Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dari Ketahahan Spiritual Hingga Ketahanan Nasional: Refleksi Surah Quraisy

Ketahanan Nasional
Gambar: sampoernaacademy.sch.id

Di situasi yang genting seperti sekarang, menaruh perhatian pada masalah ketahanan nasional adalah hal yang mendesak. Perang yang terjadi antara Israel-AS dan Iran, sebagaimana dirasakan, telah memporak-porandakan kondisi sosial-ekonomi dan politik banyak negara. Negara-negara Eropa bahkan mulai antipati dengan Amerika dan membuka ruang negosiasi dengan Iran seiring dengan ditutupnya Selat Hormuz. Harga minyak yang melonjak telah menjadi berita dan mimpi buruk. Sebab hal ini berefek besar pada berbagai sektor, khususnya kehidupan sehari-hari. Negara yang tak punya kesiapan pasti kewalahan menghadapi situasi seperti ini.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah negara kita telah siap menghadapi gejolak ekonomi global tersebut? Hingga saat ini pemerintah masih melakukan berbagai usaha untuk menanggulangi masalah tersebut. Di antaranya ialah dengan memaksimalkan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Akan tetapi, di tengah segala usaha yang dilakukan, dampak dari ekonomi global tersebut tetap terasa oleh masyarakat. Harga barang-barang semakin naik. Nilai tukar rupiah juga sudah menyentuh angka 17.476. Negara tentunya mesti mengambil langkah antisipatif.

Di tengah dinamika global tersebut, kesadaran publik menjadi terbuka. Bahwa ketahanan pangan dan nasional benar-benar sepenting itu. Sebab tidak ada yang dapat memprediksi jika dunia akan dihadapkan situasi segenting ini. Ketahanan pangan berfungsi untuk menyediakan pasokan kebutuhan bagi masyarakat dan ketahanan nasional untuk memastikan seluruh tumpah darah Indonesia terjaga dan terlindungi dari bahaya yang tengah mengincar. Di titik inilah pembacaan penulis terhadap surah Quraisy mulai berubah dan menemukan pesan aktualnya. Sebab pada surah ini, sebagaimana akan dibahas, Allah menaruh perhatian pada ketahanan nasional suatu bangsa dengan berpagi-pagi menekankan perlunya iman yang benar.

Uraian Umum tentang Surah Quraisy

Surah ini terdiri dari empat ayat. Sebagaimana namanya, surah ini membahas secara khusus tentang suku Quraisy, suku terhormat dan terpandang di kalangan bangsa Arab saat itu. Bahkan Nabi Muhammad sendiri berasal dari suku Quraisy. Berbagai pandangan diajukan tentang asal-usul suku tersebut. Pandangan pertama menyebutkan bahwa Quraisy merupakan sebutan bagi kabilah-kalibah Arab yang nasabnya tersambung pada An-Nadhr bin Kinanah. Sementara pandangan kedua, sebagaimana dinyatakan Az-Zubair bin Bakkar, menyebut nama Quraisy diambil dari keturunan Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah.

Baca Juga  Melihat Kesusastraan Arab Masa Pra Islam

Suku Quraisy, seperti yang terlihat pada ayat pertama, merupakan suku yang gemar melakukan perjalanan. Hal itu tak lain demi menyambung hidup dan memperluas rezeki. Pada musim dingin mereka ke Yaman, sementara pada musim panas mereka ke Syam. Kebiasaan ini telah berlangsung lama sejak nenek moyang mereka dan berlanjut hingga Islam hadir.[1] Perjalanan (rihlah) adalah pondasi dasar bagi suku Quraisy. Sebab tanpanya kondisi ekonomi mereka akan ambruk dan mengalami instabilitas. Al-Qur’an menggambarkan:
 
“Disebabkan kebiasaan suku Quraisy. Kebiasaan mereka berpergian di musim dingin dan panas” (QS. Quraisy: 1-2)
 
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa mereka gemar berpergian? Apakah tanah Mekkah yang menjadi tempat mukim mereka tidak menyediakan sumber penghidupan yang memadai? Jawabannya adalah iya. Tanah mereka tandus sehingga sulit untuk tanaman tumbuh dan air mengalir. Sementara itu, mereka juga dikenal sebagai bangsa yang tidak memiliki bakat sebagai pengrajin kreatif sehingga mengundang minat bangsa lain untuk datang ke tempat mereka. 

Pandangan Mufasir atas Surah Quraisy

Muhammad ‘Abduh, mufasir dan pembaharu Mesir, menjelaskan bahwa penghormatan bangsa Arab saat itu saat tinggi terhadap Ka’bah. Ka’bah dianggap sebagai rumah Allah yang agung. Penghormatan yang tinggi terhadap Ka’bah itu berpengaruh pada sikap bangsa Arab terhadap suku Quraisy yang merupakan tetangga dan penjaga Ka’bah. Suku Quraisy banyak diuntungkan oleh penghormatan tersebut, salah satunya ketika melakukan perjalanan atau safar ke daerah lain. Mereka terjaga dan aman dari segala marabahaya.[2] Padahal gurun pasir yang mereka lewati dikenal sebagai tempat menyeramkan dan dihuni berbagai macam perompak yang siap menyergap.

