Al-Qur’an adalah pedoman manusia yang abadi. Al-Qur’an adalah kalam Tuhan yang penuh dengan mukjizat, keagungan dan keutamaan di dalamnya. (Fahm al-Quran wa Ma’anih, hal. 246). Bahkan, orang yang membaca al-Qur’an, penghafal al-Qur’an mempunyai keistimewaan tersendiri. Hampir tidak ada satu pun yang tidak termuat di dalam al-Qur’an; mulai dari gramatikal bahasa, ilmu fikih dan lain sebagainya. Termasuk juga perihal masalah teologi yang tertulis di dalam al-Qur’an. Meskipun tidak tertulis secara jelas dan masih butuh terhadap penafsiran dan pentakwilan. Tulisan ini membahas kiritik Al-Alusi atas kisah israiliyat.
Al-Qur’an memuat berbagai banyak cerita-cerita dari masa lalu. Dari beberapa ayat al-Qur’an yang memuat historisitas, ada mufasir yang menganalisis ayat tersebut dengan memasukkan cerita-cerita israiliyat. Tafsir tersebut dapat ditemukan pada tafsir-tafsir periode awal. Karena pada masa tersebut, belum ada filtrasi, sehingga semua cerita israiliyat dimasukkan tanpa dipilah-pilih. Pada masa abad pertengahan, tafsir yang ditulis sudah ada filtrasi, sehingga cerita-cerita israiliyat jarang ditemukan, atau ada tetapi untuk di krtitik.
Kisah Israilliyah
Permulaan cerita-cerita israiliyat menurut al-Dhahabi dimulai dari masa setelah meninggalnya Nabi, yaitu masa sahabat, yang kemudian berlanjut pada masa periwayatan israiliyat secara besar-besaran. Banyaknya cerita-cerita israiliyat pada masa awal, karena banyak sahabat Nabi yang masuk Islam dari golongan Ahli Kitab Sehingga cerita israiliyat belum ada filtrasi dan banyak nama-nama yang terkenal sebagai periwayat cerita israiliyat, seperti Abdullah bin Salam, Ka’ab bin Akhbar, Wahab bin Munabbih, Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (Al-Tafsir wa al-Mufassirun, hal. 97, jilid 1).
Al-Dhahabi dalam bukunya al-israiliyyat fi tafsir wa al-hadith mengatakan bahwa tafsir Ruh al-Ma’ani merupakan salah satu tafsir yang banyak memuat cerita-cerita israiliyat. Bahkan komentar al-Dhahabi tentang tafsir Ruh al-Ma’ani adalah tafsir yang ditulis dengan bersandar pada ulama-ulama sebelumnya yang banyak menggunakan israiliyat sebagai analisis tafsir dan banyak kabar yang tidak mempunyai dasar sama sekali (Al-israiliyyat fi tafsir wa al-hadith, hal. 136).
Dua Pendapat Yang Berbeda
Pernyataan yang ditulis oleh Ali Iyazi lebih moderat dari pendapat al-Dhahabi dengan mengatakan bahwa tafsir Ruh al-Ma’ani adalah produk tafsir yang luar biasa setelah masa Fakhru al-Din al-Razi. Bahkan menurut Iyazi, tafsir Ruh Al-Ma’ani adalah hasil replikasi tafsir al-Razi; yang seakan-akan orang yang membaca tafsir Ruh Al-Ma’ani sudah mengikuti tafsir al-Razi. Meskipun terdapat pengurangan dan penambahan di dalamnya (Al-Mufassirun Hayatuhum Wamanhajatuhum, hal. 819, jilid 2).
***
Salah satu contoh kritik yang dilakukan oleh al-Alusi ialah, pertama ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 102. Al-Alusi memberikan analisis ayat tersebut dengan menampilkan cerita malaikat yang heran kepada anak cucu Adam yang tidak taat terhadap perintah Allah. Kemudian malaikat protes dan mengatakan kepada Allah lau kunna makanahum ma ‘ashainaka (jika saja kita berada di tempat mereka, pasti kami tidak akan bermaksiat kepada-Mu). Lalu Allah mengatakan pada mereka ikhtaru malakaini minkum (pilihlah dua malaikat diantara kalian), kemudian dari jawaban Allah tersebut, mereka memilih dua malaikat yang kemudian Allah turunkan ke bumi. Dua malaikat yang Allah turunkan itu dikasih syahwat dan menjadi hakim.
