Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bukan Ulama yang Mati, Melainkan Kepakaran

Kepakaran
Gambar: Kompas.com

Matinya kepakaran atau wafatnya para ulama merupakan sebuah tanda bahwa peran ulama (ilmuwan) sudah tidak diperhitungkan lagi, dikarenakan masyarakat lebih percaya terhadap hal-hal yang mereka lihat di Internet.

Kiamat merupakan sebuah kepastian yang diyakini oleh umat Islam. Hal ini sudah disampaikan oleh Nabi dalam riwayat sahihnya. Mau tidak mau, sebagai umat Islam kita harus meyakini hal itu karena itu merupakan dari rukun iman keenam yaitu mengimani hari akhir.

Tanda-tanda kiamat yang diutarakan oleh Nabi juga berbagai macam adanya. Dimulai turunnya dajjal, matahari terbit dari barat, merdekanya Palestina, serta matinya para ulama. Hal tersebut merupakan tanda-tanda semakin dekatnya hari akhir bagi kepercayaan muslim. Tetapi apakah tanda-tanda tersebut dapat dimaknai dan dipahami secara literal?

Kita sadar bahwa apa yang diucapkan Nabi Saw merupakan salah satu pedoman hidup umat Islam setelah Al-Qur’an. Tapi perlu kita pikirkan kembali apakah semua redaksi tersebut harus kita telan mentah-mentah? Maka dari itu perlu adanya sebuah pembahasan mengenai tanda-tanda kiamat ini.

Ulama Tidak Sesempit Itu

Masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa ulama merupakan seorang ustaz, kiai, atau orang yang menguasai ilmu agama khususnya Islam. Jika kita lihat lebih jauh, makna ulama dari segi bahasa adalah bentuk kata pelaku plural (jama’) dari kata alim. Arti dasarnya adalah orang yang mengetahui atau orang berpengetahuan.

Dalam penjelasan kata tersebut sudah jelas bahwa ulama merupakan orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan bukan hanya ilmu agama saja. Tetapi berbagai macam keilmuan. Bahkan dalam bahasa Arab modern, kata tersebut lebih dikaitkan dengan ilmuwan atau orang yang pakar dengan ilmu-ilmu eksak seperti fisika, kimia, nuklir, dan sejenisnya.(Abd Salam: 2022)

Baca Juga  Menyoal Otensitas Dan Relevansi Hadis Tentang Cuka

Pergeseran tersebut mungkin disebabkan beberapa hal, salah satunya sejarah. Bahwa peran ulama di masa penjajahan Belanda telah memberikan peran penting bagi ulama sebagai tokoh intelektual dan spiritual yang berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Dengan hadirnya ulama di masa itu, masyarakat pastinya membutuhkan spirit dengan pendekatan Rohani yang menjadikan ulama sebagai sosok penentu keputusan dalam bertindak.

Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Clifford Geertz bahwa hadirnya kyai adalah sebagai cultural broker yaitu ulama atau kiai menjadi penyaring terhadap budaya yang datang dari luar.(Geertz 1960). Hal ini yang menyebabkan bahwa ulama adalah orang yang dianggap memiliki pengetahuan agama.

Makna ulama yang begitu besar tidak bisa kita lihat dengan sempit. Apalagi posisi dan peran ulama pada masa sekarang sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial dan budaya masyarakat. (Mutrofin 2019)

Dengan pembahasan di atas kita mengetahui bahwa makna ulama bukan hanya yang paham agama saja tetapi bisa juga ahli astrologi, fisika, dll. Karena istilah dikotomi keilmuan tidak ada dalam Islam.

Matinya Ulama atau Kepakaran?

