Jika Haidar Bagir menjawab tuduhan ekstremis sains dengan argumen filsafat sains; yang harus dibaca dengan seksama dan berulang-ulang biar paham, maka Ulil Absar menempuh jalan dengan menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami untuk menjawab tuduhan kelompok –yang olehnya dinamai- Qutbiisme sains ini.
Pada tulisan pembuka, Ulil menjuduli esainya dengan “Antara Sains dan Soto”. Persoalan yang dibahas dalam tulisan ini adalah kesombongan sains yang menganggap konflik perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka (para saintis) lebih baik dari konflik perbedaan pendapat yang terjadi di –sebagian- kalangan agamawan. Salah satu tolok ukurnya adalah sikap terbuka terhadap perbedaan pendapat sehingga tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan (perang).
Antara Sains dan Soto
Memang, sepanjang sejarah sains belum ada orang yang rela mati demi membela sebuah rumus yang dianggapnya benar. Berbeda dengan agama. Telah tercatat begitu banyak konflik internal agama yang disebabkan oleh perbedaan pendapat yang kemudian berakhir di medan perang, konflik Sunni-Syiah salah satunya.
Akan tetapi, menganggap sikap terbuka terhadap perbedaan, atau perbedaan yang tidak menimbulkan konflik (dalam hal ini perang) sebagai tolok ukur untuk dianggap lebih baik adalah hal yang menggelikan bagi Ulil. Bagaimana tidak, begitu banyak persoalan di luar sana yang di dalamnya juga terdapat perbedaan pendapat, tetapi tidak sampai berakhir dengan perang atau konflik fisik. Ulil memberi contoh dua orang Ngawi yang berbeda pendapat dalam hal soto mana yang paling enak. Salah satunya menganggap soto Lamonganlah yang paling enak. Yang satunya lagi memilih soto Bangkong. Mereka berbeda pendapat, tapi tidak sampai adu jotos. Akan sangat memalukan jika hanya persoalan soto mana yang paling enak sampai harus berakhir dengan babak belur.
Demikian halnya dengan sains. Tidak akan ada orang yang mau berjihad dan rela mati demi membela teori gravitasi. Kenapa? Karena sains sifatnya rasional sehingga tidak sampai menyentuh emosi jiwa manusia. Berbeda dengan agama, sifatnya mendalam sehingga mempengaruhi emosi, jiwa, dan psyche manusia. Inilah yang disebut oleh Lutheran Paul Tillich dengan the ultimate concern. Dan yang termasuk dalam the ultimate concern ini cenderung menimbulkan konflik karena berkaitan dengan emosi manusia.
Dikotomi Sains dan Agama
Dalam esainya yang berjumlah 11 buah, Ulil juga menyoroti Richard Dawkins dan statementnya dalam bukunya Outgrowing God yang secara tidak langsung berisi tentang ajakan untuk ateis (menolak Tuhan). Ulil kemudian menamai gerakan ini dengan New Atheists (gerakan ateis baru).
Dari 11 esai, buku Dawkins mendapat dua judul untuk diulas secara khusus. Sepertinya direktur Ngaji Ihya ini sangat tertarik dengan buku yang mewakili pandangan kelompok New Atheists ini. Buku yang diterbitkan pada tahun 2006 ini memaparkan argumen Dawkins yang –secara garis besarnya- menyatakan bahwa mereka yang masih percaya terhadap agama telah gagal dewasa (outgrowing). Bagi Dawkins sendiri, pola pikir orang dewasa cukup berpegang pada sains dan rasio. Di sini terlihat jelas bahwa paradigma yang ingin dibangun oleh Dawkins adalah dikotomi sains dan agama. Orang-orang disuruh memilih, sains atau agama. Jika memilih sains maka agama dengan sendirinya akan mati.
