Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Meneladani Cara Berjalan Rasulullah SAW

berjalan
Sumber: Mysterybox.us

Tahukah kalian bahwa cara berjalan ternyata bisa menjadi indikasi tersendiri untuk menilai seseorang? Ia merupakan perkara remeh tapi memiliki arti yang luar biasa. Ketika mengamati seseorang yang gaya berjalannya lambat dengan langkah gontai disertai ritme alas kaki yang menimbulkan bunyi srek srek, maka apa yang terlintas di dalam benak kalian?

Besar kemungkinan, kalian akan menyimpulkan bahwa seseorang tersebut malas, lesuh, dan kurang vitamin, bahkan lebih jahatnya lagi kerapkali terepresentasikan dengan gambaran masa depan yang suram. Artinya, hal tersebut secara tidak langsung menimbulkan persepsi bahwa gaya berjalan yang demikian bukanlah ciri-ciri orang sukses dan maju.

Tapi beda ceritanya, jika melihat kebiasaan orang-orang yang sangat disiplin, sehingga secara tidak langsung dapat terdeteksi pada langkah yang mantap dan jalan yang sigap. Misal saja, kebiasaan disiplin masyarakat Jepang yang mampu menginspirasi publik. Salah satunya yaitu disiplin menghargai waktu, sehingga hal tersebut tercermin pada cara jalan mereka.

Jika peradaban Jepang yang dalam tanda kutip “non-muslim” menjadi primadona perihal kebiasaan baik tersebut, maka alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu berkaca pada kultur budaya Islam dengan figur peradabannya yang paling utama dan patut diteladani, yaitu Rasulullah Muhammad Saw yang melalui beliaulah pesan-pesan Tuhan dapat tersampaikan. Beliau juga menjadi tuntunan hidup yang detail dan menyeluruh lagi terarah.

Rasulullah Figur Utama Sepanjang Zaman

Rasulullah Muhammad Saw adalah manusia yang istimewa. Keistimewaan tersebut bukan sebab harta atau tahta yang beliau punya, akan tetapi tingkat ketakwaan dan ketaatan beliau kepada Allah Swt yang teramat luar biasa. Hal itu menjadikan Rasul Muhammad Saw hadir sebagai manusia paripurna berjiwa mulia yang diakui oleh dunia. Segala perangai yang melekat dalam diri beliau tidaklah tanpa makna, namun tak lain pasti mengandung makna filosofis juga kaya dengan etika praktis.

Baca Juga  Apa yang Harus Diteladani dari Pribadi Rasulullah Saw?

Oleh karenanya, sebagai seorang muslim yang baik mari kita dengan seksama meneladani figur hebat sepanjang zaman tersebut. Salah satunya dengan cara menerapkan cara berjalan yang terlukis dalam pribadi beliau. Yang tentunya erat dengan nilai-nilai keislaman yang selalu terpancar.

Bagaimana sih cara berjalan Rasulullah?

Dalam kitab Meneladani Akhlak Nabi karya Imam Abu Syaikh mencantumkan hadis yang membahas terkait cara berjalan Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh Hasan ibn Ali r.a. berkata “aku pernah bertanya kepada Hindun ibn Abi Halah tentang cara berjalan Nabi Saw. Hindun menuturkan:

Beliau berjalan dengan (tubuh) condong ke depan dan melangkah dengan tenang tapi cepat jalannya. Apabila beliau berjalan seperti sedang turun, atau berjalan pada turunan (tangga). Apabila menoleh, maka beliau menoleh secara penuh dan menundukkan pandangan. Pandangannya ke tanah lebih sering daripada pandangannya ke langit. Kebanyakan pandangannya merupakan pengamatan. Beliau menggiring para sahabatnya dan mendahului orang yang yang beliau jumpai dengan ucapan salam.

Di samping itu, dalam riwayat Aisyah yang dinukilkan Abu Dawud, dijelaskan bahwa: suatu hari, Laqith bin Shabrah mendatangi Aisyah untuk mencari Nabi Saw dan dia tidak menjumpainya. Lalu, sesaat kemudian, Rasulullah muncul dengan berjalan cepat (tanpa terburu-buru) dan tidak menyeret kakinya.

