Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kontribusi R.A Kartini Dalam Penulisan Tafsir Kiai Sholeh Darat

Sumber: https://penasantri.id/

Kiai Sholeh Darat memiliki nama lengkap Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani. Akan  tetapi lebih popular dikenal dengan sebutan ‘Kiai Sholeh Darat’.  Penyematan kata ‘Darat’ di belakang namanya—menjadi indikasi bahwa beliau berasal dari daerah yang dahulu dikenal dengan sebutan ‘Darat’. Jika ditelusuri, daerah tersebut berada di Semarang. Lebih tepatnya berada di pinggir pantai yang merupakan tempat mendaratnya kapal-kapal. Selain itu ‘As-Samarani’ juga disematkan dalam nama lengkap Kiai Sholeh Darat. Hal ini semakin menegaskan bahwa beliau berasal dari as-Samarani / Semarang.

Sholeh Darat dan Latar Belakang Biografis

Mengenai tempat lahir Kiai Shaleh Darat, terdapat beberapa versi. Di antaranya ada yang menyebut beliau lahir di desa Bangsri, Jepara. Versi lain mengatakan beliau lahir di Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Jepara. Namun versi kedua lah yang lebih tepat karena informasi tersebut sesuai dengan yang diperoleh oleh Kiai Fahruz Razi yang mendapat informasi langsung dari Kiai Abdullah yang satu desa dengan Kyai Darat.

Kiai Sholeh Darat hidup satu masa dengan Kiai Nawawi al-Bantani. Keduanya sama-sama pernah memiliki kedekatan selama di Mekkah. Baik Kiai Sholeh maupun Kiai Darat, keduanya pernah berguru pada beberapa guru yang sama.  Keduanya juga sama-sama memiliki karya dalam bidang penafsiran Al-qur’an. Tafsir karya Kiai Shaleh Darat yang cukup fenomenal berjudul Tafsir Faid al-Rahman berbahasa jawa dengan nuansa sufistik arab pegon yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1894 di Singapura. Karya tersebut patut diapresiasi sebab telah menjadi warisan Intelektual Islam pramodernisme Jawa di Nusantara.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah hal yang melatarbelakangi (memotivasi) Kiai Sholeh Darat dalam menuliskan tafsirnya. Tafsir tersebut hadir atas permintaan dan usul R.A Kartini; seorang Pahlawan Nasional sekaligus tokoh emansipasi wanita Indonesia di satu sisi, dan menjadi kado pernikahan R.A Kartini dengan R.M Joyodiningrat: Seorang bupati Rembang di sisi lain. Lalu, bagaimana perjalanan kontribusi R.A Kartini sehingga mampu menggerakkan Kyai Sholeh Darat untuk menuliskan kitab Tafsirnya? Mari kita telusuri melalui kisah ini.

Baca Juga  Waspada Khamar Batin Dalam Tafsir Sufistik Mbah Soleh Darat

Tafsir Sholeh Darat dan R.A Kartini

Menurut catatan cucu Kiai Shaleh Darat, R.A Kartini pernah memiliki pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari al-Qur’an. R.A Kartini yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi—pernah suatu ketika bertanya kepada guru ngajinya perihal makna suatu ayat dalam al-Qur’an. Namun respon yang diberikan oleh gurunya justru membuat sakit hati R.A Kartini. Gurunya memarahi dan enggan memberikan jawaban kepada muridnya tersebut.  Maka jika meminjam istilah dalam buku ‘Khazanah Tafsir Indonesia’—ditampilkan Kartini yang ditegur oleh gurunya, sehingga membuat R.A Kartini kecewa. Ia merasa hampa, resah dan gelisah dengan kejanggalan yang telah menyelimuti hatinya Ia kemudian menyimpulkan dengan jelas bahwa tidak ada gunanyaseseorang mempelajari al-Qur’an jika tidak mengerti akan arti dan maksud yang terkandung dalam ayat al-Qur’an.

Oleh karenanya, suatu ketika R.A Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati Demak, Ario Hadiningrat dalam acara pengajian bulanan. Ia menyempatkan untuk menyimak pengajian yang diampu oleh Kyai Sholeh Darat dari balik tirai bersama Raden Ayu lainnya. Saat itu Kiai Sholeh Darat tengah mengajarkan tafsir surat al-Fatihah. R.A Kartini terpukau selepas mendengar penjelasan tafsir dengan nuansa sufistik arab pegon yang sangat jelas dan mampu dipahami oleh sosok Kartini tersebut. Sehingga Ia memberanikan diri untuk ngobrol serius dengan Kiai Sholeh Darat. Ia mengungkapkan keresahan atas pengalaman yang ia alami saat mengaji dengan guru sebelumnya. Ia memohon kepada Kyai Sholeh agar bersedia menulis tafsir al-Qur’an dalam tulisan Jawa. Pada mulanya Kiai Sholeh merasa keberatan, sebab dalam pandangannya—seorang Mufassir harus memiliki modal yang matang dalam menafsirkan al-Qur’an. Namun melihat Kartini yang sangat antusias dan memberikan tekad dan keyakinan kuat terhadap Kiai Sholeh—maka Kiai Sholeh bersedia.

Baca Juga  Hidup Sehat Sangat Dianjurkan dalam Islam

***

Kiai Sholeh Darat bersedia menulis tafsir al-Qur’an berbahasa Jawa. Dengan menerjemahkan ke dalam bahasa Jawa, diharapkan akan memberi kemudahan bagi yang membaca. Karena pada masa itu, semua orang  belum ada yang mampu berbahasa arab. Selain itu, sebab adanya larangan keras oleh pihak Belanda serta anggapan bahwa Al-qur’an adalah kitab yang suci—sehingga tidak diperkenankan untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun.

Kemudian tafsir Kiai Sholeh Darat dicetak dan dihadiahkan kepada R.A Kartini pada saat acara tasyakuran penikahannya dengan Bupati Rembang. Namun, tafsir tersebut tidak lengkap 30 Juz. Tafsir tersebut hanya terdiri dari dua jilid saja. Jilid pertama terdiri dari surat al-Fatihah hingga surat al-Baqarah yang terdiri dari 578 halaman, jilid ke dua terdiri dari surat ali-imran dan an- nisa yang terdiri dari 705 halaman.

Meski kitab tersebut tidak tuntas ditafsirkan dalam 30 juz, namun bagaimanapun—kitab tafsir KiaiSholeh Darat telah memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan dan sumbangsih dalam dunia penafsiran al-Qur’an.  Selain itu, satu hal yang kerap luput oleh ingatan yang juga perlu diapresiasi adalah sosok Kartini yang tidak hanya diingat sebatas ungkapan ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ atau peringatan hari Kartini saja. Namun, aspek dan sepak terjang beliau yang mengusulkan Al-qur’an untuk diterjemahkan sering tidak terjamah oleh pengetahuan. Padahal—jika mau merenung-mempelajari, Kitab Tafsir atas usul Kartini tersebut—termasuk buah karya Tafsir yang masih tergolong dalam tafsir pertama di Nusantara. Wallahu a’lam.

Penyunting: An-Najmi