Bentuk al-Qur’an yang hidup dalam masyarakat tentunya terdapat berbagai variasi. Hal ini terjadi karena al-Qur’an sendiri mempunyai dua dimensi. Dimensi teologis terkait diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Dan dimensi historislah yang mempengaruhi interaksi Nabi dengan sekitarnya. Pertemuan Nabi dan Sahabat saat itu terjadi adanya kontruksi, sehingga al-Qur’an itu ada dan dimaknai. Kemudian menciptakan fenomena sosial dan budaya. Terkait hal tersebut penulis akan memaparkan fenomena sosial yang berhubungan dengan al-Qur’an dari belahan Timur dan Barat. Penulis dengan ini menyoroti penelitian dari Kristena Nelson “The Art of Reciting Qur’an” (Fenomena Mesir) dan Timur R.Yuskaev “Speaking Qur’an An American Scripture” (Fenomena Amerika).
Kristena Nelson dan Pembacaan Al-Qur’an
Nelson memaparkan bahwa Tradisi pembacaan al-Qur’an khas Mesir dapat menikmati popularitas, prestise, maupun otoritas yang tiada bandingnya di seluruh dunia Muslim. Sehingga statusnya gaya Mesir dianggap sebagai model bacaan al-Qur’an. Dengan demikian mengungkapkan transmisi al-Qur’an dan keberadaan sosial pada dasarnya adalah lisan. Hal yang perlu ditegaskan juga bahwa tradisi pembacaan al-Qur’an harus dijaga agar berbeda dengan musik. Karena identitas ketuhanan dari teks memberikan kesempurnaan yang melekat dan menjadikannya sebagai model keindahan, dengan mengilhaminya sebagai otoritas dan prestise. Maka, pengertian tersebut memberikan pandangan bahwa memberi label bacaan al-Qur’an sebagai musik dapat merusak kesempurnaan dan keunikan teks.
Lebih jelasnya, fenomena sosial pembacaan al-Qur’an di Mesir berawal percaya bahwa wahyu yang paling awal adalah bentuk perintah “Bacalah, dengan nama Tuhanmu”. Tradisi mengatakan bahwa wahyu diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dalam tujuh ahruf untuk mengkomodasi berbagai suku yang tinggal di jazirah Arab. Tetapi pada saat menerima wahyu berupa al-Qur’an secara keseluruhan, tulisan-tulisan al-Qur’an tersebut tidak dikompilasi menjadi sebuah buku selama masa hidupnya. Sehingga dalam hal ini Nabi Muhammad SAW menyebarkan pesan dengan mengirimkan qari’ bukan teks. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa al-Qur’an diturunkan melalui berbagai mode seperti prosa naratif, citra puisi, dan pidato. Dengan demikian, aspek gaya al-Qur’an yang paling jelas dalam pembacaan adalah rima, asonansi, dan ritme yang semuanya berfungsi untuk menyatukan berbagai mode bicara teks.
Antara Mesir dan Amerika
Pembacaan gaya al-Qur’an di Mesir memunculkan bentuk varian meliputi gaya pembacaan Murattal dan Mujawwad. Yang keduanya mempunyai definisi yang berbeda. Gaya Murattal bersifat santai, tenang, terikat pada ucapan, dan diatas segalanya, umumnya digunakan untuk mengomunikasikan isi al-Qur’an. Sedangkan Mujawwad gaya sistem melodi Arab dan manipulasi sadar parameter bacaan dengan maksud untuk mempengaruhi pendengar. Tetapi dalam budaya tersebut tidak lepas untuk memperhatikan segi tajwid dan transmisi kesanadan. Praktik pembacaan al-Qur’an di Mesir ternyata lebih dari sekedar pengucapan teks dan lebih dari pemenuhan literal dari latihan kebaktian. Sebagaimana didefinisikan generasi ulama bahwa pembacaan al-Qur’an yang ideal harus melibatkan qari’ dan pendengar dalam signifikasi wahyu secara intelektual dan afektif serta spiritual, karena setiap saat pembacaan membangkitkan momen wahyu.
Berbeda dengan fenomena Mesir diatas, dari belahan Barat salah satunya di Amerika, justru yang hidup terkait al-Qur’an malah perihal interpretasi. Yakni, berupa bagaimana cara mengeksplorasi dalam menafsirkan teks suci al-Qur’an untuk memahami dan dijadikan sebagai pengalaman. Hal ini berbeda dengan fenomena sosial Mesir tentunya dilatarbelakangi dengan kondisi yang berbeda. Secara dalam belahan Timur al-Qur’an adalah pusat Islam, dan imanensinya dalam masyarakat Islam pada dasarnya bersifat lisan. Sedangkan pada belahan barat al-Qur’an sudah menjadi dokumen yang telah disebarkan. Sehingga yang hidup adalah interpretasi al-Qur’an yang dilatarbelakangi dengan lingkungan minoritas Islam dan dijadikan sebagai pengaplikasian hidup.
Sebagai contoh interpretasi yang dilakukan oleh Amina Wadud, salah satu intelektual Muslim Amerika pertama yang mengartikulasikan gagasan kesetaraan gender sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan dari prinsip keadilan al-Quran. Dengan ini Wadud mempresentasikan metodologi tafsirnya sebagai “hermeneutika tauhid” sebuah istilah yang menekankan tema sentral al-Qur’an gagasan keesaan Tuhan, serta gagasan koherensi komunikasi kitab suci secara keseluruhan. Wadud berkontribusi pada perubahan yang sedang berlangsung dengan memperkenalkan artikulasi yang lebih berani, namun diungkapkan dengan hati-hati dari pemikiran baru yang telah hadir dalam berbagai bentuk dalam pengalaman banyak Muslim Amerika.
Kesimpulan
Maka, apapun bentuk fenomena sosial terkait al-Qur’an berbagai belahan dunia, tentu dapat menjadi sebuah kekhasan tersendiri dan kekayaan dalam sebuah kajian. Bahkan untuk mempertahankan al-Qur’an supaya tidak mati dalam masyarakat. Karena pada hakikatnya al-Qur’an harus selalu hidup untuk diingat dan dijadikan pedoman umat Islam. Disamping itu, fenomena budaya sosial terkait al-Qur’an dapat dijadikan adanya dakwah untuk tetap melestarikan nilai-nilai Islam yang ukhuwiyah. Wallahu A’lam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.