Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kebinasaan Suatu Negeri: Telaah Tafsir QS. Al- Qashash Ayat 59

Sumber: https://lingkarkediri.pikiran-rakyat.com/

Negara merupakan komunitas masyarakat yang membentuk organisasi yang menempati suatu wilayah dengan pemimpin sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Untuk mencapai suatu negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur diperlukan usaha yang keras baik dari pemegang kekuasaan maupun masyarakatnya. Tidak hanya dari satu pilar, tetapi dari keduanya yang harus bekerja keras dan selalu beriman kepada Allah sehingga tercapainya hubungan yang baik untuk membangun negeri.

Namun fakta yang terjadi di zaman yang sudah berkembang ini. Ternyata permasalahan yang kembali muncul adalah masih banyaknya masyarakat yang acuh tak acuh terhadap permasalahan negara. Padahal mereka adalah bagian dari negara tersebut. Dari sisi pemegang kekuasaan pun begitu, saat mereka mengambil hati masyarakat dengan janji-janji namun apabila sudah terealisasikan mereka lupa akan tanggung jawab dan memanfaatkannya untuk diri mereka sendiri.

Kejayaan dan Kehancuan Negeri

Wahbah Zuhaili juga menambahkan bahwa kejayaan dan kehancuran suatu masyarakat tergantung dari sejauh mana mereka mampu merealisasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama dalam berkehidupan sehari-hari. Jika kehidupan mereka kering dari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama maka hal ini menjadi faktor penyebab hancurnya suatu negeri.

 Sebagaimana Allah telah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 59 :

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِىٓ أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِى ٱلْقُرَىٰٓ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَٰلِمُونَ

“Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibu kotanya yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri-negeri, kecuali penduduknya dalam keadaan zalim.” (QS Al-Qashash [28]: 59)

Mengenai ayat di atas, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahally menjelaskan dalam Tafsir Jalalain bahwasannya; “Dan tiadalah Rabb-mu membinasakan kota-kota disebabkan kezaliman yang dilakukan oleh para penduduknya; sebelum Dia mengutus di ibu kota itu yakni pada kota terbesar negeri itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah pula Kami membinasakan kota-kota kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman yaitu mendustakan rasul-rasul.” Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa; Allah Swt. mengabarkan tentang keadilan Allah yang tidak membinasakan seseorang pun secara zalim. Dia hanya membinasakan seseorang jika telah disampaikan hujah kepadanya.

Baca Juga  Moderasi Beragama: Solusi Masyarakat Indonesia

***

Lebih lanjut Imam Ibnu Katsir menjelaskan; dan tidaklah Rabb-mu membinasakan kota-kota sebelum Dia mengutus di ibu kota yaitu Makkah seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami. Yang di dalamnya mengandung petunjuk bahwa nabi yang ummi, Muhammad saw. yang diutus dari ibu kota itu adalah seorang rasul untuk seluruh negeri, baik Arab maupun ‘ajam. Penjelasan tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw., “Aku diutus kepada orang-orang kulit merah dan orang-orang kulit hitam.” (HR Bukhari dan Muslim). Tafsir Kemenag, surah Al-Qashash: 59 ini menjelaskan bahwa sesuai dengan sunah-Nya, Allah tidak pernah membinasakan suatu kota, kecuali terlebih dahulu mengutus seorang rasul ke kota itu; untuk membacakan kepada penduduknya ayat-ayat Allah yang berisi kebenaran.

Waspada Kebinasaan Sebuah Negeri

Dari beberapa penjelasan ahli tafsir, mereka dan kita sepakat bahwa bentuk kezaliman terbesar yang dimaksud ayat tersebut; yaitu ketika penduduk negeri-negeri muslim saat ini. Termasuk Indonesia, mengabaikan syariat Allah Swt. dalam seluruh lini kehidupan. Sebagai contoh, dengan disahkannya UU TP-KS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual) beberapa waktu yang lalu, bukan menjadi solusi bagi permasalahan seksual yang terjadi saat ini. Justru pengesahan UU tersebut menjadi ancaman. Bukannya berkurang, malah kasus perzinaan marak terjadi dan transformasinya dinamakan dengan kelompok LGBT.

Makin hari kelompok ini kian bertambah karena banyak dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Fenomena perilaku kaum Sodom ini nyata adanya, dan terus berkelanjutan. Namun, pembinasaan umat secara besar-besaran, sebagaimana terjadi pada umat-umat terdahulu, tidak terjadi pada umat Nabi Muhammad saw. Beliau adalah nabi terakhir yang diutus bagi seluruh alam sehingga pembinasaan total sudah tidak terjadi lagi. Yang terjadi bentuknya hanyalah pembinasaan sebagian atau lokal. Seperti bencana penyakit, bencana alam, banjir bandang, gempa bumi, gelombang tsunami, dan sebagainya.

Baca Juga  Belajar Merajut Kesatuan Umat Di Era Modern

***

Dengan demikian, bisa jadi bencana-bencana yang terjadi menimpa negeri kita ini. Seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir, dan sebagainya, sebenarnya adalah peringatan dari Allah Swt. sebagai efek kezaliman yang dilakukan oleh penduduk negeri ini secara terus-menerus. Pengutusan Muhammad saw. sebagai nabi terakhir, berarti Allah tidak akan mengutus nabi atau rasul setelah beliau. Sedangkan tugas dan tanggung jawab dakwah untuk melanjutkan risalah tersebut kepada umat, terletak di pundak para ulama. Sementara itu, para ulama sudah berupaya dan terus untuk mengingatkan dan mendakwahkan syariat Islam sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi saat ini kepada umat dan penguasa. Tetapi justru mereka ditangkap dan dipenjarakan.

Dari penjelasan ayat tersebut dan dalam kaitannya dengan peristiwa yang terjadi saat ini, kita sebagai umat Islam telah diperintahkan oleh Allah Swt. untuk melawan kezaliman dan kemungkaran tersebut. berdiam Tidak boleh diri, apalagi ikut mendukung para pelakunya. Karena jika bukan kita selaku umat muslim, lantas siapa lagi yang akan menegakkan kebenaran dan melawan kezaliman.

Penyunting: An-Najmi