Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Taliban: Gerakan Nasionalisme Kaum Santri dalam Politik Afganistan

Taliban

Kemenangan kelompok Taliban di Afganistan baru-baru ini (15/8/2021), memunculkan banyak pendapat terhadap pengaruh meningkatnya radikalisme di Indonesia. Kelompok Taliban sendiri dikenal sebagai kelompok Islam ekstrimis yang terbentuk pasca pasukan Uni Soviet mundur dari Afganistan. Walaupun kelompok ini dikenal keras dengan kebijakan hukum syariah dan aturan terhadap kaum perempuan, kelompok Taliban sekarang menegasikan dirinya sudah lebih moderat dari pada sebelumnya.

Kata Taliban sendiri berasal dari bahasa Pasthun atau Persia yang berati murid, atau juga yang dalam bahasa arab berasal dari kata thalib yang berati murid atau pelajar. Karena itu kelompok Taliban tidak bisa dilepaskan dari sebuah faksi politik yang berasal dari kaum santri laki-laki di Afganistan dan bermula muncul pada tahun 1994.

Kaum santri ini berasal dari madrasah atau pesantren di wilayah Pasthun Deobandi, tepatnya di barak-barak pengungsian selama perang Afganistan dan Uni Soviet. Melalui peran Madrasah inilah yang mampu mengartikulasikan nilai-nilai Islam dalam perjuangan perlawanan terhadap pengaruh ideologi komunisme Uni Soviet di Afganistan, hingga mampu merebut panggung politik di Afganistan.

Hal itu yang disampaikan Ustadz Rahmad Hidayat, S.Pd.I sebagai salah satu pemateri webinar Taliban yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Bengkulu bersama Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Webinar ini dilaksanakan melalui via zoom (9/11/2021).

Transformasi Taliban: Gerakan Ideologi Islam Revivalis

Kolonialisme yang terjadi di Afganistan, memunculkan kesadaran untuk melepaskan diri dari penjajahan. Menurut Prof. Sudarnoto juga sebagai salah satu pemateri webinar menjelaskan, pembaharuan yang terjadi di Afganistan diinisiasi salah satunya dari kelompok Taliban yang berasal dari Madrasah di wiliayah Pasthun Deobandi. Madrasah tersebut bernama Darul Ulum Deoban yang didirikan oleh Maulana Qoshin Nanautafi Maulana Kifayatullah pada tahun 1866. Madrasah ini sangat terkenal karena banyak mempelajari bidang studi Islam lainnya.

Baca Juga  Jajang Rohmana: Pendekatan Baru Studi Al-Qur’an dan Tafsir

“Madrasah Deobandi itu sangat terkenal dan dipengaruhi oleh seorang pemikir pembaharuan bernama Syeikh Waliyullah, pembaharu Islam berasal dari India pada abad 18. Syeikh Waliyullah inilah yang menggabungkan semua disiplin ilmu agama hingga dalam waktu 100 tahun lebih telah memunculkan alumni penganut mazhab ini”, jelas Sudarnoto.

Kaum Deobandi yang menjadi akar kelompok Taliban ini selain terjun dalam perjuangan melawan imprealisme yang terjadi di India, juga secara ideologis politik ingin mengembalikan kejayaan Islam era kerajaan Mughol. Karena itu tidak sedikit ahli yang berpendapat kaum Deobandi yang dianut kelompok Taliban ini mempunyai semangat revivalisme (kebangkitan) Islam.

“Semangat revivalisme ini ada dua, yang pertama corak keagamannya adalah purifikasi (pemurnian) ajaran agama Islam. Akan tetapi dalam bidang sosial budaya kaum Deobandi ini, lebih tertutup tertutup terutama dalam budaya-budaya barat. Apalagi dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkarnya, mereka eksklusif dalam persoalan aqidah keimanan. Karena itu ada yang berpendapat kaum Taliban ini dianggap keras dan dipengaruhi oleh kaum Wahabi.

 Semangat revivalisme yang kedua kaum Deobandi ini yaitu cita-cita politik membangun pemerintahan Islam. Dengan menerapkan untuk menegakkan sistem syariat Islam yang di dalam instrumennya pemerintahan negara Islam.  Corak keagaman dan cita-cita politik inilah yang mewarnai gerakan kaum Taliban.

“Karena itu menurut saya, Taliban telah menjadi sebuah gerakan Islam (islamic movement) dengan ciri khasnya yang jauh berbeda dengan Al-Qaeda apalagi dengan ISIS. Sebagai gerakan Islam, Taliban merupakan gerakan lokal Afganistan yang berjuang melawan asing. Oleh karena itu secara ideologis Taliban tidak mempunyai cita-cita sistem kekhalifan Islam global seperti yang ditawarkan ISIS melalui kekerasan, melainkan yang diperjuangkan adalah nasionalisme Afganistan.”, jelas Sudarnoto.

Baca Juga  Kembali Gelar Alif Awards, Alif Iqra Apresiasi Guru Al-Quran Berdedikasi

Pemateri terakhir dalam webinar Taliban tersebut, Dr. Aan Sopian mengatakan ada beberapa hadits yang secara normatif, simpang siur di masyarakat tentang hubungan kemunculan kaum Taliban dengan akhir zaman. Hadits tersebut berisi tentang pasukan bendera hitam yang diikuti dengan kemunculan Imam Mahdi sebagai pertanda akhir zaman. Secara diteliti hadits-hadits tersebut memang riwayatnya lemah, terlebih lagi ulama-ulama hadits masih memperdebatkan kebenaran hadits yang menjadi justifikasi kemunculan kelompok ini.

Reporter: An-Najmi Fikri R