Salman Harun punya penjelasan lain tentang amannya perjalanan Quraisy dalam berdagang. Selain karena status mereka sebagai penjaga Ka’bah (karena jumlah mereka termasuk relatif banyak dibanding suku-suku lain), mereka juga dikenal sebagai pribadi yang sangat menghormati, memberi pelayanan terbaik dan menjamin keamanan bagi peziarah yang datang. Bahkan, salah satu yang dikenal, mereka sampai rela menanggung keperluan hidup peziarah. Sikap inilah yang membuat mereka disegani sehingga melahirkan perasaan utang budi dari para peziarah dan ikut menjamin keamanan perjalanan Quraisy ketika akan berdagang ke Syam atau Yaman.[3]    

Baca Juga  Tafsir Aktual: Landasan Al-Qur'an Menghadapi Krisis Pangan

Perjalanan aman dan selamat ini sangat penting bagi suku Quraisy. Sebab mereka membawa banyak hasil dagang. Bayangkan jika hasil dagang mereka dirampok, maka kerugian apalagi yang lebih malang dari itu? Perjalanan yang aman adalah kunci. Mengubah kebiasaan safar bukanlah solusi. Sebab hanya dengan safar lah mereka mendapat sumber penghidupan. Namun, melalui surah ini, Allah menyayangkan sikap orang Quraisy yang tidak menyadari arti penting Ka’bah sebagai pelindung, pemberi “memberi makan” dan rasa aman bagi mereka. Padahal mereka dapat selamat dari perjalanan karena kedudukan Ka’bah sebagai rumah Allah yang sangat tinggi di hati orang Arab. Akan tetapi fungsi Ka’bah sebagai rumah Allah dan tempat beribadah tersebut masih saja terus disangsikan oleh suku Quraisy. Daripada menyembah Allah, mereka lebih memilih menyembah berhala-berhala yang dianggap sebagai perantara menuju Tuhan. Situasi inilah yang melahirkan firman Allah:
 
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Sang Pemilik rumah (Ka’bah) ini. Yang telah memberi makan mereka, dan mengamankan mereka dari ketakutan” (QS. Quraisy: 3-4). 

Refleksi soal Ketahanan Nasional

Harus diakui, pandangan yang mengaitkan antara ketahanan nasional dengan surah Quraisybukanlah hal yang mainstream. Bahkan seandainya kita berusaha sekuat tenaga mencari dan membolak-balik halaman demi halaman kitab tafsir dari era klasik hingga era modern, kita tak akan menemukannya. Sebab secara konteks ayat ini tidak berbicara tentang itu. Penekanannnya lebih kepada suku Quraisy yang walaupun telah “diberi makan dan rasa aman”, mereka tetap tidak ingin menyembah Allah. Padahal ada peran Allah di perjalanan mereka yang aman dan selamat tersebut. Namun hal ini tidak mereka sadari. 

Refleksi soal ketahanan nasional ini perlu disampaikan. Sebab meski surah tersebut lahir dari konteks yang berbeda dan spesifik, pesan Allah ke arah itu sangat terlihat. Namun sebagai kitab moral, Al-Qur’an menekankan bahwa ketahanan pangan (ath’amahum min ju’) dan ketahanan nasional (āmanahum min khauf) harus dilandasi dengan ketahanan spiritual (fal ya’budu rabb hadza al-bait). Iman adalah fondasi yang harus dimiliki sebuah bangsa. Tanpa iman, sebuah bangsa akan mudah goyah dan roboh. Bangsa Iran yang hari ini bertarung melawan Israel-AS adalah bukti iman merupakan aspek penting. Sebab ia yang kelak mengarahkan dan menuntun orientasi kita dalam berpikir, bergerak dan mengambil keputusan.

Baca Juga  Menghadapi Badai Post-Truth dengan Bimbingan Wahyu

Setelah fondasi spiritual yang kokoh, barulah suatu bangsa melengkapinya dengan ketahanan pangan dan nasional. Ketahanan pangan diwujudkan dengan kesediaan dan kepedulian menyediakan pasokan makanan yang bergizi, aman, merata dan dapat dijangkau banyak orang. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan ketahanan pangan, di antaranya ialah dengan melakukan produksi sendiri dan menjadikan sebagian hasilnya sebagai stok cadangan. Sementara untuk ketahanan nasional dapat dilakukan dengan meminimalisir konflik dan membeli alusista sebagai antisipasi terhadap kemungkinan perang. 

Langkah-langkah yang bergerak ke arah itu perlu didukung. Sebab selain memberikan jaminan keamanan bagi bangsa dan negara, ia juga merupakan implementasi nyata dari surah Quraisy yang menempatkan ketahanan pangan dan nasional sebagai fondasi utama sebuah bangsa.

[1] HAMKA. Tafsir Al-Azhar, Jilid 10. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura, 1982, h. 8120
[2] Muhammad ‘Abduh. Rahasia Juz ‘Amma. Bandung: Karisma, 2007, h. 326. 
[3] Salman Harun. Secangkir Tafsir Juz Terakhir. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2018, h. 326

Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Banten