Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengapa Marhaban ya Ramadhan? Bukan Ahlan wa Sahlan?

Marhaban
Gambar: https://portalkudus.pikiran-rakyat.com/

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa, sebab Allah Swt menjadikannya sebagai bulan dalam menabur rahmat-Nya pada hamba-hamba-Nya. Sehingga pada bulan tersebut terdapat keberkahan yang begitu melimpah dari Allah Swt, dan salah satu dari bentuk keberkahan-Nya adalah dibukanya pintu surga selebar-selebarnya dan ditutupnya pintu neraka serapat-rapatnya bahkan setan-setan yang selalu dianggap sebagai penyebab manusia dalam bermaksiat pun pada bulan Ramadhan akan dibelenggu. Sebagaimana dalam hadis riwayat Ahmad dan An-Nasa’i:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya, maka dia tidak memperoleh apa-apa” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Maka sambutlah bulan Ramadhan dengan rasa penuh gembira, karena sesungguhnya tidak semua orang dapat dikaruniai kenikmatan berkah di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan diibaratkan sebagai sekolah spiritual yang disediakan oleh Allah Swt untuk manusia. Sebab pada bulan tersebut kita dibina oleh Allah Swt dengan berbagai macam perintah. Seperti perintah berpuasa (untuk mengetahui bahwa kita hanyalah makhluk Allah yang lemah), perintah zakat fitrah (Allah ingin menegaskan bahwa di dalam hartamu terdapat hak orang lain dan dengan berzakat maka dapat mensucikan apa yang kita miliki). Dengan demikian, apa yang harus kita lakukan dalam menyambut bulan Ramadhan?

Mengapa Marhaban dan Bukan Ahlan Wa Sahlan?

Dalam penyambutan bulan Ramadhan diksi yang biasanya digunakan adalah marhaban yaa Ramadhan. Walaupun marhaban yaa Ramadhan memiliki makna yang sama dengan ahlan wa sahlan, yaitu selamat datang. Tapi kedua diksi tersebut memiliki konteks yang berbeda. Sebab kata marhaban digunakan untuk menyambut kehadiran seseorang atau sesuatu yang sifatnya istimewa, sedangkan kata ahlan wa sahlan digunakan untuk menyambut seseorang atau sesuatu yang sifatnya lebih umum.

Baca Juga  Dimensi Qashash Al-Qur’an: Makna, Fungsi, dan Pesan Moral

“Akan datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu seluruh bulan, marhaban kepadanya, dan mudah-mudahan kita semua menjadi ahli keluarganya. Bulan puasa datang dengan membawa segala keberkahan. Alangkah mulianya tamu yang akan tiba itu”. (HR. Thabrani)

Arti Marbahan

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab kata marhaban berasal dari kata rahb yang bermakna luas atau lapang. Sehingga dapat diketahui bahwa kata marhaban menggambarkan jika tamu yang datang disambut dengan lapang dada dan penuh rasa kegembiraan. Karena pada bulan Ramadhan Allah Swt akan menghapus dosa-dosa hamba-Nya yang mau bertaubat, bulan ini juga disebut sebagai bulan pengampunan. Selain itu Allah juga menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan untuk mengijabah doa-doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya.

Sehingga bulan Ramadhan patut untuk dijadikan sebagai medan kompetisi dalam segala bentuk kebaikan, dan Allah akan menyaksikan semua kompetisi tersebut. Maka jadilah sang juara dan peserta terbaik dalam kompetisi di bulan Ramadhan. Karena hadiahnya berupa pahala yang berlipat ganda.

Bekal Menyambut Bulan Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan di mana maha kemurahan Allah Swt sangatlah melimpah. Dan ketika Allah Swt masih memberikan kesempatan kita untuk berjumpa dengan  bulan Ramadhan tahun ini, maka bersyukurlah dan manfaatkanlah dengan sebaik mungkin. Sebab tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Sehingga Rasulullah Saw memberikan petunjuk kepada semua manusia mengenai apa saja yang perlu disiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan yaitu:

  • Berdoa

Senantiasa selalu berdoa semoga Allah tetap mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan. Sebab kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput kita, walaupun hadirnya bulan Ramadhan tinggal hitungan hari dan bahkan hitungan jam sebelum Ramadhan tiba, tapi bisa jadi malaikat Izrail telah datang untuk menjemput. Karena kematian adalah rahasia terbesar dalam kehidupan, kita tidak pernah tau sampai kapan akan tetap diamanahi roh yang ada dalam tubuh kita.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 41-43: Beberapa Peringatan

Dan salah satu hikmah dirahasiakannya maut adalah supaya manusia senantiasa berhati-hati dalam setiap detik usianya agar tidak melampaui batas yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Sehingga kita harus selalu berdoa supaya kita tetap dipertemukan dengan Ramadhan, sebagaimana doa yang telah diajarkan Rasulullah untuk dibaca di bulan Rajab.

اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan” (HR. Ahmad dan Tarani).

***
  • Merancang Agenda

Ramadhan hanya sebulan dan itu waktu yang sangat singkat, maka manfaatkanlah bulan Ramadhan dengan sebaik mungkin. Supaya setiap detiknya dapat menjadi sebuah amalan-amalan yang berharga. Maka setiap berjalannya waktu jangan sampai terlepas dari ketaatan, menambah ilmu, membersihkan hati, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Rancanglah agenda Ramadhanmu sedetail mungkin, supaya waktu kita dapat bermanfaat dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menghasilkan pahala, seperti membaca Al-Qur’an dan membaca buku untuk memperluas cakrawala keberagamaan. Dan jadikanlah Ramadhanmu deadline, seolah Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidupmu. Supaya kita selalu berusaha keras dalam menggapai ketakwaan tertinggi pada bulan Ramadhan, dan apabila tidak dapat tercapai di bulan Ramadhan ini maka hilanglah Ramadhan terakhir kita.

  • Bertaubat

Sebelum datangnya bulan Ramadhan alangkah baiknya, kita mempersiapkan diri dengan cara membersihkan diri dari segala dosa yang telah kita lakukan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi dikemudian hari. Dan mengganti perbuatan tersebut dengan amalan-amalan shaleh yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sehingga ketika kita memasuki bulan Ramadhan kita sudah terbebas dari segala dosa.

Penyunting: Bukhari