Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Esensi Syukur dan Implementasinya dalam Kehidupan

Syukur
Sumber: istockphoto.com

Sejatinya hidup ini tidak bisa lepas dari rasa syukur.Terlalu banyak nikmat yang patut kita syukuri sampai-sampai jika kita ingin menghitungnya tentu tidak akan mampu (Q.S. Al-Nahl [16]: 18). Meski begitu, sudahkah kita memahami esensi dari syukur tersebut serta bagaimana cara mengimplementasikannya dalam kehidupan?

Esensi Syukur

Lafal al-syukr dan derivasinya sangat banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Muḥammad Fu`ād ‘Abd al-Bāqī dalam al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāzh al-Qur`ān al-Karīm menyebutkan bahwa lafal al-syukr dan derivasinya disebut sebanyak 75 kali dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa pentingnya bagi kita sebagai seorang muslim untuk merenungi apa sebenarnya esensi dari syukur itu.

Salah satu ayat yang memuat lafal al-syukr dalam bentuk fi’l amr terdapat dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 152.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 152)

Al-Ashfahānī dalam Mufradāt Alfāzh al-Qur`ānmengartikanal-syukradalah menggambarkan kenikmatan dan menampakkannya. Dikatakan juga bahwa lawan dari al-syukr adalah al-kufr, yaitu melupakan nikmat dan menutupinya.

Pendapat lain mengatakan bahwa al-syukr diambil dari kata ‘ain syakrā, artinya sumber mata air yang penuh (terus-menerus memancar). Jika melihat pendapat ini, maka pengertian al-syukr adalah terus-menerus menyebut kepada Sang Pemberi Nikmat (al-Imtilā` min dzikr al-Mun’im ‘alayh).

Dari pengertian al-Ashfahānī di atas, dapat kita pahami bahwa esensi syukur tidak hanya sebatas mengingat nikmat yang telah kita terima, tetapi juga mengingat Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah Swt.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah. Ia menyatakan bahwa dalam ayat 152 dari surat al Baqarah di atas, Allah Swt. mendahulukan perintah untuk mengingat diri-Nya baru kemudian mengingat nikmat-Nya, karena mengingat Allah lebih diutamakan daripada mengingat nikmat yang telah Dia berikan.

Baca Juga  Respon Al-Qur’an Menyikapi Fenomena Berita Hoaks

Imam al-Syiblī sebagaimana dikutib oleh Nawawi al-Bantani dalam Qāmi’ al-Thughyān juga menyatakan bahwa syukur adalah melihat kepada Sang Pemberi Nikmat, bukan kepada nikmat itu sendiri (al-syukr ru`yat al-Mun’im lā ru`yat al-ni`mah).

Ketika kita mendapat nikmat, kalimat thayyibah yang kita ucapkan adalah hamdalah, al-ḥamd lillāh Rabb al-‘Ālamīn, artinya “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Bukan al-ḥamd li hādzihi al-ni’mah (pujian atas nikmat ini). Dari ucapan hamdalah ini, tentu yang kita puji adalah Allah Swt. sebagai Sang Pemberi Nikmat, bukan nikmat itu sendiri.

Maka dapat kita simpulkan esensi syukur adalah tidak hanya mensyukuri nikmat yang telah kita terima, tetapi juga mengingat serta memuji Allah Swt. sebagai Sang Pemberi Nikmat. Jika Allah menghendaki, maka nikmat tersebut tidak akan kita dapatkan.

Implementasi Syukur dalam Kehidupan Sehari-Hari

Kemudian bagaimana cara kita mengimplementasikan syukur dalam kehidupan sehari-hari?

Al-Ashfahānī dalam al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur`ān menyebutkan bahwa syukur itu terdiri dari tiga bagian yaitu, syukur dengan pengakuan hati, syukur dengan ucapan lisan, dan syukur dengan perbuatan anggota tubuh.

Maka syukur kepada Allah tidak cukup hanya dengan pengakuan hati dan ucapan semata, tetapi juga harus dibuktikan melalui perbuatan. Demikian apa yang disampaikan oleh Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar ketika ia menafsirkan ayat 152 dari surat al Baqarah di atas:

“Bersyukurlah atas nikmat-nikmat yang Dia limpahkan, yaitu dengan jalan berterimakasih dan mengucap syukur. Ucapan itu bukan semata-mata dengan mulut, melainkan terbukti dengan perbuatan.”

Quraish Shihab dalam tafsirnya juga menuturkan hal yang serupa.Ia mengatakan bahwa syukur kita sebagai manusia kepada Allah Swt. dimulai dengan menyadari dari lubuk hati betapa besar nikmat yang Allah berikan kepada kita, diiringi dengan rasa tunduk dan kagum kepada Allah Swt. sebagai Sang Pemberi Nikmat, sehingga akan melahirkan rasa cinta kepada-Nya.

Baca Juga  Fenomena Miskonsepsi Kebahagiaan Perspektif Psikologi Spiritual

Dari rasa tunduk, kagum dan cinta tersebut akan mendorong kita untuk memuji-Nya dengan lisan kita.Kemudian syukur tersebut disempurnakan lagi dengan melaksanakan apa yang Allah kehendaki dari nikmat yang telah Allah titipkan kepada kita, yaitu dengan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan fungsinya untuk kemaslahatan umat manusia.

Contoh sederhana mempergunakan nikmat sesuai fungsinya, misal kita diberi nikmat ilmu, maka kita ajarkan ilmu yang telah kita dapatkan kepada orang lain. Misal kita diberi nikmat harta, maka kita berikan sedekah kepada orang yang membutuhkan. Misal kita diberi nikmat keahlian dalam bidang medis/kedokteran, maka kita bantu orang lain untuk menyebuhkan sakit yang mereka derita.

Bahkan nikmat yang sering kita rasakan namun kadang terlupa oleh kita adalah nikmat sehat dan waktu luang. Maka selagi kita sehat dan memiliki waktu luang, seyogyanya kita gunakan nikmat tersebut untuk mengerjakan hal-hal positif serta kegiatan-kegiatan produktif yang bisa membawa manfaat untuk sesama.

Nikmat adalah Rahmad Allah

Namun perlu kita ingat, ketika kita mempergunakan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, jangan pernah merasa bahwa kita lah yang telah melakukan berbagai macam kegiatan tersebut. Karena hakikatnya, segala nikmat yang kita miliki adalah pemberian dari Sang Pemberi Nikmat, Allah Swt. Jika Allah menghendaki, maka mudah saja bagi-Nya untuk mengangkat nikmat tersebut dari kita.

Semoga dari tulisan ini kita bisa lebih memahami esensi dari syukur kepada Allah Swt. dan kita bisa mengimplementasikan rasa syukur tersebut dalam kehiupan kita sehari-hari. Āmīn Yā Rabb al-‘Ālamīn.

Editor: An-Najmi