Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menelisik Perbedaan makna Ni’mah dan Na’im dalam Al-Qur’an

ni'mah
Sumber: https://www.republika.co.id/

Lafal Ni’mah dan Na’im berasal dari satu akar kata. Kedua kosa kata ini jika ditelusuri dalam kamus-kamus bahasa Arab, maka ditemukan hal menarik. Bahwa keduanya merupakan kata yang berasal dari maddah al-kalimah (struktur pembentuk kata) yang sama yakni na-‘a-ma. Keduanya bertemu dalam makna semantik umum yang dimiliki oleh akar katanya.

Kamus-kamus bahasa hampir tidak membedakan makna kedua bentuk tersebut. Keduanya menunjukkan pada istilah nikmat dalam al-Qur’an. Namun apabila keduanya ditelusuri penggunaannya secara spesifik di dalam al-Qur’an dengan mempertimbangkan siyaq al-nash (konteks kebahasaan dalam teks) maka dapat dijumpai perbedaan keduanya secara jelas. Al-Qur’an membedakan pengertian antara ni’mah (an-ni’mah) dan na’im (an-na’im). Jika Allah SWT menggunakan kata ni’mah, itu urusan ­kenikmatan di dunia atau sesaat. Akan tetapi, jika ­Allah SWT menggunakan kata na’im, itu urusan kenikmatan di akhirat atau kenikmatan abadi.

Kosa kata Nikmat dalam Al-Qur’an

Semua kata ni’mah yang ada di dalam al-Qur’an digunakan untuk menunjukan nikmat duniawi dengan berbagai macamnya. Penggunaan ini secara konsisten pada seluruh al-Qur’an, tanpa terkecuali, baik dalam bentuk tunggal maupun pural. Nikmat dalam Al-Quran yang disampaikan melalui kata an-ni’mah baik itu berbentuk mufrad ataupun jama’. Menurut Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi dalam karyanya al-I’jaz al-Bayani lil Qur’an memiliki arti spesifik yaitu kenikmatan duniawi yang bermacam-macam bentuknya. Berikut contoh penggunaan kata ni’mah dalam al-Quran :

سَلْ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ كَمْ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ اٰيَةٍ ۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُّبَدِّلْ نِعْمَةَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: Tanyakanlah kepada Bani Israil, berapa banyak bukti nyata yang telah Kami berikan kepada mereka. Barangsiapa menukar nikmat Allah setelah (nikmat itu) datang kepadanya, maka sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.(QS. Al-Baqarah/2:211)

Baca Juga  Memahami Makna Farahu (الفرح) dalam Al-Qur’an

وَذَرْنِيْ وَالْمُكَذِّبِيْنَ اُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا

Artinya: Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar.” (QS. Al-muzammil/73:11)

Kedua ayat ini menggunakan kata ni’mah karena nikmat dalam konteks ayat tersebut nikmat duniawi. Al-Thabari menafsirkan اُولِى النَّعْمَةِ sebagai orang yang memiliki segala kenikmatan hidup di dunia. Berbeda halnya dengan lafad an-na’im yang dalam al-Qur’an dipergunakan untuk menunjukkan kenikmatan akhirat dan kebanyakan dipasangkan dengan kata jannah.

Kosa Kata Naim dalam Al-Qur’an

Sedangkan kata an-na’im muncul dalam susastra al-Qur’an untuk menunjukan term keislaman, khususnya kenikmatan di akherat. Hal ini juga digunakan secara konsisten dalam seluruh ayat yang mengandung kata na’im, yang berjumlah 16 ayat, tanpa terkecuali. 15 ayat diantaranya tidak memiliki potensi tafsiran lain kecuali kenimatan surga. Berikut contoh penggunaan kata na’im dalam al-Qur’an :

اَلْمُلْكُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ۗيَحْكُمُ بَيْنَهُمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

Artinya: Kekuasaan pada hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di an-tara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan berada dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS. Al-Hajj/22:56).

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Artinya: kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur/102: 8)

Dalam Gharib al-Qur’an dikatakan bahwa an-na’im dalam ayat tersebut dimaknai sebagai kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Baik berupa keamanan, keluarga, makanan dan segala jenis kenikmatan dunia lainnya. Maka ayat ini mungkin bisa saja menjadi penggagal dari hipotesis yang menyatakan bahwa kata an-na’im selalu dimakna sebagai kenikmatan ukhrawi dalam Al-Quran. Namun Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi menyatakan bahwa sejatinya ayat ini jika dicari sirr al-bayan-nya (penjelasan tersirat). Maka didapati bahwa kata al-na’im tetap merujuk pada makna kenikmatan ukrawi.

Baca Juga  Al-A'raf 31: Menjaga Pola Makan Sebagai Zakat

Kenikmatan yang Melenakan Manusia

Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang telah tersilaukan dengan kemegahan duniawi, nantinya saat mereka telah melihat neraka Jahim dengan mata kepala mereka sendiri. Akan ditanyai tentang apa itu kenikmatan yang haqq (sesungguhnya). Maka pada saat itu pula mereka juga akan mendapat ilma al-yaqin (pengetahuan yang sebenar-benarnya).

Bahwa kenikmatan yang sesungguhnya itu ialah kenikmatan akhirat yang telah mereka sia-siakan karena tersilaukan dengan kemegahan dunia. Oleh karena itu meskipun secara umum, kata an-ni’mah dimaknai sebagai kenikmatan dunia yang membuat seseorang melupakan kenikmatan sejati yakni akhirat. Namun dari sirr al-bayan yang dijabarkan Bintu Syathi bisa menjadi salah satu referensi menarik. Bahwa ternyata teorinya bahwa an-na’im selalu dimaknai dengan kenikmatan ukhrawi mungkin tepat.

Kesimpulan

Dengan secara konsisten al-Qur’an dalam mengkhususkan kata na’im untuk kenikmatan akhirat, kita tidak bisa menafsirkan dengan nikmat-nikmat duniawi seperti tersebut dalam kitab-kitab tafsir. Dalam susastra al-Qur’an, nikmat duniawi selalu diungkapkan dengan kata ni’mat, na’ma, dan ni’am. Rahasia susastra adalah bahwa orang-orang yang dilalaikan oleh sikap bermegah-megahan dalam hal keduniaan dari usaha untuk mencari bekal akhirat.

Mereka akan ditanya pada hari ketika mereka melihat neraka jahim, dimana mereka akan melihatnya dengan pengelihatan yang yakin akan ditanya tentang nikmat yang sebenarnya, apa sesungguhnya. Ketika itu, mereka akan mengetahui dengan sebenar-benarnya hakikat na’im yang mereka sia-siakan karena sibuk mengumpulkan kenikmatan duniawi yang fana.

Sebenarnya upaya untuk menjelaskan perbedaan kosa kata yang sering dianggap memiliki makna yang sama (taraduf) dalam Al-Quran adalah untuk menunjukkan dan meneguhkan aspek al-i’jaz al-balaghy (mukjizat kebahasaan) dalam Al-Quran. Hal ini juga mencegah terjadinya simplifikasi pemaknaan atau penerjemahan Al-Quran. Di mana dalam tulisan ini dibuktikan bahwa dua kata yang berasal dari maddah al-kalimah yang sama saja, bisa memiliki spesifikasi makna yang berbeda dan tidak bisa dipukul rata pemaknaannya. Wallahu A’lam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi

Baca Juga  Polemik KB: Telaah Pemikiran Misbah Musthafa dan AA Engineer