Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Empat Nilai Edukatif dalam Puasa: Analisis QS. Al-Baqarah 183

nilai edukatif
Sumber: https://www.ilmuk.org

Puasa Ramadan itu kewajiban. Ia termaktub dalam QS al-Baqarah:183. Tidak ada orang yang tidak bisa melewatinya, kecuali beberapa kelompok orang yang diringankan. Mereka adalah orang yang sakit, melakukan perjalanan, dan tua renta atau sakit menahun. Kewajiban dari Allah tentu mendatangkan kebaikan pada pelaksananya. Bahkan ayat ini mengandung nilai edukatif dalam puasa.

Setiap ayat al-Qur’an sepertinya mengandung sisi pendidikan bagi pembacanya. Bentuk kalimatnya cukup banyak. Ada yang muhkam, mutasyabih, mujmal, dan mubayyan. Ada pula amr, nahy, ‘am, dan khas. Belum lagi corak kalimat yang bernuansa contoh (amtsal), kisah (qashash), khabar, dan insya’i, sebagaimana yang diungkap oleh al-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (1999). Sejumlah bentuk dan corak ini memiliki penekanan yang berbeda. Namun dalam konteks pendidikan setiap ayat memiliki nilai edukatif. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang dijadikan pedoman untuk keberlangsungan hidup manusia (Quraish Shihab, 1999). Tujuan pendidikan dalam perspektif Islam diturunkan dari ajaran Islam untuk kebaikan dalam keberlangsungan hidup.

4 Nilai Edukatif Puasa

Menarik apabila kita perhatikan pernyataan QS al-Baqarah:183 dalam perspektif pendidikan. Apa saja nilai edukatif yang dapat ditelaah? Berikut uraiannya.

Pertama, ungkapan panggilan dengan julukan orang yang beriman. Panggilan Allah Swt tidak pada seluruh manusia, melainkan khusus pada orang yang beriman. Panggilan ini berbalut nuansa kelembuatan dari Allah pada hamba. Allah hanya memanggil orang beriman.

Dalam perspektif psikologis seperti yang pernah dikemukakan oleh Suzanne Degges Ph.D dari Northern Illinois University dalam artikel Psychology Today (2020), panggilan dengan relasi yang lembut menjadi cara yang menyenangkan. Panggilan dengan kelembutan akan memicu produksi hormon dopamin. Hormon ini dapat menghadirkan perasaan bahasan dan merasa dihargai atas apa yang dipanggil.

Baca Juga  Keutamaan yang Ada di Bulan Ramadhan

Sebutan orang beriman akan menghadirkan subjek yang dipanggil merasa dikhususkan. Nuansa ini akan menghadirkan dorongan ketundukan kepada subyek yang memanggil, yaitu Allah. Dengan panggilan yang menggugah, subyek akan mampu menjalankan kewajiban dengan penuh ketulusan. Sebab, ia disentuh dengan sisi kebaikan pada posisi subyek yang dipanggil.

***

Kedua, artikel ha pada kata ya ayyuha, bermakna li al-tanbih memuat hal yang perlu diperhatikan. Panggilan bagi orang khusus disertai dengan makna sesuatu yang menarik perhatian subyek. Pola pernyataan ini meneguhkan bahwa subyek terdidik harus mampu menghadirkan hati pada materi yang akan disampaikan. Keberhasilan pendidikan salah satunya dipengaruhi oleh perhatian terhadap materi. Banyak hasil riset yang pernah mengemukakan hal ini. Salah satunya adalah Diana Karlina (2021) dalam risetnya mengungkapkan terdapat pengaruh konsentrasi belajar terhadap hasil belajar peserta didik. Konsentrasi dengan pernyataan ha li al-tanbih akan mendorong lahirnya pengamalan untuk menjalankan kewajiban dengan penuh ketulusan.

Ketiga, pernyataan “diwajibkan atas kamu untuk berpuasa”. Pernyataan ini mengandung ketegasan apa yang harus dilakukan. Pernyataan yang simpel dengan struktur fi’il dan na’ib al-fa’il menunjukkan kelugasan dalam informasi. Simbol dari pernyataan ini meneguhkan bahwa interaksi edukatif perlu ketegasan dan keluwesan dalam penyampaian materi. Interaksinya dialogis antara Allah dengan hamba-Nya dan di dalamnya terdapat penyebutan kewajiban puasa.

***

Dalam konteks pendidikan, interaksi pembelajaran berisi tentang materi. Materi biasanya bersifat pengetahuan. Dalam teori kurikulum, terdapat tiga jenis pengetahuan. Satu, pengetahuan faktual yang berkaitan dengan peristiwa, fakta, dan fenomena yang nyata. Puasa adalah fakta. Katanya disebut dalam al-Qur’an. Banyak orang yang melaksanakannya. Kedua, konseptual yang berkaitan dengan pemahaman, konsep, teori, hukum, dan prinsip.

Baca Juga  Lingkungan Hidup dalam Perspektif Al-Qur'an

Dalam penafsiran kata al-shiyam termuat definisi, konsep, dan hukum puasa. Kata itu disebutkan juga akan merangkai pemahaman mengenai konsep di dalamnya sekaligus hukumnya. Pengetahuan prosedural. Pengetahuan ini berkaitan dengan langkah, alur, dan tatacara melakukan sesuatu. Puasa memiliki prosedural tertentu.

Aspek Historis Puasa

Puasa memiliki aspek historis. Puasa tidak hanya diwajibkan bagi umat Nabi Muhammad Saw. Ia diwajibkan pula bagi umat sebelumnya (min qablikum). Pernyataan ini dalam aspek pendidikan menyuguhkan pesan kontekstual. Informasi yang disampaikan akan mengena pada perhatian subyek apabila konteksnya terikat pada kehidupan. Kontekstual dalam historis ini menjadi interaksi pembelajaran kepada manusia bahwa ada rangkaian historis dalam pelaksanaan puasa.

Rangkaian historis ini menjadi materi penting bagi sikap dan pengetahuan manusia untuk melangkah ke depan. Dalam konteks puasa, rangkaian historis bermakna kebertahapan pencapaian pencerahan manusia dari masa ke masa.

***

Artikel la ‘allakum tattaquna (agar kamu bertakwa), bukan sekedar memberitakan capaian ketakwaan. Dalam aspek pendidikan, pernyataan ini berkaitan dengan proses hidup manusia. Manusia yang baik berhubungan dengan konsistensi untuk menunjukkan ketundukan kepada Yang Maha Menciptakan. Pendidikan mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan dan dihindari.

Ketakwaan menjadi capaian dalam proses kehidupan. Pendidikan berkaitan dengan proses hidup. Oleh karenanya, ketakwaan dapat dipandang sebagai tujuan pendidikan perspektif Islam. Wallahu A’lam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi