Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bincang Buku Ayat Cahaya dalam Perspektif Sufistik

Tanwirid — Pada bulan ramadhan kali ini, tanwirid mengadakan bincang buku Tafsir Ayat Cahaya melalui live instagram tanwirid. Ahmed Zaranggi selaku redaktur pelaksana tanwirid menyebutkan ada 4 corak yang terkandung dalam buku ini, yaitu corak sufistik, corak linguistik (kebahasaan), corak adabi ijtima’i (sosial kemasyarakatan) dan corak filosofis. Buku ini merupakan usaha kolektif dari 15 penulis dan dua di antaranya adalah dari Syauqi Shalki Alfarizi dan Tri kurnia Agustian untuk mengungkap penafsiran cahaya perspektif sufistik.

Pembacaan Ayat Cahaya Terhadap Perspektif Sufistik Penafsiran al-Alusi

Penafsiran ayat cahaya dari al-Alusi melalui karyanya Ruh al-Ma’ani adalah tulisan yang dibedah oleh Syauqi selaku penulis dan kontributor. Pertama-tama ia mengenalkan al-Alusi adalah seorang murid dari Syekh al-Naqsabandi. Penafsirannya bermula dari isyarat mimpi yang menjadikan tafsir ini bercorak isyari’ atau sufistik.

Dalam penafsiran al-Alusi, QS. an-Nur ayat 25, Syauqi mengungkapkan penafsiran penggalan pertama dari ayat ini yaitu Allah pemberi cahaya langit dan bumi bahwa cahaya Allah tidaklah bermakna cahaya biasa.

“Ada dua poin tentang cahaya pada ayat ini, yaitu Allah sebagai pencipta cahaya dan Allah sebagai pengatur cahaya”, ungkapnya.

Adapun penjelasan terkait cahaya di atas cahaya pada ayat ini berkaitan dengan tingkatan akal manusia.

Ada 4 tingkatan akal manusia. Pertama, al-Aqlu al-Haylani. Yaitu akal yang dalam keadaan kosong. Kedua, al-Aqlu bil Malakah. Yaitu akal yang sudah mulai menerima informasi melalui panca indra sehingga muncul ilmu. Ketiga, al-aqlu bil fi’li. Yaitu akal yang sudah bisa menggunakan data-data informasi untuk dijadikan alat untuk memahami suatu teori. Keempat, al-aqlu al-Mustafat. Yaitu akal yang sudah bisa digunakan untuk menyusun ilmu-ilmu dasar.

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Hajj Ayat 39: Alasan Peperangan Nabi Muhammad Saw

***

Dalam memahami penafsiran corak sufistik ini, Syauqi menjelaskan penafsiran ini ditulis dengan penuh kehati-hatian.

“Seperti penafsiran lafal-lafal ayat tasbih. Yaitu penafsiran tentang yaddun, para mufasir yang tergolong sufi memang menafsirkannya secara hati-hati”, jelasnya yang juga alumnus STIQSI Lamongan 2022.

Pada penggalan akhir ayat, sebagai sebuah perumpamaan maupun permisalan, kita diajak untuk mengenal Allah dengan keagungannya. Permisalan itu terkadang dibutuhkan manusia sebagai petunjuk kepada suatu hal yang agung dan tinggi. Meski begitu, permisalan tersebut tidak akan mengurangi derajat Allah di hadapan manusia.

Dari tulisan ini, Syauqi mengambil pesan dan mengajak untuk meneladani cahaya Muhammad Saw sebagai kendaraan untuk menuju Allah Sang Maha Cahaya. Karena dengan mengikuti cahayanya Muhammad, kita dapat menyinari lingkungan dengan cahaya kebajikan dan kebijaksanaan yang berlimpah.

Pembacaan Ayat Cahaya Terhadap Perspektif Sufistik Penafsiran at-Tustari

Sementara, penafsiran ayat cahaya dari at-Tustari melalui karyanya Tafsir al-Qur’anul ‘Adzim dibedah oleh penulis sekaligus kontributor, Tri Kurnia.

Pertama-tama, ia mengenalkan at-Tustari adalah seorang sufi yang dianggap memiliki penafsiran yang lurus diantara pro kontra para mufasir dalam pemahaman terhadap al-Qur’an.

Dalam memahami penggalan lafal nur pada awal ayat, Tri Kurnia mengungkapkan bahwa nur itu sebagai tanda simbolik nur muhammad.

“Sebagai tanda simbolik nur Muhammad, akan hadir pada diri manusia manakala ada keimanan terhadap Allah Swt karena Muhammad Saw adalah insan kamil. Sehingga seseorang dapat tercerahkan dan mencerahkan kehidupannya dan alam semesta”, ungkapnya.

***

Secara penafsiran, Tri Kurnia juga memaparkan bahwa ada kandungan moral dalam penafsiran ayat ini.

“Moral terkait ayat-ayat al-Qur’an. Dengan moral itu yang tertancap dalam hati akan ada cahaya mencapai kebenaran”, tegasnya yang juga mahasiswi STIQSI lamongan.

Baca Juga  Mengendalikan Hawa Nafsu: Jihad Akbar dalam Islam

Adapun terkait frasa tingkatan cahaya pada ayat ini bahwa cahaya akan meningkat sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dicapai. Cahaya itu berupa aspek spiritual maupun intelektual. Artinya dalam memperkuat kadar cahaya supaya lebih terang dengan menghilangkan kegelapan seperti kebodohan ataupun kesombongan menggantinya dengan sinar cahaya seperti akhlaq yang baik, taat beribadah maupun menambah ilmu pengetahuan.

Dari tulisannya, Tri Kurnia mengambil kesimpulan bahwa cahaya al-Qur’an seperti pelita, yang sinarnya ialah pengetahuan, sumbunya ialah syari’at agama dan minyaknya ialah ketulusan dan akhirnya cahayanya adalah spiritual.

Editor: An-Najmi