Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Melacak Jalur Sanad Qira’at di Indonesia

jalur
Sumber: https://amalku.com/

Dalam memetakan khazanah kajian al-Qur’an di Indonesia, selain merujuk pada karya-karya ulama, penting kiranya melacak jejaring keilmuan dan jalur sanadnya. Kalau ditelusuri sanad dan ijazah Qur’an, baik yang ada di pondok-pondok tanfidz salaf, maupun lembaga pendidikan Qur’an bersanad, lembaga pentashihan Mushaf al-Qur’an Kemenag RI, termasuk yang dihimpun di risalah at-Tibyan fi Silsilati Asanid al-Qur’an karya Ust Imam Syafi’i Gresik, maka akan didapati bermuara pada salah satu jalur berikut:

Berbagai macam Jalur Sanad Qira’at di Indonesia

Pertama

Jalur Sanad Abu Hajar. Jalur ini adalah sanad yang qira’at yang cukup populer di Nusantara melalui para muridnya Syekh Husein Abu Hajar. Kemudian dibawa oleh KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta, KH. Munawwar Nur Sidayu Gresik, dan KH. Ahmad Badawi ar-Rasyid Kaliwungu.

K. Munawwir mengambil sanad qira’at sab’ah pada Syekh Yusuf Hajar yang bersambung kepada Syekh Abdul Karim bin Umar al-Badri al-Dimyathi al-Azhari (w. 1190 H). Sanad ini kemudian diturunkan kepada KH. Arwani Amin Kudus. Memurut para penyususr sanad qira’at Nusantara, pada perkembangannya jalur sering dikenal dengan aliran Kudus.

Kedua

Jalur Sanad al-Mirdadi. Jalur al-Mirdadi adalah transmisi qira’at melalui murid Syekh Abdul Hamid Mirdadi, yaitu KH. Muhammad Isma’il al-Maduri. Jalur transmisi ini berbeda dengan lainnya, karena para perawinya selain para qari’ mereka juga para muhaddits, sehingga pada ini banyak ditemukan selain memiliki qura’an, tapi juga ada hadist serta dari ilmu-ilmu lainnya.

Ketiga

At-Tiji al-Madani. Jalur at-Tiji adalah sanad melalui para murid Syekh Ahmad bin Hamid bin Abdur Rozaq at-Tiji al-Madani, yaitu KH. Dahlan Kholil Rejoso, Syekh Ahmad Hijazi al-Faqih, Syekh a-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi, dan Syekh Muhammad Siraj al-Makky. Syekh Ahmad Hijazi menurunkan sandanya kepada muridnya yaitu KH. Azra’i Abdur Rauf Sumatera Utara dan KH. Muhammad Junaid Sulaiman Sulawesi.

Baca Juga  Memahami Ayat Perumpamaan dalam Al-Qur’an

Sedangkan  Syekh as-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi menurunkan sanadanya kepada Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari Martapura Kalimantan Selatan atau yang terkenal dengan nama guru sekumpul. Dan Syekh Siraj al-Makky diturunkan antara lain kepada KH. Muhammad Aslah Syamil al-Bantani. Sedangkan ulama Nusantara yang mengambil sanad langsung dari Syekh Ahmad Hamid at-Tiji, yaitu KH. Dahlan Kholil Rejoso Jombang.

Jalur at-Tiji sangat banyak tersebar di Asia Tenggara Termasuk Indonesia karena saat itu Syeihul Qurra’ Hijaz adalah Syekh Ahmad Hamid at-Tiji. Berdasarkan data sanad KH. Dahlan Kholil Rejoso yang ditemukan pada pengkaji sanad qira’at Nusantara, at-Tiji pernah singgah di Indonesia dan mengajar Qur’an kurang lebih lima tahun di Jombang atas permintaan KH. Hasyim Asy’ari.

Keempat

Sarbini ad-Dimyati. Jalur ad-Dimyathi adalah sanad qira’at melalui para murid Syekh Muhammad Sarbini ad-Dimyathi, yaitu Syekh Mahfudz bin Abdullah at-Tremisi dan Tubagus Makmun al-Bantani. Selain kepada Sarbini ad-Dimyathi, Syekh Mahfudz Tremas juga belajar pada Syekh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Bari’ bin Muhammad Amin al-Madani.

Kelima

Selanjutnya, (Ulama Sumatera, Indonesia Timur, dan Habaib). Banyak ulama terdahulu terutama Sumatera dana Indonesia bagian timur yang belum ditemukan dokumen sanad atau jalur qira’at yang digunakan, namun ulama-ulama tersebut dikenal sebagai ahli qira’at.

Jalur ini bisa jadi sudah termasuk dalam jalur-jalur di atas, namun kemungkinan melalui jalur lain. Meskipun di Sumatera tradisi sanad tidak berkembang dengan baik, namun jalur ini masih memerlukan penelitian lebih dalam lagi agar makin diperoleh khazanah dan luasnya jaringan ulama al-Qur’an dan jalur sanad qira’at Nusantara.

Keenam

Jalur-jalur Sanad Baru. Jalur ini banyak ditemukan pada penghujung abad ke-20. Pada sekitar tahun 1980-1990 banyak ulama-ulama Indonesia yang menyelesaikan rihlah ilmiyah di Timur Tengah. Mereka mendapatkan sanad qira’at dari berbagai jalur yang berbeda meskipun sebagian besar masih berada dalam rumpunan yang sama dengan qira’at ‘Ashim.

Baca Juga  Manfaat Perbedaan Pendapat Mengenai Sab'atu Ahruf

Para ulama yang memperoleh jalur sanad baru, antara lain KH. Muhsin Salim dari Syekh Abdul Qadir Abdul ‘Adim al-Mishri. KH. Ahsin Sakho Muhammad dan KH Ahmad Fathoni dari Masyayikh besar Timur Tengah seperti Syekh Abdul Fattah al-Qadhi; KH. Ahmad Dzul Hilmi Ghazali dari Syekh Abdul Ghaffar Abdul Fattah ad-Durubi; KH. Mudawi Ma’arif dari Syekh Muhammad Toha Sukkar al-Husaini dan Syekh Mahir Hasan Munajjid; KH. Sufyan Nur bin Marbu bin Abdullah al-Banjari dari Syekh Abdul Karim al-Banjari; Syekh Abdullah Said al-Lahji, Syekh Muhammad Idris al-Mandili al-Makki, Syekh Yasin al-Padani dan Habib Umar bin Hafidz Yaman. Selain jalur-jalur tersebut, masih banyak jalur lain yang tersebar di Indonesia yang belum terlacak oleh para penyusun sanad qira’at Nusantara.

Penyunting: Ahmed Zaranggi