Islamofobia atau dalam bahasa inggris disebut islamophobia terdiri dari dua kata yaitu islam dan fobia. Islam menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. yang berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Phobia berasal dari bahasa Yunani yang berarti takut (fear) serta teror. Kemudian secara bahasa fobia diartikan sebagai rasa takut berlebihan pada benda atau keadaan tertentu. Sehingga islamofobia dapat diartikan sebagai sebuah paham yang membenci dan takut kepada Islam.
Sumanto Alqurtuby berpendapat bahwa Islamofobia adalah ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan terhadap Islam dan umat Islam. Islamofobia adalah penyakit mental berdasarkan pandangan dan sikap anti-Islam. Islamofobia adalah metode rasisme yang jelas dan diterima saat ini yangmenciptakan kesalahpahaman dan mendorong kebencian.
Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul “Islamofobia” mengutip dari Pusat Kajian Ras dan Gender Universitas Berkeley yang menyebutkan bahwa, Islamofobia adalah suatu ketakutan atau prasangka yang direkayasa dan dipicu oleh struktur kekuasaan global saat ini yang bersifat eropasentris dan orientalis. Ketakutan atau prasangka ini diarahkan pada isu “ancaman orang-orang islam”-baik yang hanya berupa kesan maupun yang benar-benar nyata- dengan mempertahankan dan memperluas berbagai kesenjangan yang ada di dalam hubungan ekonomi, politik, sosial, dan budaya, sembari melakukan rasionalisasi bahwa kekerasan perlu digunakan sebagai cara untuk melakukan “pembenahan peradaban” pada komunitas-komunitas yang didasar (umat muslim atau yang lainnya). Islamofobia memperkenalkan kembali serta menegaskan kembali struktur rasial global yang dengannya kesenjangan distribusi sumber daya dipertahankan dan diperluas.
Mantan presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pernah berkomentar tentangIslamofobia. Beliau mengatakan, “Jika Islamofobia, seperti halnya Kristenfobia, berkaitan dengan ketakutan dan kebencian, dua-duanya adalah soal emosi. Dominique Moisi, seorang Prancis, dalam bukunya Geopolitics of Emotions: HowCultures of Fear, Humiliation and Hope are Reshaping the World menggambarkan terjadinya benturan emosi antara Islam dengan Barat. Tesis Moisi ialah ada pihak yang merasa takut, tetapi di pihak lain ada yang merasa dipermalukan (Humiliated). Digambarkan masyarakat Barat takut terhadap Islam karena aksi-aksi kekerasan dan terorisme yang kerap terjadi. Sementara, Islam merasa dipermalukan lantaran tidak mendapatkan keadilan dan diperlakukan secara semena-mena oleh Barat.”
Akar dan sebab Munculnya Islamofobia
Islamofobia muncul sejak akhir abad 19 dan populer setelah peristiwa serangan bunuh diri di New York City dan Washington D.C pada 11 September 2001. Selain ketakutan akan peradaban Islam, “Islam Fobia” muncul karena ketakutan Islam di Barat. Mereka yakin Islam susah bersatu dengan negara komunis. Setelah perang dingin berakhir, dan Uni Soviet dengan ideologi komunisnya awal 1990-an hancur, Barat tidak memerlukan Islam lagi, sehingga berakhirlah politik kerjasama dan perjanjian damai Barat dengan Islam. Atas dasar ini, mereka memunculkan perang peradaban dan istilah “ islamofobia” menjadi salah satu produk dari peperangan tersebut.
Istilah Islamofobia muncul sebab ada fenomena baru yang membutuhkan penamaan yang notabene belum ada sebelumnya. Hal ini dikarenakan pada saat itu fenomena prasangka anti Islam berkembang sangat cepat sehingga dengan segera membutuhkan kosa kata baru untuk mengidentifikasikannya. Di sisi lain penggunaan istilah baru tersebuttidak akan menimbulkan konflik namun justru akan lebih dipercaya memainkan peranan dalam usaha untuk mengoreksi persepsi danmembangun hubungan yang lebih baik
Jika ditelusuri lebih lanjut, islamofobia memiliki beberapa sebab atau akar yang menjadi dasar munculnya problematika tersebut . Khaled A. Beydoun menyebutkan bahwa orientalisme merupakan akar dari Islamofobia di Amerika. Pola kolonialisme diproduksi sehingga melahirkan Islamofobia. Munculnya orientalisme berasal dari imajinasi Barat terhadap timur termasuk Islam yang cenderung negatif. Dari imajinasi mereka, Islam dikonotasikan barbar, amoral, gila seks, erotik yang lekat pandangan Barat pada Islam masa lalu.25 Di Indonesia, orientalisme lahir lewat salah satu figur colonial, yaitu C. Snouck Hurgronje. Ia terlihat simpatik pada Islam pada aspek ritual namun memiliki wajah bengis pada politik Islam.
Berkaca pada masa lampau, sebagian orang Amerika masih memiliki anggapan bahwa Islam adalah agama tirani. Hal ini didasari oleh sikap mereka yang masih kerap mengacu pada sejarah yang menunjukkan bahwa penyebaran Islam dilaakukan dengan kekerasan. Perang yang terjadi di kisaran abad 14 dan 15 antara kristen Eropa dan Islam menjadi bukti yang menegaskan paradigma tersebut. Sebagian orang Kristen di Amerika Serikat bahkan secara terang-terangan berpandangan bahwa perang antara Islam dan Barat tak mungkin berakhir. Karena sejak awal sudah tertulis di kitab Injil.
Dinamika Islamofobia Di Indonesia
Di Indonesia, Islamofobia lahir karena adanya dikotomi Islam dan keindonesiaan. Pemisahan Islam dan Indonesia diklaim sebagai perilaku umat Islam pada umumnya oleh mereka. Dikotomi itu ada karena fobia terhadap Islam dan muslim yang seolah-olah anti-Pancasila dan NKRI.
Ideologi islamofobia biasanya muncul pada masyarakat yang minim pengetahuan tentang makna dan ajaran islam yang sebenarnya. Sebab mereka telah terhegemoni oleh paham liberalisme, kehidupan yang bebas, serta sangat jarang tersentuh oleh islam. Oleh karenanya, kaum islamofobia biasanya banyak didapati di negara-negara maju, seperti Eropa dan Amerika. Tolak balik dari islamofobia ini adalah Islam radikal, yang juga muncul disebabkan adanya reaksi berantai dari munculnya paham islamofobia. Hingga dari kaum radikalis ini pun membenci negara-negara yang banyak mengadopsi pemikiran islamofobia tersebut, seperti Amerika dan semacamnya.
Maraknya kemunculan aliran-aliran sempalan islam di Indonesia, seperti Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) juga merupakan salah satu bentuk implementasi dari islamofobia di Indonesia. Mereka memahami islam tidak seperti yang diinginkan. Kebanyakan dari mereka tidak jauh otak dan pemikirannya dengan kaum islamofobia di Barat.
Sebagian umat muslim di Indonesia, terutama terutama yang berdomosili di daerah-daerah pelosok masih haus akan pengetahuan yang dalam akan Islam. Sehingga kebanyakan dari mereka akan sangat mudah untuk terdoktrin. Baik doktrin menuju ekstrimis-radikalis, liberalism, hingga paham islamofobia sekalipun.
Di sisi lain, ideologi liberalisme yang juga sedang berkembang di Indonesia juga merupakan salah satu kunci masuknya paham islamofobia dari sebelah kiri. Seorang sekuler-liberalis tidak akan mempedulikan agama baik secara praktik maupun ajaran. Mereka hanya mempedulikan kehidupan yang damai dan tanpa perang dan kekerasan. efeknya secara tidak langsung mereka akan menjustifikasi seseorang atau sekelompok yang dalam melakukan praktik keagamaan memakai cara yang tidak ia sukai, misalnya dengan mengebom, menteror dan hal-hal (dirasa) negatif lainnya. Dengan demikian, ia juga akan mudah untuk fobia (takut, benci, bahkan jijik) dengan agama (yang melakukan hal-hal yang tidak disukainya sebagaimana yang disebutkan tersebut).
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply