Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Proses Hujan dalam Tafsir Ilmiah: Tantawi Al-Jauhari

hujan
Sumber: https://videnskab.dk

Para ulama berijtihad untuk menjadikan al-Qur`an kontekstual dan dinamis seiring dengan berkembangnya zaman. Hal ini berimplikasi pada munculnya berbagai pendekatan dan metode dalam memahami al-Qur`an. Salah satu ulama yang menggunakan pendekatan sains adalah Ṭanṭāwī Jauharī dengan karyanya al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur`ān. Sejauh mana Ṭanṭāwī menganggap bahwa al-Qur`an mengandung sains di dalamnya. Artikel ini mengulas tema proses hujan secara ilmiah dalam kitab tafsir.

Profil Kitab al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur`ān

Ṭanṭāwī Jauharī al-Misriy merupakan nama lengkap seorang filusuf Islam dan seorang intelektual Muslim yang hidup pada abad ke-19. Ia lahir di desa Kifr ’Iwadillah Hijazi provinsi Mesir Timur tahun 1287 H/1862M. Ṭanṭāwī bermadzhab Syafi’i Al-Asy’ari. Ia memulai untuk menulis tafsir pada tahun 1922 M dan selesai pada tahun 1935 M. Tafsir tersebut selesai sekitar 13 tahun. Ṭanṭāwῑ juga memberi tafsir ayat terhadap muridnya. Sebagian tafsirannya ditulis dalam Malaja’i al-Abbasiyah dan melanjutkan tafsirannya hingga selesai. Sebelum menjadi tafsir Jawᾱhir, tafsir ini bernama; al-Taj al-Murassha’ bi Jawahir al-Qur’an wa al-‘Ulūm (Mahkota dengan untaian mutiara al-Qur’an serta Pengetahuan). Beberapa karya tafsir tersebut mendatangkan tafsir ilmiah yang sering disebut; tafsir Al-Jawᾱhir fῑ Tafsῑr Al-Qur`an Al-Karῑm yang berkeinginan untuk melaborasikan ayat dengan keajaiban alam.

Dalam kitab al-Tafsῑr wa al-Mufassirūn, Ṭanṭāwī mengungkapkan pendapatnya. Bahwa ayat yang menerangkan pengetahuan terdapat 750 ayat ṣarīḥ, dan ayat yang menerangkan ilmu fikih tidak sampai 150 ayat. Kitab al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur`ān yang terdiri atas; 13 jilid atau 26 juz ini pertama kali dicetak oleh Mu`assasah Muṣṭafā al-Bābī al-Ḥalabī pada tahun 1350 H/1929 M dengan ukuran 30 cm. Kitab tafsir ini menggunakan metode taḥlīliy dengan corak tafsīr ‘ilmiy dan sistematika penulisannya sesuai dengan mushaf al-Qur`an (tartīb muṣḥafī).

Baca Juga  Tafsir Surat Al-Baqarah 261: Untuk Menerima, Kita Harus Memberi

Tafsir ‘ilmiy adalah tafsir yang menggunakan istilah ilmiah yang di dalamnya terdapat ibarat-ibarat al-Qur`an dan terdapat ijtihad dalam melahirkan keilmuan yang beragam. Bermacam-macam pendapat filsafat darinya. Penafsiran yang dikembangkan oleh Ṭanṭāwī lebih menitikberatkan pada analisis dan pandangan dunia al-Qur`an secara menyeluruh. Terutama yang berkaitan dengan sains ilmiah (ilmu alam). Tafsir lafẓī (penjelasan lafaz) hanya disebutkan secara ringkas. Kemudian teks yang dianggap berkenaan dengan sains akan dielaborasi secara mendalam dengan memasukkan pembahasan ilmiah dan teori-teori modern. Teori tersebut diambil dari pemikiran para sarjana juga ulama Timur dan Barat untuk menjelaskan kepada seluruh umat manusia bahwa al-Qur`an akan selalu relevan dengan perkembangan sains.

Penafsiran Tentang Proses Hujan

Salah satu penafsiran Ṭanṭāwī dalam kitabnya mengenai tafsir saintifik, yakni mengenai firman Allah Subḥānahu wa Ta’āla tentang proses turunnya hujan. Berawal dari sebuah ayat:

اَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُأَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوّدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيْبُ بِهِ مَنْ يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَّنْ يَشَآءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Tidakkah engkau meilhat bahwa sesungguhnya Allah mengarahkan awan secara perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk. Maka, engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung. Maka, Dia menimpakannya (butiran-butiran es itu) kepada siapa yang Dia kehendaki dan memalingkannya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

Menurut Ṭanṭāwī, Allah Subḥānahu wa Ta’āla mengawali proses hujan dengan menggerakkan awan, hingga terbentuk gumpalan tebal yang disebabkan dorongan angin.

وَهُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأّنْزَلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً طَهُوْرًا

Baca Juga  Ustadz Fathurrahman Kamal: Rasisme adalah Bangkai!

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan dari langit air yang sangat suci.

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَسْقَيْنٰكُمُوْهُ وَمَآ اَنْتُمْ لَهُ بِخٰزِنِيْنَ

Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan. Maka, Kami menurunkan hujan dari langit lalu memberi minum dengan (air) itu, sedangkan kamu bukanlah orang-orang yang menyimpannya.

Kedua ayat tersebut merupakan keajaiban dan rumus bagi ilmu pengetahuan. Mengirim angin dan menurunkan hujan agar bumi yang gersang menjadi hidup kembali merupakan bukti kekuasaan Allah. Tiupan angin tersebut kemudian berfungsi untuk penyerbukan/mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Lafal lawāqiḥa dalam ayat kedua berarti “penyerbukan”, merupakan salah satu petunjuk dari pemahaman terhadap al-Qur`an. Ilmu mengenai penyerbukan sangat penting dalam ilmu botani, karena jumlah daun yang terdapat pada bunga jantan dan betina merupakan hasil pembagian dari proses ilmu ini.