Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tadabbur Al-Quran: Mengapa Kita Perlu Bersyukur?

Bersyukur
Gambar: kompastv

Allah itu Maha Dermawan di atas semua kedermawanan. Maha Kaya di atas semua kekayaan yang ada di muka bumi ini. Pernahkah kita merenung sejenak memikirkan tentang nikmat-nikmat Allah,  pernahkah kita ditinggal oleh-Nya walau sedetik saja? Pernahkah kita dikecewakan terhadap rezeki yang telah Dia berikan? Bayangkan bila tanpa kasih-Nya bagaimana hidup kita pada saat ini? Pada pembahasan kali ini, penulis mencoba merefleksikan makna bersyukur yang sebenar-benarnya dan terimplementasi secara nyata.  

Apa Itu Syukur?

Makna syukur diambil dari kata syakarayasykurusyukran  dalam bahasa Arab yang artinya berterima kasih. Jadi secara bahasa syukur itu sederhananya ialah berterima kasih kepada Allah atas karunia yang telah dianugerahkan-Nya. Sedangkan menurut istilah ialah pengakuan terhadap nikmat Allah Swt. Disertai dengan ketaatan dan ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat itu sesuai dengan syariat agama.

Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab Thariq al-Hijrotain “memuji nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta menggunakan nikmat itu dalam ketaatan kepada Allah”. Intinya ialah berterima kasih atas apa apa yang telah allah swt. Berikan dengan memuji-Nya menggunakan nikmatnya dalam ketaatan.

Mengapa Harus Bersyukur?

Salah satu akhlak terpuji ketika  diberikan sesuatu yang istimewa dari seseorang ialah dengan mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut. Begitupun kepada Allah Swt. Kita sebagai hamba yang tiada daya dan upaya kecuali atas kebaikan-Nya, tidaklah mungkin hamba yang sholeh melupakan nikmat dari Rabbnya. Oleh karena itu, bersyukur itu  merupakan akhlak yang baik bagi hamba terhadap Allah Swt.

Jangan sampai kita termasuk menjadi sahabat Qorun yang lupa akan do’a dari Nabi Musa atas nikmat dari Tuhannya. Seperti Tsa’balah yang lalai mengingat ucap hamdalah karena sibuk menghitung domba-dombanya. Mereka itulah di antara manusia yang kufur akan nikmat Rabbnya. Maka apakah kita juga termasuk ke dalamnya? Jawabannya ada di dalam  masing masing diri kita.

Baca Juga  Pentingnya Body Positivity Dalam Prespektif Al-Qur’an

Allah berfirman di dalam QS. Ibrohim ayat 7 yang artinya;

Artinya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Tafsir Al-Jalalain karya Imam Jalaludin al-Mahilli dan Jalaludin Asy-Suyuti menerangkan ayat ini sebagai berikut;

“Sungguh jika kalian bersyukur kepada-Ku atas nikmat-Ku yang telah diberikan kepadamu dan dengan nikmat itu kamu pergunakan dengan jalan ketauhidan dan ketaatan kepada-Ku, pasti kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka apabila kalian ingkar terhadap nikmat-Ku dengan berlalu kekafiran dan kedurhakaan niscaya aku akan menurunkan azab kepada kalian. Pengertian ini di tegaskan dalam firman allah selanjutnya “Ssesungguhnya azabku sangat (pedih) keras.”

Tafsir tersebut merepresentasikan bahwa syukur yang sebenar-benarnya terimplementasikan dalam bukti ketauhidan dan ketaatan kepada Allah, seseorang yang  bersyukur bukan hanya sekedar mengucap puji dan syukur melainkan dengan rajin sujud dan tersungkur menghadap Rabbnya yang Maha Ghafur. menggunakan nikmat dengan taat bukan dengan dosa dan maksiat.

Cara Bersyukur

Yakin dengan hati, mengucap dengan lisan dan beramal dengan anggota badan itulah definisi iman. Begitupun rasa syukur layaknya iman; syukur itu dari hati, mengucap syukur dengan lisan, membuktikannya dengan anggota badan. Implementasi syukur itu telah Allah Swt tunjukkan tutorialnya dalam Al-Quran, bahkan ayatnya pun tak asing di dengar oleh telinga kita   surat Al-kautsar ayat 1 dan 2 yang artinya;

Artinya: Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).

Dalam ayat tersebut, bagaimana Allah menjelaskan kepada hamba-Nya dengan begitu lugas, nikmat Allah telah kita dapatkan, lalu bagaimana kita berterima kasih? Maka jawabnya; laksanakanlah sholat dan berkurbanlah. Belum dianggap bersyukur orang yang ketika diberikan nikmat dia hanya berucap saja, bukan acara ceremonial syukuran lalu di anggap orang yang bersyukur, maka hamba yang bersyukur dialah orang mendirikan sholat serta berusaha memperbaiki sholatnya dari waktu ke waktu, sholatnya semakin baik, semakin Allah lipat gandakan kebaikan dan keberkahannya (ziyadah al-khoir).

Baca Juga  Tafsir QS. Al-Muddatstsir Ayat 6: Kado Hadiah dari Hutang-Piutang

Kemudian dengan berkurban, kurban di sini merupakan qurban idul adha, namun, makna qurban atau berkorban juga bisa di artikan dalam bentuk yang lain, misalnya berkorban waktu tidur untuk melaksanakan sholat tahajud di sepertiga malam, berkorban waktu melakukan hal-hal baik, berkorban waktu bersungguh-sungguh belajar menuntut ilmu, dan lain sebagainya yang merupakan pengorbanan kita untuk menjadi hamba yang bersyukur.

Kesimpulan

Akhir pada pembahasan implementasi syukur ini penulis hanya memperjelas kembali bahwa syukur bukan sekedar ucapan ceremonial belaka, bukan mendapat nikmat lalu mengadakan acara syukuran bersama-sama, lebih ke arah mengupgrade diri menjadi lebih baik, dengan bersyukur kita perbaiki sholat kita, berkorban segala hal, syukur “ziyadatul khoir” ditambah kebaikan-kebaikan dan jalan  menuju rahmat, ridha dan kasih sayang Allah.

Penyunting: Bukhari