Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tahun Baru : Mahasiswa Ilmu Tafsir dan Hadits Harus Apa?

mahasiswa
Sumber: Forum Mahasiswa Tafsir Hadits Muhammadiyah

“Desember telah tiba dan perpisahan telah berada di ujung mata. Marilah tutup tahun ini dengan perbuatan yang lebih positif, bermanfaat dan juga berguna bagi diri sendiri maupun orang lain”.

Kata-kata ini sangat bermakna jika direnungi dan diresapi. Kata-kata yang dilansir dari website Bola.com itu mampu menyadarkan segelintir orang terkhusus pada mahasiswa, apalagi yang di perantauan. Penulis pribadi merasakan hal itu sebagai mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan tafsir, hingga kemudian lahirlah tulisan singkat ini untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepada diri sendiri dan mungkin saja menjawab pertanyaan teman-teman pembaca. 

Di penghujung tahun seperti ini, kurang lebih ada dua pembahasan besar yang sering disoroti. Yang pertama adalah masalah toleransi beragama sebab di bulan desember terdapat perayaan natal, dan yang ke dua adalah masalah tasyabbuh. Pada tulisan ini penulis tidak ingin membahas dua hal itu, sebab sudah dibahas bahkan tiap tahun akan ada pembahasan seperti itu, dan jika itu penulis bahas, maka hanya membuang-buang waktu saja. Lalu apa saja yang harus dilakukan mahasiswa tafsir di penghujung tahun?

Menertawai diri sendiri

“Jangan takut tertawa untuk menertawai ketakutan”.

Begitulah kira-kira satu kalimat singkat yang sengaja penulis buat untuk memotivasi diri sendiri agar tetap tertawa. Artinya apa? Hidup ini terlalu singkat jika semuanya dihadapi dengan keseriusan serta terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Maka ini adalah salah satu jawaban, kemana  mahasiswa ilmu hadits dan Tafsir pada tahun baru. Sebagai mahasiswa, kita tidak perlu mempersulit diri sendiri dengan berjuta agenda akhir tahun. Kita hanya perlu flashback dan kemudian menertawai semua kelucuan yang kita lakukan pada bulan-bulan sebelumnya sekaligus sebagai bahan evaluasi diri agar di tahun yang akan datang agar bisa jauh lebih baik lagi.

Baca Juga  Merasa Hidup Sia-sia, Bagaimana Sebaiknya ?

Namun demikian, tertawa juga punya batas. Tidak berlebih-lebihan sebab yang berlebih-lebihan akan membuat yang baik menjadi hancur dan sulit untuk disatukan. Tertawalah di waktu yang tepat. Jika tidak, berarti sama saja kita menartawai waktu yang telah kita sia-siakan.

Dalam islam pun Nabi Muhammad sudah mewanti-wanti dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi. “Min Husni islamil mar’i Tarkuhu maa laa Ya’nihi”. (Diantara tanda kebaikan keislaman seorang muslim ; jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya). Derajat hadits ini adalah Hasan Lighairihi. Meski demikian, hadits ini memiliki syawahid yang cukup banyak dengan redaksi yang semisal, sehingga menjadi penguat dan menjadikannya Hasan Lighairihi. Jenis Min dalam hadits ini adalah tab’idiyyah ( sebagian ). Artinya, meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat adalah sebagian dari hal-hal yang bisa mendatangkan baiknya keislaman seseorang.

Keluar dari penjara konservatisme

Sebagai mahasiswa tafsir dan hadits, baiknya kita meningkatkan pemahaman di penghujung tahun serta memikirkan penafsiran-penafsiran yang mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat akan datang. Bukan malah membangun zona nyaman dalam pelukan konservatisme beragama yang sangat kolot dan eksklusif. Konservatisme ini sudah menjadi penyakit menular di kalangan remaja ataupun pemuda, kebanyakan dari mereka adalah yang sudah mengikrarkan diri sebagai pemuda hijrah.

Kata hijrah di Indonesia sangat tidak jauh dengan kata konservatisme. Sehingga yang terlintas dalam benak penulis ketika mendengarkan pemuda hijrah adalah pemuda konservatif. Dalam wacana akademik, konservatisme agama sering disebut ‘religion conservatism’ yang mengindahkan pemahaman konservatif serta berpegang teguh pada tradisi lama, ortodoksi yang dianggap paling benar.

Secara sederhana, konservatisme agama menolak pemahaman, penafsiran, dan pembaruan pemikiran berdasarkan perkembangan modern tertentu, yang seharusnya di era sekarang kita jauh lebih terbuka, sebab dituntut oleh perkembangan zaman.

Baca Juga  Tafsir Al-Qur’an di Masa Depan: Sebuah Catatan Reflektif

Kita dituntut untuk memberikan solusi terhadap permasalahan umat. Bukan malah menjadi pemantik api pertikaian dengan mengeluarkan pendapat-pendapat yang sepihak terhadap problematika yang terjadi.

Bijak dan terbuka

Akhir-akhir ini kita sering disajikan berita-berita kekerasan, pertikaian dan bahkan pembunuhan, yang kebanyakan dari permasalahan tersebut disebabkan oleh kesalahpahaman. Kesalahpahaman di era ini sangat sering terjadi, sebab tidak ada tempat pengaduan yang paling ampuh selain media sosial.

Berbagai macam penafsiran muncul untuk memaknai celotehan yang ada. Ada yang menanggapi dengan kepala dingin, dan adapula yang menanggapinya dengan emosional yang tidak rasional. Sehingga dari emosional yang tidak rasional inilah barang tajam mulai berbicara, jeruji besi makin kenyang dengan manusia, dan aparat gadungan makin senang dengan proyeknya.

Berbicara mengena situasi hari ini , barang tentu kita berbicara soal kemudahan. Semua bisa didapatkan dengan cara instan tidak pakai lama, cukup hanya memainkan jari-jari gemulai di atas monitor android ataupun papan keyboard komputer kita. Tentunya ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang yang punya kesibukan yang extraordinary, karena dengan adanya alat tekinologi inilah beban mereka sedikit terkurangi.

Bisa kita bayangkan bagaiamana di era sekarang orang-orang kantoran, apalagi yang mengurus data-data manusia harus mengetik dengan menggunakan mesin ketik yang bisa dibilang sangat repot, ribut dan kurang ramah. Ditambah lagi kurangnya akses informasi yang dapat mempermudah kita dalam melakukan sebuah pekerjaan. Sekarang kita sudah bisa mengakses star up atau sering kita sebut sebagai aplikasi yang bisa kita unduh sesuai dengan kebutuhan kita.

Editor: An-Najmi Fikri R