Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Psikologi Al-Quran: Menyelesaikan Permasalahan Keluarga ala Nabi

Permasalahan Keluarga
Gambar: Freepik

Keluarga menjadikan hubungan antara laki-laki dan perempuan melalui pernikahan yang sah. Anggota keluarga mempunyai hak untuk ikut serta mengurus dan mendidik satu sama lain. Karena setiap keluarga memiliki tugas perkembangannya masing-masing dan masalah yang perlu diatasi.

Kehidupan berkeluarga merupakan salah satu tugas yang harus dilalui oleh sepasang suami dan istri. Terdapat tugas perkembangan yang banyak, sangat penting, dan bahkan ada juga yang sangat sulit untuk diatasi.

Kerap kali muncul konflik dalam keluarga baik dari dalam atau pun luar keluarga itu sendiri dapat membuat hubungan keluarga menjadi semakin erat. Karena keberhasilannya dalam penyelesaian masalah bersama atau pun menjadi hancur karena kegagalan.

Oleh karena itu, kehidupan keluarga lebih baik apabila dilandasi dengan syariat Islam. Karena bisa menjadi petunjuk dalam kehidupan keluarga dan mengarahkan kepada hal yang positif serta menghindari hal yang negatif.

Maka dari itu, artikel ini mencoba membahas bagaimana menyikapi permasalahan keluarga yang kerap kali menerpa menurut ajaran Nabi Muhammad SAW. Agar kita yang akan berumah tangga dapat mempersiapkan dan mempelajarinya dengan baik supaya membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

Cara Menyelesaikan Permasalahan Keluarga Menurut Psikologi

Ini dia empat cara menyelesaikan permasalahan keluarga menurut ajaran psikologi:

  • Kelola emosi sesaat

Yang harus dilakukan ketika kita dihadapkan dengan berbagai masalah dalam keluarga ialah mengelola emosi agar kita dapat menangani masalah dengan tenang atau kepala dingin.

  • Diskusikan pendapat

Setiap anggota keluarga pasti akan berusaha untuk mempertahankan argumennya ketika terjadi konflik. Oleh karena itu, turunkan ego untuk berdiskusi antar satu sama lain agar dapat mengambil jalan keluar yang tidak merugikan pihak manapun.

  • Menjadi pendengar yang baik
Baca Juga  Menghindari Bahaya Nifaq dengan Berkata “Aku Mukmin Insya Allah"

Terkadang emosi negatif yang muncul ketika adanya masalah seringkali membuat kebanyakan orang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Maka dari itu, cobalah untuk mengontrol emosi dengan berusaha untuk mendengarkan pendapat anggota keluarga lainnya. Sebab seringkali terjadi kesalahpahaman menjadi pemicu suatu konflik.

  • Berkonsultasi dengan pihak profesional

Jika masalah keluarga tak kunjung selesai. Dapat diselesaikan oleh pihak ketiga atau tenaga profesional sebagai pihak yang netral dengan tujuan menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi dapat segera ditemukan.

Menurut Muhammad Dlori, keharmonisan keluarga adalah bentuk hubungan yang dipenuhi dengan rasa cinta dan kasih sayang. Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang suatu hubungan perkawinan laki-laki dan perempuan menyebutkan perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tujuan Membina Keluarga dalam al-Quran

Adapun surat dalam Al-Qur’an yang membahas tentang tujuan pernikahan adalah surat Ar-Rum [3] ayat 21 yang berbunyi:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: “Dan di antara tanda – tanda kebesaran Nya ialah Dia menciptakan pasangan- pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh dalam arti surat ini terdapat tandatanda kebesaran Allah SWT bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum [3] ayat 21).

Cara Nabi Menyikapi Permasalahan Keluarga

Menurut A’yuni, cara menyelesaikan permasalahan keluarga menurut ajaran Nabi Muhammad SAW ialah menghadapi kemarahan istri dengan senyuman dan senda gurau. Tidak semua masalah dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dengan serius, kemarahan, atau kekerasan. Beliau ada kalanya menanggapinya dengan kasih sayang berupa senyuman, bahkan senda gurau yang justru mendinginkan suasana.

Baca Juga  Membangun Resiliensi Hidup: Belajar dari Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

Kisah ketika Sayyidah Aisyah cemburu pada saat Nabi Muhammad SAW datang, selesai menjenguk Ummu Salamah, isterinya yang lain. Sayyidah Aisyah dalam riwayat Ibnu Sa’ad bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, di manakah engkau hari ini? Nabi Muhammad SAW menjawab wahai wanita yang pipinya berwarna kemerah-merahan, aku berada di rumah Ummu Salamah.

Dalam kedaan emosi tidak stabil, Sayyidah Aisyah melanjutkan pertanyaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan nada cemburu melalui sebuah perumpamaan sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al – Bukhari.

Artinya: “Dari ‘Aisyah RA, beliau berkata; wahai Rasulullah, jika engkau melihat sebuah lembah yang di sana terdapat sebuah pohon yang telah dimakan daunnya, dan pada saat yang sama engkau melihat daun yang belum dimakan, di manakah engkau akan menggembalakan kambingmu? Nabi Muhammad SAW menjawab di tempat yang belum digembalakan, yaitu bahwa Rasulullah belum pernah menikahi seorang perawan kecuali Sayyidah Aisyah”. (HR. Bukhari).

Dari keterangan tersebut dapat dipelajari bahwa cara menyelesaikan permasalahan keluarga dengan cara psikologi dan Islam yaitu, menenangkan diri, membicarakan permasalahan dengan kepala dingin, sabra, dan bertawakkal kepada Allah SWT agar permasalahan dapat di selesaikan dengan baik.

Penyunting: Bukhari