Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menuju Surga Melalui Jalur Algoritma di Era 5.0

algoritma
Sumber: https://kuliahdimana.id

Media sosial itu berbasis pada apa yang disebut dengan algoritma. Algoritma sendiri memiliki arti sistem yang membaca pola kita untuk kemudian ia merasa lebih tahu pada kita. Misalnya seandainya kita mencari sepatu di marketplace, kemudian kita membuka youtube, Instagram, shopee, dan lain sebagainya. Setelah itu maka yang muncul sebagai iklan di medsos itu adalah iklan sepatu. Mengapa penulis bilang algoritma merasa lebih tahu kepada kita? Karena manusia itu makhluk yang unik dan kompleks.

Sebagaimana Jalaluddin Rumi seorang sufi yang masyhur mengatakan bahwa; “manusia itu samudera dalam bentuk tetesan, sedangkan sistem itu cenderung menggeneralisasi dan menyederhanakannya.” Sebagian orang mencari informasi tentang suatu hal sekali, dua kali, atau beberapa kali. Boleh jadi bukan berarti ia suka hal tersebut, terkadang hanya untuk kebutuhannya yang justru ia benci. Salah satu contohnya ialah kasus mahasiswa atau mahasiswi yang menyelesaikan studinya melalui ujian skripsi.

Cara Kerja Algoritma

Perkara algoritma ini penting untuk kita tahu sebagai seorang muslim dan manusia pada umumnya. Maka dari itu benci saja tidak boleh apalagi dicampur dengan kebodohan. Kemudian algoritma facebook tentu ditentukan oleh penciptanya yaitu Mark Zuckerberg dan kawannya, begitupun algoritma youtube, Instagram, twitter, dan lain sebagainya. Ia ditentukan pemilik medsos dengan sesuka hatinya berdasarkan track record kita dalam bermedia sosial. Maka kita yang hanya konsumen ini hanya menjadi budaknya saja, yang mau diarahkan sesuai dengan kemauan mereka yang seolah menjadi kemauan kita.

Jika ingin Kembali ke konsep Islam maka sebenarnya Rasulullah telah memberi basis algoritma dalam hidup kita. Sebagaimana yang disabdakan oleh beliau dalam salah satu haditsnya “Khairunnaas anfa’uhum linnaas;” artinya sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam penggalan QS. Al-Isra’: 7 yang berbunyi:

Baca Juga  Mengenal Sejarah Nabi melalui karya Al-Mubarakfuri

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri”

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa keshalehan manusia tidak hanya diukur secara jalan vertikal atau ibadah mahdhah kepada Tuhannya saja, akan tetapi diukur secara horizontal yaitu berbuat baik kepada sesama manusia khususnya melalui medsos. Sehingga harusnya yang populer dan dibuat populer oleh algoritma adalah yang paling bermanfaat bukan yang paling sensasional atau bahkan kontroversial.

Akan tetapi pada kenyataannya yang membuat medsos bukanlah orang Islam atau bukan orang yang bervisi Islami. Maka algoritmanya pun tidak dibuat Islami, dan tentunya penulis tidak berani memimpikan medsos Islami dengan basis algoritma ala kanjeng Nabi. karena orang kafir sudah berbicara hijrah dari 4G ke 5G, sedangkan kaum kita masih sibuk dengan amalan bid’ah ke amalan yang katanya sesuai sunnah. Maka penulis menulis yang memungkinkan untuk dicapai saja.

Memanfaatkan Algoritma

Yakni bahwa memang algoritma itu tidak mungkin kita kendalikan karena bukan kitalah pemilik medsos tersebut. Akan tetapi algoritma untuk masing-masing kita bisa kita kendalikan, karena kitalah pemilik akun medsos kita sendiri. Sebagaimana kata Rasul bahwa setiap diri kita adalah pemimpin yang diberi kuasa penuh serta dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan itu. Artinya bahwa kita mampu mencapai pada titik keshalehan algoritma bukan hanya keshalehan secara ritual dan keshalehan sosial, akan tetapi juga dalam keshalehan medsos.

Caranya adalah dengan mengakses, like, memfollow, dan subscribe akun atau konten-konten yang berbentuk tulisan, gambar, audio, atau video yang positif dan inspiratif, yang konstruktif bagi diri kita bukan justru kebalikannya yaitu desdruktif bagi spiritualias dan mentalitas kita. Sehingga medsos akan mengisi timeline akun kita dengan sosok dan informasi yang shaleh dan yang baik pula. Dengan begitu semakin kita bermedsosan justru semakin kita shaleh dan sehat secara spiritual dan mental karena yang kita konsumsi informasi yang baik bagi spiritual dan sehat bagi mental kita. Sebab kata Rasul dalam riwayat (bukhori dan muslim) “seseorang itu akan dipengaruhi sedikit atau banyaknya circle tongkrongannya”.

Sedangkan tongkrongan di era 5.O ini bukan hanya tongkrongan yang berbasis offline, akan tetapi juga berbasis online atau secara virtual yaitu medsos. Oleh karena itu cermatlah dalam mengakses info di medsos supaya medsos kita menjadi jalan kita ke surga.

Baca Juga  Peran Salat Dalam Mencegah Perbuatan Keji Dan Munkar: Q.S Al-Ankabut 45