Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Beyond Beauty: Menerima Diri dengan Seutuh Hati

Sumber: istockphoto.com

Insecure atau kurang percaya diri terhadap penampilan dan kecantikan atau ketampanan  adalah perasaan yang dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang gender. Perasaan ini dapat dipicu oleh berbagai faktor; pertama, perbandingan sosial. Media sosial dan industri kecantikan sering kali menyampaikan gambaran ideal tentang kecantikan yang mungkin tidak realistis bagi kebanyakan orang. Akibatnya, banyak wanita yang merasa tidak menerima bahkan tidak puas dengan penampilan mereka jika dibandingkan dengan gambar yang disempurnakan secara digital.

Kedua, setiap budaya dan kelompok sosial memiliki standar kecantikan yang berbeda-beda. Ini dapat menciptakan perasaan inferioritas bagi wanita yang merasa mereka tidak memenuhi norma kecantikan yang berlaku. Ketiga, wanita yang memiliki pengalaman atau komentar negatif tentang penampilan mereka, seperti dari teman, keluarga, atau orang lain, sehingga mungkin membuatnya cenderung merasa tidak percaya diri. Keempat, beberapa orang cenderung fokus pada kekurangan diri mereka sendiri dan mengabaikan kelebihan dan potensi diri, dan masih banyak lagi faktor-faktor lainnya.

Bukankah Kecantikan itu Selalu tentang Keindahan Visual?

Kecantikan sebenarnya adalah konsep yang luas dan kompleks. Tidak hanya terbatas pada aspek visual semata, tetapi juga mencakup kecantikan internal (kepribadian, kebaikan hati, empati, dan kebijaksanaan), intelektual (pengetahuan, kecerdasan, dan kreativitas), dan kecantikan spiritual. Jadi, kecantikan bukan hanya cerminan dari penampilan fisik, tetapi juga cahaya yang berasal dari dalam diri.

Penahkah anda melihat wanita berparas cantik sehingga membuat anda terkagum-kagum, lantas menjadi terlihat biasa saja ketika mengetahui perangainya yang tidak sesuai dengan ekspektasi anda?

Atau pernahkah anda melihat wanita yang berparas dan berpenampilan sederhana. Lantas kemudian terlihat istimewa dan berkarisma bahkan berubah terlihat sangat cantik ketika mengetahui kualitas internal, intelektual atau spiritualnya?

Baca Juga  Etika Al-Qur'an dalam Mewaspadai Kehadiran Medsos

Satu contoh lagi, anda pasti sering melihat sepasang kekasih yang salah satunya terlihat begitu cantik atau tampan, sedang yang lainnya sederhana dan terlihat biasa saja secara visual. Kemudian terdengar bisikan-bisikan di sekitar, “Kok bisa si Fulanah/Fulan mau sama si Fulan/Fulanah?”, “Seharusnya dia bisa mendapatkan yang lebih cantik atau tampan”, “Mereka sama sekali tidak serasi”, dan sebagainya. Padahal, ada sesuatu yang lebih istimewa di dalamnya melebihi kecantikan/ketampanan secara visual.

***

Jadi, sifatnya yang relatif jangan selalu diukur dengan hanya sebatas visualnya saja. Setiap orang dapat memiliki definisi kecantikan yang berbeda berdasarkan pengalaman, nilai, dan persepsi masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menerima dan mencintai diri sendiri sebagai anugerah Allah Swt. Kemudian menyadari bahwa setiap manusia diciptakan dengan kelebihan yang jika terus dikembangkan akan menampilkan aura karismatik dengan sendirinya.

Allah Swt., berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin {95}: 4)

Wahbah Zuhaili menjelaskan dalam al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj  bahwa makna fi Ahsani taqwim adalah keteraturan dan keseimbangan. Digambarkan sebagai bentuk tertinggi (sebagus-bagus dan sebaik-baik bentuk), sesempurna anggota tubuh, dengan penempatannya. Dikombinasikan dengan pengetahuan, pemikiran, kalam (komunikasi), bimbingan dan kebijaksanaan (hikmah), sehingga ditekankan manusia sebagai khalifah (pemimpin) yang layak di dunia ini..

