Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Ghazali dan Zuhayli: Intropeksi Diri Dalam Q.S Al-Hasr Ayat 18

Sumber: istockphoto.com

Muhasabah diri atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan intropeksi diri. Menurut KBBI intropeksi adalah sebuah peninjauan atau korelasi terhadap suatu perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan lain sebagainya. Dengan objek pengamatan adalah diri sendiri yang mana bertujuan untuk mawas diri. Sedangkan berintropeksi adalah mengadakan atau melakukan pengoreksian terhadap diri sendiri sebelum mengoreksi atau mengkritik orang lain. Sedangkan dalam kamus al-Munawwir intropeksi diri bisa dilafalkan dengan tiga macam:

الإستبطان,  حاسبة النف,  التأمل الباطني.

Makna Muhasabah

Secara terminologi bahasa sendiri , muhasabah berasal dari kata kerja haasaba-yuhaasibu, bisa juga diambil dari kata hasiba, hasibtusy syai-a, ahsibubu husbaanan, dan hisaaban yang mana memiliki arti apabila engkau menghitunya atau hisap. Sedangkan muhasabah sendiri dimaknai dengan apabila engkau menghitung sesuatu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa muhasabah sama dengan perhitungan. Dimana jika kita mendatangkannya kemudian menerapkannya, sesuai dengan istilah yang ada, sama dengan kita sedang menghitung-hitung kebaikan atau keburukan pada diri kita.

Sebagaimana perkataan yang dinisbatkan pada Umar bin Khatab “ha>sibu anfusakum qabla antuha>sabu” yang artinya adakanlah perhitungan kepada dirimu sebelum kamu diperhitungkan kelak. Muhasabah juga bisa dikaitkan dengan manajemen diri (self management). Adapun fungsi manajemen yang sangat sederhana dikenal dengan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan atau evaluasi (controlling) dimana dari istilah-istilah ini bisa disingkat dengan POAC. Dimana dari ke-empat fungsi tersebut mempunyai kaitan erat dengan konsep muhasabah. Sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah untuk membuat perencanaan ke depan sebelum memulai segala sesuatu.

Al-Mawardi mendefinisikan muhasabah atau intropeksi dengan pengertian apabila seseorang pada malam harinya membuka kembali lembaran perbuatan yang ia lakukan siang hari dan jika perbuatannya di siang hari itu merupakan perbuatan terpuji maka ia melanjutkannya di hari esok dan mengiringi perbuatan itu dengan perbuatan terpuji lainnya. Namun sebaliknya, jika ternyata perbuatannya di hari ini merupakan perbuatan tercela maka ia akan berusaha menghapuskannya jika mampu dan jika tidak maka ia akan menutupinya dengan perbuatan terpuji lainnya di keesokan hari guna menghapuskan perbuatan tercelanya di hari ini, namun dengan syarat ia harus menghentikan perbuatan tercela itu dan tidak mengulangi perbuatan itu maupun semisalnya.

Baca Juga  Tadabbur Al-Quran: Mengapa Kita Perlu Bersyukur?

Muhasabah atau intropeksi menurut al-Ghazali adalah perhitungan seorang hamba terhadap setiap gerak gerik dan diam yang telah dilaluinya, seperti seorang pedagang yang memperhitungkan modal, untung dan rugi. Modal hamba pada agama adalah ibadah-ibadah fardhu, keuntungannya adalah ibadah-ibadah sunnah, dan kerugiannya pada perbuatan-perbuatan maksiat. Imam al-ghazali membagi tingkatan muhasabah menjadi 6 tingkatan, sebagai berikut:

  • Mengikat diri kita dengan janji yang telah dipastikan

Seseorang butuh untuk mengikat hawa nafsunya dengan perjanjian syariah.

  • Menjaga diri sendiri

Dimana akal harus senantiasa mengawasi gerak gerik hawa nafsu pada setiap saat dan setiap perbuatan.

  • Memperhitungkan segala amal perbuatan
  • Menyiksa diri

Hal ini dilakukan untuk menampakkan kekurangan kepada diri sendiri sebagai manusia yang selalu berbuat maksiat. Hal ini dilakukan setalah melakukan perenungan dan perhitungan atas segala amal perbuatan yang telah dilakukan.

  • Bersungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal
  • Merasa hina

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْن

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr: 18)

Wahai orang-orang yang beriman, membenarkan dan percaya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah SWT, tinggalkanlah apa yang dilarang oleh-Nya, takutlah kalian kepada hukuman Nya, dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah ia persembahkan dan perbuat untuk hari kiamat berupa amal-amal saleh. Lakukanlah muhasabah dan koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi dan dihisab. Bertakwalah kalian kepada Allah SWT. Sesungguhnya tiada suatu apa pun dari amal perbuatan dan kondisi kalian yang tersembunyi dari-Nya. Dia akan membalas kalian atas amal-amal kalian baik yang kecil maupun yang besar, baik yang sedikit maupun yang banyak.

Baca Juga  Rekontruksi Pemahaman Q.S al-Baqarah: 223 Tentang Marital Rape

Di sini, perintah bertakwa diulang sebanyak dua kali untuk mempertegas, memperkuat, dan sekaligus untuk memotivasi agar mengerjakan apa yang bermanfaat di akhirat. Kemudian, Allah SWT melarang dan mewanti-wanti agar jangan sekali-kali menjadi seperti orang-orang yang mengabaikan hak hak Allah SWT. Adapun tafsir pada ayat ke 18 mempunyai hubungan dengan ayat ke 19.

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْن

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Seperti itulah orang-orang fasik” (al-Hasyr: 19)

***

Waspadalah kalian, jangan sampai kalian seperti orang-orang yang meninggalkan perintah Allah SWT mengabaikan hak-hak Allah SWT yang wajib atas para hamba dan tidak takut kepada Tuhan mereka sehingga Allah SWT pun menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri disebabkan oleh sikap mereka yang melupakan Tuhan mereka. Mereka pun tidak mengerjakan amal-amal saleh yang bermanfaat bagi mereka di akhirat kelak dan bisa menyelamatkan mereka dari adzab. Sesungguhnya balasan adalah sesuai dengan amal. Orang-orang yang meninggalkan dan mengabaikan hak-hak Allah SWT itulah orang orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya keluar orang-orang yang binasa dan merugi pada hari kiamat.

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa menurut Wahbah Zuhayli dalam kitab tafsir al-Munir, Allah memerintahkan bagi hambanya yang beriman agar bertakwa kepada Allah dan mempersiapkan bekal untuk kehidupannya diakhirat kelak dengan amal-amal soleh. Adapun penggunaan kata nadhor pada ayat ke delapan belas adalah sebagai penekanan. Karena nadhor sendiri mempunyai makna melihat dengan rasio/perbandingan. Hal ini bermaksud agar orang yang beriman dan bertaqwa hendaknya selalu membandingkan dirinya hari ini dengan dirinya yang kemarin.

Baca Juga  Transformasi Mazhab Tafsir di Era Modern

Penyunting: An-Najmi

Mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Lamongan, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.