8 Ciri Berjalan Rasulullah

Maka, berdasarkan kedua hadis tersebut dapat kita tarik kesimpulan sederhana bahwa cara berjalan Rasulullah ialah sebagai berikut:

  1. Rasulullah Saw. berjalan dengan tegap serta mengangkat kaki. Artinya, beliau tidak menyeret kaki juga alas kaki yang beliau kenakkan.
  2. Tidak terburu-buru alias tenang, istilahnya “haunan”. Hal ini bukan berarti lambat, bukan berarti pula gopoh sampai menabrak orang sekeliling. Akan tetapi, berjalannya beliau tenang dan bersahaja.
  3. Langkah beliau lebar, namun tidak di buat-buat sehingga terlihat gagah.
  4. Berjalan seolah-olah turun dari turunan atau tangga. 
  5. Ketika hendak menoleh, beliau menoleh secara penuh. Artinya, tidak hanya kepala saja, akan tetapi menoleh dengan seluruh badan beliau. Hal tersebut merupakan sebuah tanda bahwa beliau adalah sosok yang berwibawa, bukan seorang yang tolah toleh.
  6. Pandangan beliau ke bumi (bawah) lebih lama dari pandangan ke langit. Ini adalah ciri ketawadukan.
  7. Pandangan beliau adalah pandangan fokus yang mencermati, bukan hanya melihat tanpa arti.
  8. Mengucapkan salam kepada siapapun yang beliau jumpai saat berjalan.
Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 216 Tentang Rahasia

Siapa sangka, bahwa cara berjalan Rasulullah Muhammad Saw ternyata amat selaras dengan  karakter mulia yang melekat pada pribadi beliau. Sebab, hal tersebut secara tidak langsung memuat relasi antara adab dan tingkah laku. Sebagaimana yang akan diuraikan dalam pembahasan dibawah ini.

Akhlak Mulia di balik Cara Berjalan Rasulullah

Betapa indahnya perangai Rasulullah, yang dalam berjalannya sekalipun mampu menyiratkan hikmah mendalam bagi semesta umat. Dari uraian tentang cara berjalan Rasulullah Saw kita dapat memaknai beliau dengan akhlak mulia sebagai berikut:

  1. Tidak sombong

“Pandangan ke bumi lebih lama dari ke langit”, sebagaimana tertera dalam hadis di atas adalah sebuah metafora yang merepresentasikan bahwa Rasulullah Saw. jika berjalan sama sekali tidak menunjukkan kesombongan. Sebagaimana kita tahu, akhlak beliau adalah Al-Qur’an, maka sejatinya hal tersebut telah Allah jelaskan dalam QS. Al-Isra ayat 37 yang berbunyi:

وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.

2. Tawaduk dan bersahaja

Melaui cara berjalan tersebut, Rasulullah nampak sebagai sosok yang tawaduk (rendah hati) lagi bersahaja (sederhana dan tidak berlebihan). Hal tersebut relevan dengan pesan Al-Qur’an surah al-Furqan ayat 63 yang berbunyi:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”

Dari ayat di atas, Ibnu katsir menafsirkan lafal “haunan” dengan artian tenang, berwibawa, tanpa kesombongan dan merasa tinggi.

Baca Juga  Beberapa Fungsi dan Peran Agama dalam Masyakarat

3. Pribadi yang optimistik

Kita tentu sangat familiar dengan akhlak brilian Rasulullah Saw. seiring dengan untaian kisah-kisah sirah nabawi yang kita dengar. Beliau adalah sosok pahlawan yang heroik dan seorang revolusioner peradaban yang handal. Beliau selalu memiliki rasa optimis tinggi di segala medan perjuangan. Sebab dalam jiwa raga beliau sejatinya telah terinternalisasi nilai-nilai ilahi.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat kita ketahui bahwa Rasulullah memiliki cara berjalan yang patut untuk diteladani seperti cara berjalan yang tegap, tidak terburu-buru dan berjalan dengan langkah yang lebar. Bahkan, cara berjalan Rasulullah sangatlah selaras dengan karakter mulia yang melekat dalam diri beliau.