memamhami bahasa yang ada dalam teks hadis. di antaranya, hadis yang bermakna denotatif (asli), konotatif majaz, idiom, dan peribahasa.

Macam Makna Hadis

Macam makna dalam hadis yang pertama adalah makna denotatif (asli). Hadis yang maknanya denotatif adalah hadis yang kalimat-kalimat didalmnya mengandung kata secara objektif sehingga sangat mudah untuk di artikan karena sesuai dengan pemahaman teksnya yang biasanya dikenal dengan istilah makna tekstual. Seperti contoh di bawah ini:

كل عمل ابن آدم له، إلا الصيام، فهو لي، وأنا أجزي به

Artinya: “Setiap amalan baik anak Adam itu adalah (pahala) baginya, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya,

Dalam hadis ini memliki arti yang denotatif, Cukup di fahami secara teks saja yang berarti setiap amal baik itu pahala kecuali puasa allah sendiri yang akan membalasnya.

Baca Juga  Metode Ibnu Rusyd Dalam Mencari Kebenaran

Yang kedua adalah hadis yang maknanya konotatif (majaz). Hadis yang maknya konotatif adalah hadis yang kalimat-kalimat di dalamnya terjadi perubahan makna atau tidak menggunakan makna asal, karena ada relasi makna (alaqoh) dan indikator (qorinah) yang menolak keberadaan makna tersebut dalam suatu ungkapan, sehingga ungkapan tersebutdi maknai dengan makna baru. Seperti contoh dibawah ini:

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا تقوم الساعة حتى يكثر فيكم المال فيفيض حتى يهم رب المال من يقبل منه صدقة ويدعى إليه الرجل فيقول لاأرب لي فيه.

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra katanya, bahwa Rasulullah Saw telah bersabda: hari kiamat itu tidak terjadi sebelum harta membanjiri seluruh lapisan masyarakat sehingga pemilik harta merasa gelisah karena tak ada orang yang ingin menerima pemberiannya dan yang dipanggil untuk diberi akan menjawab saya tidak perlu kepadanya

Dalam hadis ini yang terdapat makna konotatif adalah  dalam kata “sebelum harta membanjiri seluruh lapisan masyarakat”, kata membanjiri disini memiliki makna konotatif yang merupakan kata perumpamaan untuk orang-orang yang memiliki harta yang melimpah.

Yang ke tiga adalah hadis yang memiliki makna idiom. Hadis yang maknanya idiom adalah redaksi dalm suatu hadis memiliki makna yang bukan makna sesungguhnya atau biassa di sebut kata perumpamaan. Seperti contoh di bawah  ini:

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يقول يانساءالمسلمات

لا تحقرن جارة لجرتها ولو فرسين شاة.

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. katanya, bersabda Rasulullah: “Hai wanita islam! Janganlah seseorang menghinakan (meremehkan) pemberian tetangganya walaupun barang itu merupakan tumit kambing“.

Dalam hadis ini memili arti idiom pada kata tumit kambing yang merupakan kata ungkapan atau perumpamaan, yang bermakna barang pemberian seseorang yang paling rendah.

Baca Juga  Refleksi Q.S Hud Ayat 112: Agar Tidak Plin-Plan Teguhkan Pendirian

Yang ke empat adalah hadis yan maknanya peribahasa. Hadis yang maknanya peribahasa adalah hadis yang kalimat-kalimat di dalamnya mengandung kata atau kalimat yang memiliki makna tersirat, yang biasanya mengiaskan maksut tertentu. Seperti contoh dibawah ini:

عن حكيم بن حزام رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اليد العليا خير من اليد الشفلى، وابدأ بمن تعول، وخير الصدقة عن ظهر غنى، ومن يستغفف يعفه الله، ومن يستغن يغنه الله

Artinya: “Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya”.

Dalam hadis ini yang memiliki arti peribahasa adalah dalam kata  “tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, yang bermakna bahwasannya memberi (bersedekah)  lebih  baik daripada meminta(ngemis).

Paradigma Memahami Hadis

Untuk menelaah makna hadis yang di jelaskan di atas, dalam buku Ilmu Ma’anil Hadis yang ditulis oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag dijelaskan ada beberapa paradigma  untuk memahami ma’anil/makna tersebut. Yang pertama adalah paradigma pemahaman secara tekstual. Golongan ini menganggap bahwa makna original atau makna asli suatu hadis di wakili oleh zhahir teks hadis tersebut, sehingga upaya memahami hadis, diluar apa yang ditunjukkan oleh zahirnya teks hadis, dianggap tidak valid. Artinya redaksi dalam suatu hadis cukup difahami secara teks yang ada di dalam nya tanpa adanya kajian mendalam terhadap redaksi hadis tersebut seperti kajian historis dan lain sebagainya.

Baca Juga  Meninjau Kembali Childfree Melalui Al-Qur'an dan Hadits

Yang kedua paradigma kontektual. Dalam hal ini kontekstual di bahasakan sebagai penjelas dalam memahami hadis berdasarka keadaan saat hadis itu muncul. Sebab  boleh jadi apa yang disampaikan oleh Nabi itu bersifat metaforis, sehingga harus dipahami secara simbolik juga, terlebih dalam bahasa Arab memang banyak kata-kata yang mengandung majaz. Dengan demikian minimal ada tiga tahapan yang di terapkan dalam memahami hadis secara kontekstual. Pertama, melakukan kajian historis, dengan menelisik secara kritis terhadap aspek-aspek redaksi hadis tersebut. Kedua, melakukan kajian bahasa dengan mencermati stuktur liguistik, termasuk aspek majaznya. Dan yang ketiga melakukan kajian terhadap redaksi hadis dengan menterkaitkan dengan disiplin ilmu lainnya.

Editor: An-Najmi