Menjadikan sikap percaya terhadap sains dan rasio sebagai tolok ukur kedewasaan seseorang menimbulkan kesan bahwa agama –bagi Dawkins- tidak mengandalkan rasio sehingga tidak mampu mendewasakan seseorang. Menurut Ulil, pernyataan ini jelas bertantangan dengan realita dan fakta sejarah. Kita akui bahwa agama –secara umum, bukan hanya Islam- memiliki masa kelamnya masing-masing. Tetapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap upaya yang dilakukan oleh agama untuk menciptakan kedamaian secara universal. Begitu banyak upaya dialog lintas agama di dunia diadakan sebagai sikap keterbukaan satu sama lain. Bahkan di Nusantara sendiri, bukan hanya dialog antar agama, tetapi juga dengan kepercayaan lokal sebagimana yang dilakukan oleh Gus Dur di Jogja. Dalam hal ini, Ulil ingin menjelaskan bahwa dalam agama juga terjadi kritik, auto kritik, pembaharuan (tajdid), dan reformasi yang berarti agama juga mengalami pertumbuhan (outgrowing). Bahkan lebih jauh lagi, bukankah ratusan bahkan ribuan jilid kitab yang dihasilkan oleh para ulama merupakan hasil telaah terhadap teologi. Berarti agama juga menggunakan akal/rasio.
Membantah Ekstremis Sains
Argumen selanjutnya yang dibantah oleh mantan pendiri JIL ini adalah klaim teori evolusi sains yang mengatakan bahwa segala yang terjadi di alam ini adalah terjadi secara random, acak. Ulil kemudian menjawabnya dengan logika sederhana. Bagaimana mungkin sesuatu yang terjadi secara random, acak, ataupun kebetulan bisa memberikan informasi yang begitu melimpah. Ibarat rangkaian huruf yang dilemparkan begitu saja, misal xyshsbak smaksnda sjahsa, tidak akan memberikan informasi apa-apa. Beda halnya dengan huruf yang –dengan sengaja- disusun secara teratur, seperti Liverpool menang melawan Manchester United dengan skor 7-2, tentu akan memberikan informasi yang jelas.
Sehingga menurut Ulil, segala yang terjadi di alam ini tidaklah terjadi secara kebetulan atau random sebagaimana klaim sains, tetapi terjadi secara teratur. Lalu siapakah pengaturnya? Dialah zat yang maha mengetahui segala sesuatu, Dzat pemilik segala ilmu, Tuhan (Allah).
Pada bagian terakhir, Ulil menjelaskan bahwa konflik antara agama dan sains sejatinya adalah konflik khas Barat. Dominasi Barat di hampir segala sektor, baik industri maupun pendidikan membuat kita juga ikut memperdebatkan masalah ini. Padahal beberapa negara maju Asia (Timur), seperti Cina dan Jepang justru tidak ada konflik antara sains dan agama mereka. Menurut Ulil ada dua alasan kenapa konflik ini berkembang di barat. Pertama, karena kaum saintis di barat memiliki trauma terhadap gereja (simbol yang mewakili agama). Mungkin karena gereja pernah mengekang sains begitu kuat ketika menjadi penguasa. Kedua, sifat trauma inilah yang membangkitkan karakteristik sains ala Demokritos yang tidak percaya (anti) tuhan.
Setelah pemaparan argumen yang begitu canggih oleh kedua penulis, buku yang telah dua kali cetak di tahun 2020 ini ditutup oleh esai Ulil yang mengajak para pembaca untuk tidak memandang rendah cara beragama kaum sederhana sebagaimana yang lazim ditemui di kampung. Ia ingin menekankan bahwa jangan sampai intelektualitas dalam beragama membuat seseorang sombong sehingga memandang rendah mereka yang beragama dengan sederhana, karena bisa saja mereka yang sederhana justru menjalankan agama dengan penuh keikhlasan dan penghayatan yang mendalam. Wallahu a’lam.
Editor: An-Najmi Fikri R


























Leave a Reply