Manusia telah memiliki kodrat sejak lahir. Penciptaan manusia memiliki dua misi, yakni beribadah kepada Allah sebagai misi vertikal dan menjadi khalifah di muka bumi sebagai misi horizontal. Allah mengintruksikan dua misi ini hanya kepada manusia guna menjadi sarana untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Adapun dalam menjalankan kedua misi tersebut, Allah memberikan bekal yang sangat cukup kepada manusia. Bekal tersebut berupa kesempurnaan pada penciptaan manusia. Tidak ada penciptaan makhluk yang lebih baik daripada manusia.
Malaikat diciptakan tanpa memiliki kemandirian dalam melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Hewan hanya memiliki naluri dan insting untuk bertahan hidup, tidak memiliki akal. Jin tidak diciptakan memiliki fisik. Sedangkan manusia diciptakan secara lengkap, memiliki akal, nafsu, dan bentuk fisik yang fungsional.
Jika melihat lebih lanjut dalam surah al-Baqarah ayat 30-39, dalam Tafsir At-Tanwir dijelaskan bahwa ada tiga kodrat yang dimiliki manusia sejak lahir. Ketiga kodrat tersebut adalah kodrat wujud, kodrat keberadaan, dan kodrat potensi.
Pertama, Kodrat Wujud
Kodrat wujud adalah sifat asli dari wujud manusia, yaitu bahwa wujud manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Dua hal tersebut adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisah satu dengan lainnya. Adapun Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk tinggal dalam surga, menikmati makanan yang ada dalam surga, dan tidak mendekati pohon larangan (Qs. al-Baqarah: 35).
Perintah tersebut menunjukkan bahwa Adam dan Hawa sebagai manusia memerlukan tempat tinggal dan makan. Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki wujud jasmani. Selanjutnya, wujud ruhani dari manusia dapat terbukti dengan kemampuan Adam menerima pengajaran, memahami perintah Allah, melakukan pertobatan, dan seterusnya (Qs. al-Baqarah: 31, 32, 37, 38, dan 39).
Kedua, Kodrat Keberadaan
Manusia hidup dalam sebuah realitas ruang dan waktu tertentu. Mereka ada yang berada di Asia ada pula yang di Eropa. Mereka tidak akan seterusnya menjadi bayi, melainkan akan bertumbuh-kembang.
Para manusia yang telah mati pasti pernah hidup. Manusia ada yang hidup pada masa lampau, ada pula yang hidup pada zaman sekarang, dan tidak menutup kemungkinan juga pada masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kodrat keberadaan dalam penciptaannya.
Ketiga, Kodrat Potensi
Kodrat potensi merupakan sifat asli manusia berupa kemampuan yang melekat pada diri manusia. Kodrat potensi ini akan menentukan nasib manusia baik kehidupan dunia dan akhirat. Seseorang akan mendapatkan baik jika pengelolaan potensinya baik, pun sebaliknya. Tafsir At-Tanwir menguaraikan kodrat potensi ini menjadi delapan poin, antara lain:
1. Manusia Sebagai Makhluk Kebudayaan (Qs. al-Baqarah: 30)
Kodrat manusia sebagai makhluk kebudayaan adalah konsekuensi dari kedudukannya sebagai khalifah. Sebagai khalifah, manusia harus menciptakan dan mengembangkan sistem pengetahuan, sistem sosial, dan sistem artefak. Dengan senantiasa belajar dari kesalahan, manusia bisa mengembangkan kebudayaan dari waktu ke waktu dan mencapai peradaban seperti pada zaman sekarang.
2. Makhluk Pengertian (Qs. al-Baqarah: 31-33)
Allah memberikan manusia indra, akal, dan ruh untuk mengetahui, memahami, membuat konsep, dan melakukan inovasi. Jika pengelolaan kodrat ini baik, maka akan membuat manusia mejadi makhluk Allah yang paling mulia karena dapat memperoleh semua kebaikan dan terjaga dari keburukan.
3. Makhluk Merdeka (Qs. al-Baqarah: 38-39)
Manusia memiliki kehendak bebas yang bisa menentukan pilihan dan nasibnya sendiri. Bahkan menerima paksaan dari orang lain pun termasuk pilihannya sendiri. Hal ini termasuk dalam hal mentaati petunjuk Allah. Manusia bebas memilih apakah akan taat atau ingkar. Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa semua pilihan hidup manusia pasti akan ada pertanggungjawabnya kepada Allah.
4. Makhluk Sosial (Qs. al-Baqarah: 35, 36, dan 38)
Manusia tidak mampu hidup sendirian. Hal ini terlihat dari ungkapan perintah kepada Adam dan Hawa untuk tinggal bersama dalam surga serta penjelasan bahwa umat manusia adalah satu kesatuan (jamī’a) yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berhubungansatu dengan yang lain.
5. Makhluk Ekonomi (Qs. al-Baqarah: 35)
Manusia merupakan makhluk yang harus memenuhi berbagai kebutuhan untuk mempertahankan eksistensinya, sebagaimana Adam dan Hawa mendapatkan izin untuk makan semua makanan dalam surga, selain buah larangan.
6. Makhluk Tata Aturan (Qs. al-Baqarah: 35)
Manusia membutuhkan tata aturan dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi maupun kelompok. Sebagaimana Adam dan Hawa yang mendapatkan izin menikmati seluruh makanan dalam surga, namun terdapat larangan mendekati satu pohon. Pelarangan mendekati suatu pohon tersebut dapat berkaitan dengan pembahasan hukum atau moral, sehingga bisa berarti adanya sebuah aturan untuk menjauhi kejahatan, keburukan, dan ketidakpantasan.
7. Makhluk Spiritual (Qs. l-Baqarah: 33, 35, 37, dan 38)
Manusia mampu menangkap adanya wujud antikodrati (Tuhan) dan memberi respon terhadap keberadaan-Nya. Pengungkapan kodrat ini terlihat dengan ketaatan Adam menerima dan mengikuti perintah Allah untuk menjelaskan konsep wujud kepada malaikat dan tinggal dalam surga; serta menjelaskan pertobatan setelah melakukan kesalahan (Qs. al-Baqarah: 33, 35, dan 37). Hal ini juga terlihat dengan kesediaan manusia mengikuti petunjuk Allah (al-Baqarah: 38)
8. Makhluk Konflik (Qs. al-Baqarah: 36)
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk yang memiliki kepentingan, sehingga menjadi sebuah keniscayaan bahwa akan terjadi benturan kepentingan antara satu orang dengan orang lain, atau satu kelompok dengan kelompok lainnya. Adapun konflik ini tidak untuk memusnahkan manusia, tetapi untuk membuat manusia semakin mapan dan senang dalam kehidupan dunianya.
Semua kodrat tersebut adalah bekal yang sangat mencukupi untuk menuntaskan misi manusia dalam kehidupan. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah maukah manusia memaksimalkan bekal tersebut? Tentu saja hal itu merupakan pilihan masing-masing.
Penyunting: M Afiruddin


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.