Mengutip pula suatu riwayat dalam Tafsir Ibnu Katsir di buku Masailul Fiqhiyah Al-Haditsah, Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya amal kebaikan itu akan memancarkan cahaya di dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan dalam rizki dan menumbuhkan rasa cinta di hati manusia kepadanya. Sesungguhnya amal kejahatan itu akan menggelapkan hati, menyuramkan wajah, melemahkan badan, mengurangkan rizki dan menimbulkan rasa benci di hati manusia kepadanya.”

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Ahzab Ayat 56: Makna dan Hukum Membaca Shalawat

Kecantikan diukur bukan hanya dari aspek fisik semata. Sebab kecantikan dari dalam juga dapat membuat visual seseorang terlihat teduh dan indah inilah yang dikenal dengan “beyond beauty”. Dengan demikian, penilaian tentang kecantikan seorang individu dalam Islam tidak terbatas pada penampilan fisik, tetapi juga mencakup kualitas kepribadian dan moral. Namun, beberapa dari kaum wanita seringkali melupakan prioritas kecantikan yang sebenarnya hingga membuatnya fokus pada kekurangan dibandingkan kelebihan yang dimiliki.

Lalu, Bagaimana Menerima Diri Seutuh Hati?

Mencintai diri sendiri terkadang memang suatu proses yang membutuhkan kesabaran dan penerimaan diri. Ini berarti merangkul segala perbedaan dan keunikan yang dimiliki; tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain atau mengikuti norma-norma sosial yang tidak realistis.

Namun, mencintai diri sendiri akan membuat seseorang akan merasa lebih puas, memiliki pandangan positif tentang hidup, dan mampu menerima serta menghadapi tekanan hidup dengan lebih baik. Sikap yang baik terhadap diri sendiri akan memperkuat kesehatan mental, membantu mengatasi perasaan cemas dan depresi, serta memupuk sikap optimisme dan kerelaan untuk mencoba hal-hal baru.

Paling tidak ada beberapa hal kecil yang penting untuk dilakukan dan disadari, pertama, hindari perbandingan yang tidak sehat. Jangan membandingkan diri dengan orang lain, terutama berdasarkan penampilan. Berpenampilan senyaman mungkin bagi diri sendiri tanpa perlu melihat penampilan orang lain dan mendengarkan pendapat orang lain yang men-judge penampilan kita. Fokuslah pada pertumbuhan pribadi dan pencapaian positif yang dimiliki.

***

Kedua, tingkatkan rasa percaya diri yaitu dengan berinvestasi dalam pengembangan diri dan mengejar minat atau hobi yang nikmati. Semakin kita merasa percaya diri dengan diri sendiri, semakin kecil kemungkinan untuk merasa insecure terhadap orang lain. Ketiga, hindari konsumsi media yang merugikan. Kurangi atau batasi paparan terhadap gambar-gambar yang menekankan idealisme kecantikan yang tidak realistis jika itu mengganggu.

Baca Juga  Konsep Musibah dalam Al-Qur’an : Ragam Tafsir Ayat Tentang Musibah

Keempat, dukungan sosial. Tumbuhlah di lingkungan yang dapat mendukung, menghargai, memicu semangat, membuat rasa percaya diri meningkat, dan hindari lingkungan yang toxic. Namun, jika tak terhindari, maka sikap “bodo amat” menjadi perlu. Kelima, hargai keunikan diri. Setiap orang adalah unik dengan kecantikan dan potensi masing-masing. Cobalah untuk lebih menghargai dan menerima diri sendiri apa adanya.

Padadasarnya tubuh yang kita miliki adalah sebaik-baik bentuk yang diberikan Allah komplit pula dengan keunikan dengan segenap potensi diri serta kesempurnaan akal. Jangan sampai fokus pada satu yang dianggap sebagai kekurangan membuat kita melupakan banyak potensi yang dimiliki. Dan sebaik-baik manusia, adalah yang terus berusaha memperbaiki indentitas diri. Wallahu a’lam.

Editor: An-Najmi