Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Potret Kepemimpinan Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman
Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Ftafsiralquran

Banyak pemahaman yang keliru mengenai arti kepemimpinan. Umumnya, kepemimpinan dilihat sebagai sebuah kedudukan atau posisi semata. Zaman sekarang, orang-orang mengira bahwa kepemimpinan adalah otoritas, penguasaan, kedudukan atau bahkan pusat kekuatan.[1] Akibatnya, banyak kepemimpinan yang didapatkan dan dijalankan dengan cara tidak etis.

Berbagai kejadian kontradiktif seorang pemimpin telah terjadi atas amanah kepemimpinannya, seperti halnya pelanggaran etis dengan melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Pemimpin yang sesungguhnya tidak akan mencari posisi dengan cara manipulatif, karena sebenar-benarnya pemimpin adalah yang bertangung jawab dan amanah.

Pemimpin sejati akan melibatkan kepribadian dan jiwa konsisten, serta tanggung jawab dalam kepemimpinannya. Salah satu tokoh inspiratif dalam tradisi Islam  yang sering dijadikan teladan dalam konteks kepemimpinan adalah Nabi Sulaiman. Beliau memiliki kerajaan yang megah, kekayaan, dan ilmu pengetahuan yang luas.

Kepemimpinan Nabi Sulaiman juga meliputi bangsa manusia, jin, dan bangsa lainnya. Ia mempunyai kepemimpinan yang sangat baik dalam mengatur bangsa, pemerintah, dan juga tentaranya.  Kepemimpinan nabi yang dapat berbicara dengan hewan ini tidak hanya terfokus pada aspek administratif, namun juga spiritual dan moral.

Garis Keturunan Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman bernama lengkap Sulaimān bin Dāūd bin Isyā bin Uwaid bin ‘Abir bin Salamūn bin Nakhsyūn bin Awinadzab bin Arm bin Haṣhrūn bin Fāridh bin Yahūza bin Ya’qūb ibn Isḥāq ibn Ibrāhīm Abu al-Rabī’. Riwayat menyebutkan Nabi Daud memiliki banyak anak, yaitu 11 anak. Ada pula yang menyebutkan 19 anak. Namun, dari sekian jumlah yang mewarisi dan mendapat amanah menjadi raja Bani Israil adalah Sulaiman. Nabi Sulaiman menjadi raja menggantikan ayahnya, yaitu Nabi Daud, ketika berusia 13 tahun. Namun, ada riwayat lain yang menyebutkan ketika Nabi Sulaiman berusia 17 tahun.[2] Sebagaimana yang disebutkan dalam Qs. al-Naml: 16:

Baca Juga  Gambaran Pemimpin Masa Depan

وَوَرِثَ سُلَيۡمٰنُ دَاودَ‌ وَقَالَ يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمۡنَا مَنۡطِقَ الطَّيۡرِ وَاُوۡتِيۡنَا مِنۡ كُلِّ شَىۡءٍ‌ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الۡفَضۡلُ الۡمُبِيۡنُ

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”. QS. al-Naml: 16.

Pada ayat tersebut, ulama berpendapat bahwa Nabi Daud mewariskan kenabian, keilmuan, dan kerajaan kepada nabi Sulaiman. Pendapat lain mengatakan bahwa Nabi Daud tidak mewariskan harta dan kenabian, karena kenabian merupakan anugerah ilahi. Nabi Daud hanya mewariskan kerajaan kepada nabi Sulaiman.[3]

Kepemimpinan Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman adalah raja Bani Israil, yang menurut perhitungan ahli sejarah berkuasa di tanah Kan’an selama 40 tahun. Kisah kepemimpinannya dapat kita jumpai di dalam Al-Qur’an sebanyak 16 kali. Beberapa di antaranya terdapat dalam QS. al-Baqarah: 102, QS. al-Nisa’: 167, QS. al-An’am: 84, dan QS. al-Anbiya’: 78, 79, 80.

وَحُشِرَ لِسُلَيۡمٰنَ جُنُوۡدُه مِنَ الۡجِنِّ وَالۡاِنۡسِ وَالطَّيۡرِ فَهُمۡ يُوۡزَعُوۡنَ

“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (QS. al-Naml: 17)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud ‘dihimpunkan’ di sini adalah Nabi Sulaiman menguasai bala tentara yang terdiri dari jin, manusia, dan burung dengan penuh kebesaran. Jin dan manusia berada dalam satu barisan, sedangkan burung berada berada di atasnya. Jika terjadi udara panas, maka burung burung akan menaungi dengan sayap-sayapnya. Nabi Sulaiman mengatur mereka dengan tertib. Beliau mengatur agar posisi pertama sesuai dengan posisi yang lain. Tujuannya agar teratur tidak keluar dari tempatnya.[4]

Penyebutan tentara yang terdiri dari tiga elemen makhluk tadi tak lepas dari peranannya yang besar dalam kisah kepemimpinan Nabi Sulaiman. Sebagaimana beliau mengutus burung Hud Hud kepada Ratu Saba’. Jin Ifrit yang menawarkan membawa singgasana ratu dalam tempo setengah hari. Dan manusia membawa singgasana tersebut dalam sekejap mata. Seluruh bala tentara telah terdesain untuk menjadi pasukan yang tertib, teratur, dan penuh kedisiplinan. Siapapun bala tentara yang melanggar maka akan mendapatkan sanksi.