Salah satu hadis yang menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah dengan hadis riwayat Bukhari, yaitu:

حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Imran bin Maisarah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abu At Tayyah dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasul ﷺ, “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan banyaknya orang minum khamar serta perzinahan yang merajalela”. (Bukhari:78)

Baca Juga  Tafsir Akhlaqi: Konsep Keteladanan Qur'ani

Diangkatnya ilmu dalam hal ini adalah dengan mewafatkan para ulama sesuai dengan sabda Nabi:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (Bukhari:98)

Jika kita memahami hadis ini secara tekstual, maka bisa kita simpulkan bahwa wafatnya ulama adalah meninggal secara jasmani. Bagaimana jika kita melihat hal itu dengan kacamata kontekstual? Apalagi hadis ini terkesan prediktif.

Memahami Hadis Kiamat ala Rahman

Hadis-hadis yang bersifat prediktif menurut Fazlur Rahman adalah hadis yang tidak bersumber dari Nabi Saw, tetapi merupakan hadis-hadis yang diformulasikan dan seolah-olah bersumber dari Nabi. Hadirnya hadis yang bersifat prediktif disebabkan adanya peperangan yang tak henti-hentinya dan situasi politik. Sehingga dibuatlah prediksi-prediksi yang bertujuan kepentingan golongan politik, dogmatis dan teologis.(Idris 2016)

Selain itu, Fazlur Rahman berpendapat bahwa hadis Nabi harus bisa dihubungkan dengan periode yang relevan di dalam sejarah yang kemudian. Hadis harus bisa dibuktikan secara historis dan disesuaikan dengan kodisi zaman tersebut.(Rahman 1965)

Hadis tentang matinya ulama perlu dilihat secara kontekstual. Bahwa yang dimaksud matinya ulama adalah pakar-pakar keilmuan sudah tidak terpakai lagi keilmuannya. Kepakaran tidak terlalu dilirik. Sebab jika kita membaca hadis ini, maka bisa dilihat hadis ini bersifat universal. Dalam arti, kesimpulan bahwa kiamat semakin dekat dengan wafatnya ulama di Indonesia tidak bisa diterima.

Baca Juga  Memahami Keindahan Relasi Antarkata dalam QS. At-Tin

Kepakaran telah Mati

Jika kita melihat realitas sosial di masa sekarang, sebagian masyarakat sudah tidak peduli dengan kepakaran dan para pakar. Fungsi dari adanya ilmuwan semakin redup, apalagi dengan cepatnya arus informasi di internet menjadikan peran ilmuwan tidak berdaya lagi. Kita lihat contoh bagaimana ketika kasus Covid-19 terjadi.

Sebanyak 45,7% (CNN) masyarakat Indonesia tidak mau melakukan vaksin, hal ini disebabkan dengan derasnya informasi-informasi hoax yang tersebar di intenet. Konspirasi-konspirasi yang hadir di internet bisa berdampak pada psikis masyarakat yang melihatnya. Sehingga menimbulkan persepsi keliru dalam lingkungan masyarakat.

Hal ini sudah disinggung oleh Tom Nichols dalam “The Death of Expertise (Matinya Kepakaran)”. Bahwa masyarakat modern saat ini merasa dirinya tidak membutuhkan informasi dari pakarnya. Sehingga apa yang muncul di internet merupakan sebuah keniscayaan. Menurutnya, dasar dari peradaban modern merupakan ketidakberpihakan masyarakat dan penolakan terhadap sains dan rasionalitas.

Realitas yang terjadi pada akhirnya akan menyadarkan kita, perlunya sebuah penjagaan dalam pengetahuan. Matinya para ulama merupakan sebuah isyarat untuk kita agar senantias menjaga sebuah pengetahuan. Matinya kepakaran atau wafatnya para ulama merupakan sebuah tanda bahwa peran ulama (ilmuwan) sudah tidak diperhitungkan lagi, dikarenakan masyarakat lebih percaya terhadap hal-hal yang mereka lihat di Internet.

Tugas kita sebagai generasi masa depan bangsa harus bisa memahamkan masyarakat mengenai fenomena matinya ulama saat ini. Sehingga dunia saat ini tidak kehilangan pakar-pakar keilmuan yang akan melanjutkan peradaban masyarakat di masa yang akan datang.

Penyunting: Bukhari