Dua malaikat tersebut diuji dengan perempuan yang bernama Zahrah. Perempuan itu tidak akan menerima mereka, kecuali mereka bersedia menyembah berhala, meminum khamr dan membunuh. Pada akhirnya, rayuan perempuan itu berhasil memikat mereka dan melakukan syarat yang sudah disebutkan. Dusta yang mereka lakukan ingin ditebus dan diberi pilihan antara diberi siksa di dunia atau di akhirat. Pada akhirnya, mereka memilih untuk disiksa di dunia sampai sekarang (Al-israiliyyat fi tafsir wa al-hadith, hal. 141).
Cerita yang disebutkan di atas merupakan cerita yang tidak masuk akal. Banyak ulama yang mengingkari cerita tersebut karena tidak mungkin malaikat mengerjakan dusta kepada Allah. Bahkan al-Alusi mengutip pendapat al-Razi yang mengatakan bahwa cerita yang ditulis seperti itu ialah cerita yang tidak benar dan tidak bisa diterima. Shihab al-‘Irqai lebih keras dari pada komentar al-Razi dengan mengatakan orang yang percaya cerita dua malaikat yang dusta kepada Allah dengan sebab seorang perempuan, maka orang itu kafir. Karena malaikat tidak mungkin berdusta kepada Allah dengan ayat al-Qur’an itu sendiri, yaitu QS. Al-Tahrim [66]: 6, QS. Al-Ambiya’ [21]: 19 dan 20.
***
Kedua, QS. Al-Maidah [3] :12. Cerita israiliyat yang ditulis oleh al-Alusi sangat jelas ketika mengutip riwayat dari al-Baghawi tentang cerita Auj bin Unuq yang dikisahkan mempunyai tinggi 3331 dzira’ atau kurang lebih 15,38922 Km. Ia berlindung dan minum dari awan, dapat ikan dari dasar laut kemudian dipanggang di matahari, lalu dimakan. Dan juga air banjir yang menutupi bumi tetapi tidak melewati lutut Auj. Ia Hidup selama 3000 tahun sampai Allah membuatnya mati di tangan Nabi Musa (Ruh al-Ma’ani, hal. 258, jilid 3).
Setelah al-Alusi menjelaskan panjang lebar mengenai cara matinya Auj. Ia juga menjelaskan bahwa ibu Auj, yaitu Unuq merupakan salah satu keturunan Nabi Adam yang mempunya tempat duduk seluas bumi. Unuq juga bertemu dengan Bani Israil yang Allah perintahkan untuk masuk ke bumi yang suci, yang kemudian mengambil semua Bani Israil, lalu ditaruh di kepalanya yang memiliki bundelan dari kayu (Ruh al-Ma’ani, hal. 259, jilid 3).
Cerita yang ditulis oleh al-Alusi mengenai israiliyat di atas bukan menunjukkan bahwa ia setuju dengan cerita tersebut. Al-Alusi memberikan komentar bahwa cerita israiliyat tentang Auj sudah sangat populer, tetapi cerita tersebut tidak mempunyai bukti data sama sekali dan merupakan kebohongan yang dibuat-buat oleh Ahli Kitab (Ruh al-Ma’ani, hal. 259, jilid 3). Komentar al-Alusi menunjukkan bahwa ia memasukkan cerita-cerita israiliyat tidak lain hanya untuk mengkritik dan memberi informasi bahwa cerita tersebut tidak benar.
Kesimpulan
Produk tafsir adalah sebuah interpretasi yang digunakan oleh mufasir untuk menuangkan setiap ide dan pemikiran terhadap tulisan. Ada banyak model tafsir dengan masing-masing gaya yang berbeda-beda, termasuk tafsir yang mencantumkan cerita israiliyat sebagai bahan analisis. Namun, tafsir Ruh Al-Ma’ani adalah tafsir yang memuat cerita israiliyat dengan tujuan untuk di kritik.




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.