Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Membuka Dogma Beragama: Antara Identitas dan Kesadaran

Kesadaran Muslim
Sumber: pinterest.com

Islam: Warisan atau Kesadaran?

Masjid berdiri megah di hampir setiap sudut kota. Suara azan berkumandang lima kali sehari, jumlah jamaah haji Indonesia selalu terbesar di dunia. Namun, di balik itu, berita tentang korupsi, intoleransi, dan kekerasan juga terus bermunculan. Pertanyaan pun muncul: apakah Islam benar-benar hadir sebagai pedoman hidup atau hanya berhenti pada simbol dan rutinitas?

Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Pertumbuhan ini terjadi karena agama diwariskan sejak lahir. Anak-anak otomatis mengikuti agama orang tuanya, sebuah pola yang bisa disebut “Islam Warisan”. Pertanyaannya, apakah hal ini keliru? Mari kita bedah firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: 170 sebagai berikut:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَاۗ

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, ‘Tidak. Kami mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami”

Dan di dalam Q.S. Az-Zukhruf: 23 Allah berfirman:

بَلْ قَالُوٓا إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّهْتَدُونَ

“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka.’

Menurut Tafsir At-Thabari, ayat ini menggambarkan masyarakat yang menolak kebenaran dengan alasan mengikuti tradisi. Saat Nabi Saw. bertanya mengapa mereka menyembah berhala, jawabannya selalu, “Karena nenek moyang kami melakukannya.” Pola ini, ironisnya, mirip dengan sebagian Muslim hari ini yang beragama sebatas keturunan.[1]

***

Ironisnya pula, sebagian Muslim hari ini justru meniru masyarakat Arab pra-Islam: menjadikan agama semata warisan keturunan. Akibatnya, Islam kerap berhenti pada simbol dan identitas, bukan sebagai jalan hidup.

Baca Juga  Kebijaksanaan Nabi Ibrahim Menurut Pandangan Soren A. Kierkegaard

Padahal, Islam menghendaki umatnya beragama dengan kesadaran. Warisan tentu bisa jadi titik awal, tetapi harus dilanjutkan dengan pemahaman mendalam agar keyakinan benar-benar lahir dari kesadaran, bukan semata turunan.

Di sinilah letak relevansinya dengan kondisi sekarang. Banyak umat Islam menjadikan agama sebatas identitas, tanpa pemahaman yang utuh dan mendalam. Akibatnya, Islam sering terjebak dalam simbol dan ritual, bukan hadir sebagai jalan hidup (way of life).[2]

Ibrahim: Teladan Pencarian Kebenaran

Nabi Ibrahim a.s. menjadi contoh nyata bagaimana agama seharusnya dipilih dengan kesadaran. Beliau tidak serta-merta mengikuti keyakinan nenek moyangnya yang menyembah berhala, melainkan mencari kebenaran melalui akal dan pengamatan.

Al-Qur’an (Q.S. Al-An‘am: 74–80) menceritakan Ibrahim yang sempat menganggap bintang, bulan, dan matahari sebagai tuhan. Namun, ketika benda-benda itu tenggelam, ia menolak untuk menganggapnya sebagai tuhan. Pasalnya, tuhan sejati tidak mungkin hilang. Dari perenungan itu, Ibrahim menyimpulkan bahwa tuhan tidak bergantung pada ruang dan waktu. Dan pada akhirnya, Ibrahim berserah diri kepada Allah dengan penuh kesadaran.[3]

Sikap kritis Ibrahim menunjukkan bahwa beragama tidak hanya mengikuti tradisi nenek moyang, melainkan melalui pencarian, perenungan yang matang. Maka, ketika akhirnya Ibrahim berserah diri kepada Allah, itu adalah buah dari kesadaran penuh, bukan sekadar warisan kepercayaan.

Teladan ini penting bagi umat Islam hari ini. Jika Nabi Ibrahim menolak untuk buta dalam mengikuti agama nenek moyangnya, bagaimana mungkin kita puas hanya menjadi Muslim karena lahir dari keluarga Muslim? Maka, akal menjadi sesuatu yang penting dalam menentukan agama mana yang akan dianut.

Berislam dengan Akal dan Islam sebagai Jalan Hidup

Para ulama sepakat bahwa syarat sah seseorang masuk Islam adalah berakal, yang berarti sadar serta memahami keyakinannya melalui proses berpikir. Maka, kualitas keislaman seseorang patut dipertanyakan bila hanya berhenti pada warisan tanpa pencarian kebenaran.[4] Artinya, orang yang memeluk Islam tanpa melalui proses tersebut perlu ditanyakan kembali kualitas keislamannya.

Baca Juga  Kemenangan Hakiki di Bulan Ramadan

Bukankah Allah sering memerintahkan manusia untuk berpikir. Misalnya, kalimat اَفَلَا تَعْقِلُوْن yang berarti “apakah kamu tidak berpikir?” Bahkan, Allah memberikan peringatan khusus bagi orang yang tidak mau berpikir di dalam Al-Qur’an.

Ketika Islam hanya dipandang sebagai identitas, lahirlah paradoks: banyak Muslim secara ritual tampak religius, tetapi perilakunya bertentangan dengan nilai Islam.

Abduh dan Ironi Muslim Dunia

Muhammad Abduh pernah berkata “Aku pergi ke negara Barat, aku melihat Islam, namun tidak melihat orang muslim. Dan aku pergi ke negara Arab, aku melihat orang muslim, namun tidak melihat İslam”.[5] Sebuah kritik tajam bagi para pemeluk Islam.

Abduh berkunjung ke Barat, ia kagum karena masyarakat non-Muslim di sana justru menjalankan nilai-nilai Islam, seperti disiplin, kebersihan, ketertiban, dan etos kerja. Sebaliknya, di negeri Arab yang mayoritas Muslim, ia mendapati umat lebih menonjol dalam simbol dan ibadah formal, namun kurang mencerminkan ajaran Islam dalam perilaku sehari-hari.

Fenomena serupa terlihat di Indonesia. Banyak pejabat mengaku Muslim, tetapi tetap terjerat korupsi dan praktik kotor. Islam pun sering dijadikan komoditas politik untuk kepentingan kelompok tertentu.

Padahal, Islam bukan sekadar simbol dan ritual, melainkan jalan hidup (way of life) yang seharusnya membawa perubahan nyata. Jika agama hanya diwarisi tanpa kesadaran, ia akan berhenti pada identitas belaka.

Karena itu, penulis mengajak pembaca untuk menjadi Muslim yang kritis dengan kembali mempertanyakan keislamannya. Islam perlu dimulai dari kesadaran dalam pencarian kebenaran, bukan warisan yang melahirkan simbol atau ritual semata, sehingga Islam mampu membawa perubahan.


Daftar Pustaka

[1] Abu Ja’far Muhammad ath-Thabari, Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an, (Kairo: Dār Hajr dan Dār ‘Ālam al-Kutub, 2001),  hlm. 14.

Baca Juga  Interupsi Al-Qur’an atas Korupsi: Refleksi Al-Baqarah Ayat 188

[2] Hikmah Sari Dewi et al., “Konsep Islam sebagai Way of Life : Pandangan dan Implikasinya dalam Kehidupan Modern,” Al-Aufa: Jurnal Pendidikan Dan Kajian Keislaman, Vol. 5, No. 2, 2023, hlm. 1.

[3] Afrizal El Adzim Syahputra, “Proses Berpikir Nabi Ibrahim as. melalui Dialog dengan Tuhan dalam Al-Qur’an”, Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, Vol. 12, No. 02, 2018, hlm. 172 – 173.

[4] Alimuddin Hasbi, “MURTAD SEBELUM BALIQH DAN KAITANNYA DENGAN KEWARISAN DALAM PANDANGAN ULAMA FIQH,” Jurnal Ma’had Aly Raudhatul Ma’arif, Vol. 1, 2023, hlm. 30.

[5] Komaruzaman, “Studi Pemikiran Muhammad Abduh dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan di Indonesia” Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, Vol. 3, No. 01, 2017, hlm. 9496.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID