Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hari Ibu: Berbakti Tak Sekadar Materi

berbakti
Sumber: https://www.edudwar.com/

Tidak ada yang melebihi cinta dan kasih sayang melebihi cintanya seorang ibu kepada anaknya. Itulah sebabnya Nabi saw pernah bersabda, “Surga di bawah telapak kaki ibu” sebagai penghormatan yang tinggi atas jasa-jasa ibu. Bahkan, Kanjeng Nabi pertegas lagi, “Ya Rasul, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? Rasul menjawab, “ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu”.

Karena itu, artikel ini akan mengulas dua alasan mengapa berbakti kepada ibu adalah sebuah keharusan dengan merujuk ayat-ayat Al-Quran. Selengkapnya di bawah ini.

Cinta dan Kasih Sayang

Alasan pertama adalah cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tak terbatas. Tak ayal, jika ada unen-unen Jawa (perkataan orang Jawa) yang mengatakan, ibu adalah Gusti kang katon (ibu adalah Tuhan yang terlihat). Karena ibu manifestasi (tajalli) dari rahman-rahim Allah. Tanpa sifat welas-asih tersebut mustahil seorang ibu bisa digelari al-jannatu tahta aqdamil ummahat (surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu). Ibu adalah cermin pemantul sifat-sifat Allah sehingga pantang bagi sang anak menyakiti ibu.

Karenanya, adalah hal terlarang dan pantang bagi seorang anak berkata kasar sehingga menyakiti ibunya. Bagi orang Jawa, ibu adalah keramat. Di dalam Al-Quran disebutkan janganlah kalian wahai anak berkata “uh/ huss” kepada kedua orang tua kalian.

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (Q.S. Al-Isra’ [17]: 23)

Baca Juga  Menjalankan Sahur: Bentuk Ketaatan di Bulan Ramadan
***

Sekadar mengucapkan kata ah (atau kata-kata kasar lainnya) kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama, apalagi memperlakukan mereka dengan lebih kasar. Ibn Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Adzhim memperingatkan kepada seorang anak, janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada keduanya, sehingga kata “ah” pun yang merupakan kata-kata buruk yang paling ringan tidak diperbolehkan.

Tidak berhenti di situ, ayat di atas sebagaimana ditafsiri Ibn Katsir mewanti-wanti, janganlah kamu bersikap buruk kepada keduanya, seperti apa yang dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu membentak mereka (Q.S. Al-Isra: 23). Maksudnya, janganlah kamu menolakkan kedua tanganmu terhadap keduanya. Setelah melarang mengeluarkan perkataan dan perbuatan buruk ter­hadap kedua orang tua, Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan bertutur sapa yang baik kepada kedua, yaitu berkatalah yang baik lagi mulia (وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا).

Penafsiran Ayat

Dalam arti, bertutur sapa yang baik dan lemah lembutlah kepada keduanya, serta berlaku sopan santunlah kepada keduanya dengan perasaan penuh hormat dan memuliakannya. Dalam ayat di atas, kewajiban pertama dan utama setelah kewajiban mengesakan Allah swt. dan beribadah kepada-Nya adalah berbakti kepada kedua orang tua. Ketika menafsirkan Q.S. an-Nisa’ [4]: 36, Shihab telah merinci kandungan makna ihsanan. Menurut Shihab, al-Qur’an menggunakan kata ihsana untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada pihak lain, dan kedua perbuatan baik, karena itu kata “ihsan” lebih luas dari sekadar memberi nikmat atau nafkah. Maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam daripada kandungan makna adil, karena adil adalah memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya kepada Anda.

Sedangkan “ihsan”, memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap Anda. Adil adalah mengambil semua hak Anda dan atau memberi semua hak orang lain, sedang ihsan adalah memberi lebih banyak daripada yang harus Anda beri dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya Anda ambil. Karena itu pula, Rasul saw. berpesan kepada seseorang: “Engkau dan hartamu adalah untuk/milik ayahmu” (HR. Abu Daud).

Baca Juga  Quarter Life Crisis, Begini Solusi Perspektif Al-Qur'an?

Al-Quran, lanjut Shihab, meminta anak bersama orang tua sekalipun keadaannya. Berbakti itu lebih dari sekadar kewajiban, makanya redaksinya ihsanan, begitu kata Quraish Shihab. Menurutnya, sekadar memberi kebutuhan hidupnya orang tua itu dikategorikan hanya berbuat baik, tetapi belum berbakti. Sebab berbakti adalah persoaan ihsanan. Artinya, berbakti harus melebihi dari apa yang wajib, demikian pendapat Shihab.

***

Lebih lanjut, Quraish Shihab menegaskan bahwa di dalam Alquran disebut iyyahu wabil walidaini ihsanan. Sering kali kita dengarkan, berbakti kepada orang tua. Itu benar, namun kurang tepat bagi Shihab. Sebab, jika merujuk pada ayat Al-Quran di atas adalah berbakti bersama orangtua, bukan kepada orangtua. Karena makna “bersama” mengisyaratkan bahwa anak harus bersama orangtuanya, melekat dengan orangtuanya, jangan pernah sesaat pun hilang ingatannya kepada orangtua, jangan pernah sesaat pun dia tidak berbakti. Akan tetapi, berbakti ternyata tak cukup dengan berbuat baik. Tak cukup sekadar memberikan materi kepada orangtua lantas disebut berbakti. Quraish Shihab bahkan menyebut perintah berbakti walaupun sampai pada tingkat harus melampaui kebaikan itu sendiri.

Rida dan Doa

Rida dan doa orang tua, lebih-lebih ibu adalah segalanya. Bagi anak, rida dan doa orang tua adalah kunci terbukanya kemudahan dalam segala hal. Dan sebaliknya, kemurkaan ibu adalah kemurkaan Allah. Nabi saw bersabda,

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

Keridaan Allah bergantung pada keridaan kedua orang tua dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan kedua orang tua. (H.R. At-Tirmidzi)

Menurut Quraish Shihab, rida orang tua adalah kunci surga. Berbakti bersama orang tua tidak sekadar materi. Sudah banyak kita saksikan, betapa dahsyatnya kemustajaban rida dan doa seorang ibu terhadap anaknya yang membuka tabir kemudahan dan kesuksesan bagi anaknya. Bahkan, Habib Luthfi bin Yahya, Ulama Indonesia mengatakan menjadi seorang wali itu tidak perlu harus jungkir balik siang malam beribadah terus-menerus sampai melalaikan tugasnya, cukup dua hal katanya, yaitu rida orang tua dan rida guru. Artinya, kalau orang tua, lebih-lebih ibu sudah rida kepada kita, tidak ada yang dapat membendung doanya kecuali kemudahan yang ia dapat. Dan sebaliknya, kalau ibu sudah murka, di situlah neraka tampak nyata dan mendekat kepadanya, semoga kita dijauhkan dari hal itu.

Baca Juga  Garis Edar Matahari: Perspektif Al-Qur'an dan Sains

Kesimpulan

Sebagai penutup, yang dibutuhkan dalam hidup ini dalam konteks Hari Ibu adalah kebijaksanaan, bukan kebenaran semata. Membijaksanai tutur kata, sikap dan perilaku orang tua adalah mutlak, tidak ada tawar-menawar bagi seorang anak. Sebagai seorang manusia, orang tua pun tak luput dari khilaf dan salah. Sebagai anak, tugas kita adalah membijaksanai orang tua, bukan membenarkan diri di hadapanya. Jika ada yang salah dengan keduanya, Al-Quran memerintahkan berkatalah yang baik lagi memuliakan, dan jangan berkata kasar terhadap keduanya. Kebenaran adalah bekal untuk manusia ketika di dapur, ketika ia keluar yang ia suguhkan adalah kebijaksanaan, keindahan dan kesantunan dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Selamat Hari Ibu. Wallahu a’lam.

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Penikmat kajian keislaman, pendidikan Islam, pemikiran dan filsafat Islam, sosiologi dan studi al-Quran