Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Istiwa’ Perspektif Empat Mazhab Fikih

Istiwa'
Sumber: pinterest.com

Al-Qur’an sebagai petunjuk menganggap perbedaan pendapat sebagai ketetapan yang nyata dan wujud dari ketetapan Tuhan. Allah Swt. sangat mampu menjadikan semua pandangan menjadi serupa serta meniadakan perbedaan. Namun, perselisihan tersebut nyata adanya dan menjadi sarana (panggung) Allah Swt. untuk menguji hamba-Nya. Salah satunya adalah perselisihan terkait istiwa’ (tempat bersemayam Allah).

Makna dan Determining Istiwa’ dalam Al-Qur’an

Dewasa ini, doktrin kaum wahabi (istilah mainstream) cukup ramai dan tersebar pada masyarakat awam. Kelompok tersebut mempromosikan sekaligus mengikrarkan pemahaman kepada khalayak umum. Dampaknya, masyarakat umum menerima sekaligus meyakini tanpa adanya tabayun terhadap narasi kaum tersebut. Mereka meyakini dan menyebarkan bahwa Allah Swt. bersifat istiwa’ berarti Allah Swt. singgah atau duduk di singgasana-Nya, yaitu arasy.

Pemahaman tersebut menyelisihi keyakinan Ahlu Sunnah. Ahlu Sunnah meyakini bahwa makna istiwa’ adalah kiasan atas keagungan dan kedigdayaan Allah Swt. Mereka menepis pemahaman wahabi dengan argumen “Umat Islam tidak seharusnya menyamakan sifat Allah Swt. dengan sifat makhluk. Apabila umay memahami bahwa Allah Swt. duduk atau singgah, berarti Ia membutuhkan ruang dan waktu sebagaimana makhluk-Nya”. Firman Allah “Laysa kamithlihi syay’un” mempertegas argumen tersebut.

Dalam kamus Alqur’an al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfadz al-Qur’an al-Karim, term istawa’ berjumlah 15 dengan rincian Al-Baqarah [2]: 29, Al-A’raf [7]: 54, Yunus [10]:3, Al-Ra’du [13]: 2, Taha [20]: 5, Al-Furqan [25]: 59, Al-Qasas [28]: 14, Al-Sajdah [32]: 4, Fussilat [41]: 11, Al-Fathu [48]: 29, Al-Najm [53]: 6, Al-Hadid [57]: 4, Hud [11]: 4, Al-Baqarah [2]: 17, Al-Mu’minn [23]: 28, dan Al-Zukhruf [43]: 13. Term pada ayat-ayat tersebut tidak selalu mengarah kepada zat Allah Swt.

Baca Juga  4 Bentuk Larangan Terperdaya dalam Al-Qur'an

Makna Istiwa’ Perspektif Imam Hanafi dan Malik

  • Imam Hanafi

Imam Abu Hanifah masyhur sebagai pribadi ahli tauhid, beliau menganggap Allah Swt. suci dari sifat kesamaan dengan makhluk-Nya. Argumen tersebut terdapat pada kitab beliau, di antaranya yaitu al-Fiqh al-Akbar dan al-Washiyyah. Secara garis besar, Imam Hanafi menyebutkan bahwa Allah Swt. tidak sama dengan ciptaan-Nya. Hujah Imam Hanafi ialah Allah Swt. tidak membutuhkan Arasy seperti makhluk yang membutuhkan waktu dan tempat untuk hidup.

  • Imam Malik

Dalam kitab al-Asma’ wa al-Sifat terdapat sebuah riwayat, “Saat Imam Malik sedang belajar dengan para muridnya, seseorang menanyainya, bagaimana istiwa’ Allah Swt. dalam firman-Nya “al-Rahman ‘ala al-‘Arsyi istawa” beliau menunduk dan mengeluarkan keringat seraya berkata, “Allah Swt. menyifati dirinya sendiri dan tidak boleh tak seorang pun boleh menanyakan ‘bagaimana’-Nya. Faktornya ialah karena sifat ‘bagaimana’ bagi Allah Swt. adalah tidak ada”. Beliau menambahi, “Engkau adalah pribadi yang buruk aqidahnya dan bid’ah.” Para murid Imam Malik pun mengeluarkan orang tersebut dari majlis.

Pandangan Imam Syafi’i dan Ahmad terkait ‘Tempat Bersemayam Allah’

  • Pandangan Imam Syafi’i

Dalam kitab al-Burhan al-Muayyad, sufi agung bernama Imam Ahmad al-Rifa’i menyebutkan sebuah riwayat tentang pendapat Imam al-Syafi’i dalam memaknai ‘tempat bersemayam Allah’. Beliau (Imam Syafi’i) berkata, “Aku percaya dengan ‘tempat bersemayam Allah’ tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk apapun (tidak mentasybihkan). Aku juga percaya akan kebenaran term tersebut tanpa menyamakannya dengan barang apapun (tidak men-tamtsil-kan). Apabila muncul dalam pikiranku sebuah prasangka mengenai arti-arti istiwa’, pasti hal tersebut merupakan kekeliruan. Aku menjauhkan supaya tidak masuk dan terjerumus ke dalam pemahaman tersebut”.

  • Pandangan Imam Ahmad

Imam Hanbali adalah ulama yang masyhur dengan akidah beliau (al-tanzih), beliau menolak kepercayaan tasybih (menyerupakan), beliau juga tidak menuntut ajaran tasybih kepada muridnya. Seorang pemimpin mazhab Hanbali, Abu Fadl al-Tamimi, dalam kitabnya I’tiqad al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal mengemukakan pendapat Imam Hanbali mengenai ‘tempat bersemayam Allah’ sebagai berikut, “Imam Hanbali cukup menolak bahwa Allah Swt. merupakan benda (jism)”. Beliau menambahi bahwa, Asma’ Allah SWT merupakan manisfestasi dari ketetapan syariat serta bahasa. Di antara argumen yang beliau gunakan adalah Allah Swt. Mahasuci dari sifat benda seperti panjang, lebar, kedalaman, dan bentuk yang dimilikinya. Wallahu a’lam.

Editor: Dzaki Kusumaning SM

Baca Juga  Maslahat dan Madarat Sound Horeg dalam Bingkai Tafsir Maqasidi