Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kisah Qur’ani: Urgensi Berdialog Antara Orang Tua dan Anak

dialog
Sumber: https://pngtree.com/

Berdialog adalah hal yang langka yang saat ini tidak banyak dijumpai antara orang tua dan anaknya. Karena kesibukan orang tua, orang tua berangkat pagi untuk bekerja dan pulang sudah larut malam. Sehingga tidak adanya waktu bersama di dalam rumah. Hal ini jika diteruskan menjadikan dialog antara anggota keluarga semakin terkisis.

Orang tua tidak boleh lupa, bahwa anak harus diajari berdialog. Di antaranya mencontohkan bagaimana cara mengambil keputusan. Jika dihadapkan persoalan apakah langsung dijawab atau tanya kepada orang lain yang lebih tau. Jika langsung ambil keputusan, apa konsekuensinya dan jika ada pertimbangan dari orang lain apa manfaatnya.

Nah, dialog ini bukan tanpa dasar. Justru ini adalah ajaran dari para Nabi terdahulu. Di dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang menjelaskan dialog antara orang tua dan anaknya. Seperti contoh Nabi Ibrahim dan Ismail, Lukman al-hakim dan anaknya, serta kisah lainnya.  

Lantas kapan sebenarnya anak mulai bisa diajak dialog? Apakah sejak dini atau ketika mulai dewasa?

Kapan Anak Mulai Diajak Dialog?

Dalam konteks ini, penulis ingin mengajak pembaca sekalian menilik kembali dialog antara Nabi Ibrahim dan anaknya (Nabi Ismail):

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿الصافات: ١٠٢﴾

Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. As-Shāffāt [37] ayat 102.

Baca Juga  4 Ibrah Kisah Nabi Yunus dalam Al-Qur'an

Nabi Ibrahim mengatakan bahwa dia mendapatkan perintah dari Allah yaitu untuk menyembelih anaknya (Ismail). Ajakan untuk dialog mengenai perintah ini nampak dalam ayat يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”.

Akhlak Berdialog

Menariknya, meskipun telah menyadari bahwa perintah tersebut adalah mutlak dari Allah. Namun Nabi Ibrahim mengatakannya terlebih dahulu perintah tersebut kepada Ismail sebagai anaknya. Serta menunggu respons atau jawaban dari Ismail agar mengajarkan kepada anaknya pentingnya dialog sebelum mengambil keputusan.  

Wahbah Zuhaili menjelaskan, dalam surat ini Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi, mimpi yang tidak masuk akal. Namun mimpi Nabi adalah benar atau wahyu. Meski awalnya Ibrahim ragu, apakah mimpi ini dari Allah atau setan. Namun mimpi yang sama terus berulang sampai malam ketiga, sehingga Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi itu benar dari Allah.

Dalam konteks ini, menurut Ibnu Katsir bahwa Ismail sudah menjadi “anak bujang”. Anak yang diajak Nabi Ibrahim pergi bersama, melakukan usaha dan pekeejaanya. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 7: 29) Sama halnya pendapat Al-Qurthubi yang menganggap dialog ini saat anak usia dewasa. Begitu pula Wahbah Zuhaili yang menganggapnya sudah produktif yaitu mencapai 7 atau 13 tahun. Nah jika anak sudah bisa diajak dialog, lantas seperti apa cara orang tua mengajarkannya berdialog?

Bagaimana Cara Mengajak Anak Berdialog?

Cara mengajak dialog anak juga sudah diajarkan dalam Al-Qur’an. Yaitu dengan mempersilahkan anaknya mengutarakan pendapatnya, hal ini ada pada potongan ayat setelahnya.

Sebagaimana ayat tersebut berbunyi فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ “maka fikirkanlah apa pendapatmu!!”. Hal ini menunjukan bahwa Nabi Ismail membutuhkan konfirmasi dari anaknnya, yaitu agar anaknya memberikan pendapat dulu mengenai perintah tersebut. Setelah mereka berdialog dan bermusyawarah tibalah saat penentuan.

Baca Juga  Memahami Keberkahan Pendapatan Keuangan dalam Al-Qur'an

Anak sudah mengutarakan dan memberi pendapat. Sehingga sampai dimana petunjuk bahwa Nabi Ismail menyetujui adalah pada penggalan ayat selanjutnya yaitu ayat قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Wahbah Zuhaili melihat bahwa sikap Nabi Islami penuh dengan ketaan kepada Ayahnya (Nabi Ibrahim). Ismail pun menerima perintah tersebut dan sudah siap dikurbankan, serta tunduk kepada perintah Allah dan bersikap tergar terhadap ujian yang sedang Allah berikan (Tafsir Al-Munir, jilid 18: 118)

Kisah ini mengajarkan bahwa Ayah tidak boleh abai dengan anaknya. Sebagai seorang ayah harus mengajarkan pentingnya membiasakan berdialog dan bermusyawarah. Jika sedang dihadapkan suatu persoalan atau pengambilan keputusan atau ayah tidak boleh mengekang anaknya hidup sesuai dengan keinginannya.

Mengingat karena anak sudah menginjak usia dewasa atau sudah bisa berfikir. Ayah juga harus mengajarkan agar anaknya mengutarakan pendapatnya. Hal ini mengajarkan kepada anak bahwa anak harus siap mengambil sikap dan berpendapat. Selain itu juga harus bisa menghargai perbedaan pendapat dan hidup berdampingan dengan orang lain. Apakah ada nilai-nilai dari kebiasaan berdialog?

Nilai-Nilai Moral Dari Kebiasaan Berdialog

Dengan adanya kebiasaan dialog seperti ini, anak akan terdidik waspada, tidak asal dalam bertindak. Juga memiliki jiwa menghargai saran dan pendapat orang lain, tidak menang sendiri, serta menyadari bahwa kehidupan sangat luas. Terutama adanya kehidupan maya yang tak terkendali.

Nilai nilai yang tertanam pada diri anak ini akan menumbuhkan nilai tenang dalam pengambilan keputusan, mau mengalah, yang menjadikan anak tidak bersifat sumbu pendek, atau mudah tersulut emosi karena perbedaan pendapat.

Baca Juga  Semantik Qur'an: Syukr dan Implikasinya dalam Kehidupan

Setiap di hadapkan dengan perbedaan, anak akan memulai dengan berdialog, sehingga yang terjadi adalah, adanya perbedaan bukan untuk permusuhan tapi menambah wawasan. Yang tidak lain semua itu dilakukan orang tua agar anaknya bisa bersikap dewasa dalam segala hal.

Bersikap arogan dengan langsung menentukan apa saja yang baik menurut orang tua untuk anaknya bukanlah perbuatan yang sudah di contohkan Nabi Ibrahim kepada Ismail. Dialog yang baiklah yang di contohkan.

Kesimpulan

Menuruti keinginan anak tidak ada masalahnya, namun sebagai orang tua harus bijak dalam mengedukasi bahwa ada pilihan lain yang lebih baik. Adanya dialog yang harmonis antara anak dan orang tua ini, menjadikan kehidupan berumah tangga menjadi akur dan bahagia.

Yuk biasakan berdialog satu sama lain. Jika sebagai orang tua, ajaklah anaknya berdialog. Jika sebagai anak, ajaklah orang tua berdialog agar memberi pendapat atau saran mengenai apa yang ingin kita lakukan. Demikian sajian singkat diatas. Semoga bermanfaat. Wallahu’Alam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi