Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan tidak lain hanya untuk beribadah atau menyembah Allah (QS. Az-dzāriyat [51]: 56). Ibadah yang diperintah oleh Allah adalah sebagai bentuk mengesakan-Nya atau disebut tauhid. Selain itu perintah tauhid tidak berhenti kepada manusia pertama melainkan relasi ini berlanjut hingga manusia terakhir.
Dari Nabi Adam dan Siti Hawa inilah cikal bakal ajaran tauhid mulai diajarkan turun-temurun. Melalui mereka berdua pulalah awal mula segala pengetahuan mulai ditemukan. Termasuk diantarnya yang paling penting adalah ajaran berbakti kepada orang tua.
Mengapa berbakti kepada orang tua? Tentu saja, orang tua adalah modal awal bagi kita semua dapat mengenal Allah. Serta mengenal Rasulullah, mengenal ajaran agama Islam dan semuanya. Selain itu yang terpenting adalah karena keberadaan orang tua adalah wasilah atau sarana keberadaan kita di dunia ini.
Oleh karena itu Al-Qur’an menyandingkan perintah ibadah (tauhid) dibarengi pula dengan perintah berbakti kepada orang tua. Mari simak penjelasan berikut.
Al-Qur’an Surat Al-Isra [17] ayat 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ﴿٢٣﴾
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra [17]: 23)
Sebelum membahas mengenai relasi dari perintah tauhid dan juga berbakti kepada orang tua mari kita simak penjelasan berikut:
Pertama: Tauhid (Mengesakan Allah)
Imam Ar-Rāzī Imam Syaukani menyebutkan bahwa unsur utama dalam perintah Allah adalah tauhid. Tidak ada perintah yang melebihi perintah tauhid, adapun selanjutnya baru disusul dengan perintah-perintah atau tuntunan syariat. Sebab tauhid adalah puncak pemujaan seorang hamba kepada tuhannya (Tafsir Fathul Qādir [6]: 534)
Ar-Rāzī (Tafsir Al-Kabir wa Mafātih al-Ghaibi [20]: 185) dan Wahbah Zuhaili (Tafsir al-Munir [8]: 72) berpendapat bahwa perintah tauhid mencakup dua hal:
Satu: Yaitu agar hanya beribadah kepada Allah.
Dua: Menjaga agar tidak sama sekali beribadah kepada selain-Nya.
Kedua: Berbuat Baik (Berbakti) Kepada Orang Tua
Imam Thabari menjelaskan bahwa berbuat baik kepada orang tua artinya berbakti dengan sebaik-baiknya (Tafsir Thabari [16]: 602). Sedang Syaukani menyebutkan alasan mengapa harus berbuat baik kepada orang tua? Yaitu karena karena kedua orang tua merupakan lantaran anak itu lahir ke dunia. (Tafsir Fathul Qādir [6]: 535)
Wahbah Zuhaili menyebutkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan sebuah loyalitas. Loyalitas untuk membalas jasa keduanya yang diwujudkan dengan bersikap baik, berakhlaq terpuji kepada mereka. Hal ini tidak lain karena kasih sayang, pemberian, bahkan pengorbanan orang tua dalam mendidik dan menjaga anak hingga dewasa. (Tafsir al-Munir [8]: 72)
Relasi Antara Tauhid dan Berbakti Kepada Orang Tua
Syaukani berpendapat bahwa perintah berbuat baik (berbakti) kepada kedua orang tua sebagai penyerta tauhid dan ibadah kepada-Nya. Juga merupakan dua keharusan yang harus dipelihara perihal keduanya. Begitu pula dalam ayat lain Allah memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya sekaligus juga kepada kedua orang tua. أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (QS. Lukmān [31]: 14). (Tafsir Fathul Qādir [6]: 535)
Sedang Ar-Rāzī dalam tafsirnya menjelaskan lebih padat bahwa ada relasi antara tauhid dan berbakti kepada orang tua, yaitu sebagai berikut
Orang Tua Adalah Sebab Adanya Kehadiran Anak
Secara hakikat adanya manusia adalah karena Allahlah yang menciptakan. Namun secara dzahir kehadiran manusia karena keberadaan kedua orang tua. Maka dari itu Allah memerintahkan untuk memuliakan penciptanya secara hakikat dan diikuti dengan memuliakan orang tuannya.
Nabi Adam adalah contoh manusia yang langsung Allah ciptakan tanpa adanya wasilah orang tua. Dia adalah manusia pertama disusul setelahnya istrinya yaitu Siti Hawa.
Sedangkan setelah Nabi Adam dan Siti Hawa menikah akhirnya dikaruniai anak, dan dilanjutkan oleh anak cucu Adam yang mulai berketurunan dan beranak-pinak hingga nenek moyang kita dan sampe anak cucu kita nantinya.
Kewajiban Interaksi kepada Qadīm dan Muhdiṡ
Manusia harus melakukan interaksi dengan dua hal, Pertama manusia harus berinteraksi kepada Allah Maha Qadim. (Yang sudah ada dari dahulu kala) dengan cara mengagungkan-Nya dan beribadah.
Kedua, manusia juga harus berinteraksi dengan Muhdis. (Makhluk yang ada setelah Allah) dengan menunjukan rasa kasih sayang. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW التَّعْظيم لامْرِ الله والشَّفَقَة عَلى خَلْق الله.
Dan makhluk yang paling berhak menerima rasa kasih sayang tidak lain dan tidak bukan adalah kedua orang tua, karena pemberian mereka berdua kepada anak-anaknya. Selain itu ayat diatas menunjukan adanya mengedepankan hak Allah atas hak kedua orang tua.
Sehingga ayatوَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ artinya adalah isyarat untuk mengagungkan Allah sedangkan وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا adalah isyarat untuk memberikan kasih sayang kepada kedua orang tua.
Bersyukur Pada Pemberi Nikmat itu Wajib
Secara hakikat, dzat yang telah memberi nikmat adalah Sang Pencipta yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun kadang salah satu dari seluruh makhluk nya juga bisa memberikan kita nikmat. Dan mensyukuri orang lain yang telah memberikan nikmat atas wasilahnya juga wajib.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulillah SAW مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ. Artinya yang tidak mensyukuri pemberian manusia maka juga tidak mensyukuri pemberian Allah. Dan dari seluruh makhluk yang Allah ciptakan tidak ada yang paling peduli memberikan kenikmatan kepada anak kecuali orang tuanya.
Bagi orang tua “Anak adalah bagian dari orang tua”. Kasih sayang kedua orang tua tampak dari caranya menyalurkan kebaikan kepada anak. Kasih yang tidak bisa dihitung jumlahnya dan tidak bisa di balas jasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan orang lain, tidak ada orang yang bisa menyamai jasa orang tuanya.
Bahkan disaat lemah atau susah, dimana orang lain tidak ada yang peduli dengan anak. Orang tua selalu ada untuk anaknya, menemaninya, merawatnya kembali laksana masih seorang bayi bagi mereka. Sehingga tampak jelas sekali perhatian dari orang tua.
Bentuk kasih sayang orang tua tidak seperti orang lain, dimana orang lain berbuat baik kepada sesamanya adalah dengan alasan agar dibalas kebaikannya dikemudian hari, sedangkan orang tua tidak seperti itu, mereka hadir dengan penuh kasih sayang dan ketulusan. (Tafsir Al-Kabir wa Mafātih al-Ghaibi [20]: 186). Demikian kajian singkat diatas semoga bermanfaat. Wallahu’Alam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.