Kehidupan dunia ini nampak begitu indah menakjubkan di mata banyaknya manusia yang memandang. Hidup di dunia merupakan tempat persinggahan sementara untuk berburu kebaikan agar kelak menjadi hamba Allah yang mulia. Kemuliaan seorang manusia dalam keutamaan Allah bukan dinilai dari seberapa tinggi jabatan dan kedudukannya, seberapa tinggi kekuasaannya, seberapa besar ilmunya, dan seberapa banyak harta kekayaannya, terlebih bukan itu yang menjadi tolak ukurnya.
Tahukah Anda siapa orang yang paling mulia itu? Seperti yang kita ketahui apa yang sudah tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat [49]:13, “Melainkan orang yang paling bertakwalah, sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah”.
Maka hendaknya sebagai manusia ciptaan Allah senantiasa bertakwa kepada-Nya. Demikian banyaknya orang yang hidup di dunia ini lebih mementingkan kesenangan semata yang setara dengan kedudukan, kekuasaan, kekayaan, dan lainnya. Mereka semua menginginkan agar bisa menjadi pusat perhatian diantara khalayak ramai, sebab ketidaktahuannya. Sedangkan bagi mereka yang mengetahui kenyataannya akan selalau bersikap hati-hati dan menjadikannya sebagai tujuan dalam kehidupan ini untuk senanatiasa berbuat baik.
Kenikmatan Hidup Duniawi
Dikutip oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:
Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya setiap manusia telah melewati suatu masa, dimana pada waktu itu dia merupakan sesuatu yang belum bisa disebut. Kemudian Allah SWT menciptakan kita, menyempurnakan nikmat-nikmatnya, menghindarkan bencana, dan memberikan kemudahan, serta menjelaskan semua yang bermanfaat dan berbahaya bagi kita.
Allah SWT menjelaskan “bahwa manusia itu mempunyai dua negeri, yaitu negeri yang dilalui dan negeri yang abadi”. Negeri yang dilalui merupakan dunia ini dan segala isinya memiliki kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Demikian orang yang mempunyai akal pikiran pasti mengetahui akan segala tipu muslihatnya. Dunia ini seperti fana, diibaratkan kehidupan ini tidak berlangsung lama.
Akan datang masanya dunia ini akan musnah seluruhnya kelak saat terjadi kiamat (akhir zaman). Di dunia nampak terlihat dihiasi berbagai jenis kemegahan dan sesuatu yang menggiurkan. Allah SWT berfirman dalam surah Yunus [10]: 24
اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْاَنْعَامُ ۗحَتّٰٓى اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَآ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَآ اَتٰىهَآ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَنْ لَّمْ تَغْنَ بِالْاَمْسِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, terhias) dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang. Lalu, Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir”.
***
Wahai orang yang beriman, negeri yang abadi merupakan di akhirat kelak. Selama kehidupan yang kita rasakan di dunia saat senang, aman, tentram, dan sebagainya. Jelas di akhirat kelak akan terasa lebih hakiki. Apabila ada manusia yang tahu akan kebenarannya, ia mengatakan, “Seandainya dahulu saya melakukan kemuliaan untuk hidup ini”. Maka ketahuilah kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di akhirat, tempat manusia dihidupkan kembali setelah dimatikan mereka akan diminta pertanggung jawaban atas perbuatannya di dunia.
Sangat disayangkan keterjerumusan tidak membuat kita kembali. Alih-alih taubat malah semakin jauh tersesat. Apabila ada orang yang lebih mengutamakan kehidupan di dunia dari pada di akhirat. Kenyatannya sudah jelas kehidupan akhirat lebih kekal dan abadi. Mereka telah lalai dari kewajiban bersyukur kepada Allah yang telah memberi nikmat kepada semua makhluknya (manusia). Seperti contoh yaitu bermalas-malasan menunaikan shalat, berkata bohong dalam setiap pembicaraan, suka pamer atas kekayaannya. Bahwa pahamilah bagaimana sebab orang yang telah lalai di dunia?
Sesungguhnya orang yang lebih mengutamakan kehidupan akhirat dari pada dunia, akan mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat. Selayaknya siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah akan mendapat balasan yang lebih baik pula. Allah SWT telah berfirman dalam surah An-Nahl [16]: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan”.
Cara Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Sebagaimana yang kini dijelaskan ada 5 cara meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat yaitu:
Pertama, selalu bersyukur. Orang yang selalu bersyukur akan memperoleh keberkahan, kenikmatan dan kebahagiaan di dunia. Seperti halnya dengan meningkatkan ibadah kepada Allah diantaranya berzikir, bersedekah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Sebagaimana dalam firman Allah SWT surah Ibrahim [14]:7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”.
Kedua, selalu bertakwa. Orang yang selalu bertakwa akan disayang Allah SWT, sehingga senantiasa diberi kemudahan. Apabila ia menghadapi masa sulit, Allah pasti akan memberinya jalan keluar. Sebagaimana penggalan dalam firman-Nya surah Ath-Thalaq [65]:2 “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya”.
Ketiga, selalu bersabar. Orang yang selalu bersabar akan mendapat kebahagiaan didunia dan di akhirat. Menurut Ali bin Abi Thalib, ketika senantiasa bersabar menghadapi segala ujian (musibah) kelak akan diberi 100 derajat kemuliaan. Sebagaimana yang terkandung dalam firman Allah SWT surah Al-Anfal [8]:46 “Dan bersabarlah, sungguh Allah beserta orang-orang sabar”.
Keempat, bersikap qanaah. Qanah merupakan sikap menerima dan merasa cukup atas hasil yang didapatkannya. Misalnya terkait kondisi paras kita, umur, rezeki, jodoh, dan keturunan. Sebagaimana dalam firman Allah SWT surah Al-Isra’ [17]:30 “Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki) sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya”.
Kelima, bersikap ikhlas. Misalnya kita harus meneladani keutamaan sikap Nabi, yang selalu mengikhlaskan apa pun perlakuan orang lain kepada dirinya hingga tidak pernah menyimpan dendam. Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah SWT surah Az-Zumar [39]:2 “Sesungguhnya kami menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya”.
***
Dengan demikian dapat diambil hikmah tersendiri guna mengetahui pentingnya meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Marilah bersama senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan selalu berdoa agar tidak tertipu pada kehidupan dunia serta kelak diberi kemudahan untuk melakukan amalan kehidupan akhirat. Jadikanlah kami termasuk dalam orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat dibanding dunia, agar kelak mendapat ridha-Nya.
Penyunting: Bukhari



























Leave a Reply