Baca Juga  Kepemimpinan Negara: Khazanah Islam Klasik Hingga Modern

***

“Kemudian kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya kemana saja yang ia kehendaki. Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam.” (QS. Ṣād: 36-37)

Arti ayat tersebut merupakan lanjutan dari QS. Ṣād: 35, yaitu doa Nabi Sulaiman setelah mendapatkan ujian dari Allah berupa sakit hingga membuat tubuhnya lemah tak berdaya. Doa tersebut ialah sebagai berikut:

قَالَ رَبِّ اغۡفِرۡ لِىۡ وَهَبۡ لِىۡ مُلۡكًا لَّا يَنۡۢبَغِىۡ لِاَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِىۡ‌ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ الۡوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sesungguhnya Engkaulah yang maha pemberi.”

Allah mengabulkan doa tersebut sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ṣād: 36-37. Bentuk pengabulan doa itu ialah dengan tunduknya angin yang berhembus dan setan-setan kepada Nabi Sulaiman sebagaimana dalam pengaturannya.

Keteladanan dalam Kepemimpinan Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman merupakan tokoh inspiratif dalam sejarah Islam yang memiliki pola kepemimpinan luar biasa. Ia terkenal dengan kebijaksanaan dan keadilannya. Potret kepemimpinannya menampilkan seorang pemimpin yang mampu memberikan visi yang jelas dan memotivasi rakyatnya melalui kebijaksanaan dan keadilannya. Memiliki pengaruh ideal, Nabi Sulaiman adalah teladan bagi pengikutnya melalui integritas, moralitas, dan etika yang tinggi.[5]

Nabi Sulaiman memberikan perhatian kepada rakyatnya dan memastikan setiap orang mendapatkan perlakuan yang adil sesuai kebutuhannya. Beliau juga mendorong inovasi, berpikir kritis, dan pemecahan masalah yang kreatif kepada rakyatnya. Kepemimpinannya menunjukkan kriteria kepemimpinan yang seharusnya diterapkan oleh para pemimpin zaman sekarang.

***

Berikut keteladanan kepemimpinan Nabi Sulaiman:[6]

  1. Teliti dan tegas. Nabi Sulaiman memiliki banyak pasukan. Karena ketelitiannya, ia dapat mengetahui pasukannya yang tidak ada. Sikap ini juga berarti siap menerima konsekuensi untuk sesuatu yang berada di luar kehendaknya. Berani mengambil keputusan berarti bersiap merencanakan sesuatu yang tinggi, namun juga siap untuk menghadapi resiko yang terjadi.
  2. Berintelektual. Hal ini terlihat ketika beliau tidak gegabah dalam bertindak. Ia tidak langsung mengambil keputusan untuk membenarkan atau mempermasalahkan sesuatu. Namun, ia mendengar keterangan terlebih dahulu.
  3. Berbudi luhur. Hal ini dapat kita temukan dari kisahnya tatkala beliau menjatuhkan keputusan terkait tanaman petani yang rusak akibat ulah kambing-kambing berkeliaran.
  4. Anti suap. Ketika Ratu Balqis mengirim seorang utusan kepadanya sambil membawa hadiah, sang ratu memperkirakan Nabi Sulaiman dapat berdamai dengan hadiah tersebut. Namun, ia justru menolaknya dan meminta utusan tersebut membawa hadiahnya kembali kepada ratu mereka.
  5. Selalu berdoa. Meskipun Nabi Sulaiman telah dikaruniai kerjaan yang megah, harta melimpah, dan berbagai kelebihan yang tidak manusia miliki pada umumnya, ia tidak pernah lupa kepada Allah. Sebagaimana donya dalam QS. Shad: 35.
Baca Juga  Inspirasi Khilafah Nabi Daud: Kepemimpinan Politik Ideal

Referensi

[1] Zulihafnani, “Kepemimpinan Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an”, Journal of Qur’anic Studies (2019), h. 85.

[2] Ibnu Mas’ud, The Leadership of Sulaiman, (Yogyakarta: Diva Press, 2018), h. 13.

[3] Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja, ”Kepemimpinn Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an”, SkripsiUIN Syarif Jakarta (2022), h. 33.

[4] Abu al-Fada Ismail ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-Azum, (tp: Maktabah Aulad al Syaikh li al-Turats, 2000), h. 396.

[5] Abdul Razak “Kepemimpinan Transformatif Nabi  Sulaiman Perspektif Pendidikan”, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, (2024), h. 111.

[6] Qoyyimun Nafal, “Kepemimpinan Profetik Nabi Sulaiman” Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam (2024), h. 124-130.

Editor: Dzaki Kusumaning SM