Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menafsirkan Q.S An-Namal Ayat 30-31 dengan Metode Tafsir Tahlili

Munasabah
Sumber: Istockphoto.com

Tafsir tahlili berasal dari kata حل  contoh حل العقدة   yang bermakna membuka ikatan menjadi terurai. Secara umum tahlili memiliki maksud untuk menjelaskan sesuatu pada unsur-unsurnya secara terperinci. Adapun definisi tafsir tahlili secara istilah adalah metode yang digunakan seorang mufassir dalam menyingkap ayat sampai pada kata perkatanya dan mufassir melihat petunjuk ayat dari berbagai segi serta menjelaskan keterkaitan kata dengan kata lainnya dalam satu ayat atau beberapa ayat. Metode taḥlīlī atau metode analisis adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dari segala aspeknya.

Di antara karya tafsir dengan menggunakan metode taḥlīlī adalah karangan Ibn jarir al-Thabari “Jami’ al-Bayān ‘an Ta’wīl ayātil Qur’an” dan karangan al-Baghawi “Ma’alim al-Tanzīl”. Dimana tafsir taḥlīlī adalah salah satu metode tafsir yang sistematis karena kandungan al-Qur’an dijelaskan berdasarkan urutan ayat-ayat di dalam mushaf yang ditinjau dari berbagai aspeknya meliputi mufaradāt ayat, munāsabah ayat yaitu melihat hubungan antara ayat sebelum dan sesudahnya, sebab turun ayat, makna ayat secara global, tinjauan hukum yang terkandung dan tambahan penjelasan tentang qira’at, i’rab dan keistimewaan susunanan kata-kata pada ayat-ayat yang ditafsirkan serta diperkaya dengan pendapat imam mazhab.

Ruang Lingkup Tafsir Ibn Katsir

Melihat periode munculnya tafsir Ibn Katsir, maka tafsir ini dapat digolongkan dalam era tafsir pertengahan. Karekteristik penafsiran pada madzab, ideologi keilmuan. Oleh karena itu disebut dengam istilah era afiratif dengan nalar ideologis.

Sedangkan mengenai bentuk tafsir, walaupun tafsir ini tergolong tafsir pada era pertengahan. Akan tetapi, tafsir Ibn Katsir memiliki kecondongan lebih menggunakan tafsir bil ma’tsur. Menurut Adz-Zahabi, Tafsir Ibn Katsir dalam menafsirkan suatu ayat menggunakan metode al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan Hadis, al-Qur’an dengan melihat ijtihad-ijtihad para sahabat dan tabi’in. Ibnu Katsir menyebutkan dalam muqaddimah tafsirnya bahwa metode tersebut ialah metode yang terbaik dalam penafsiran al-Qur’an.

Baca Juga  Kontroversi Penggunaan Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur'an

Metode al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan Hadis, al-Qur’an dengan melihat ijtihad-ijtihad para sahabat dan tabi’in merupakan prinsip-prinsip tafsir bil ma’tsur. Walaupun tidak menutup kemungkinan terdapat penafsiran bil ra’yi. Sebagai contoh penakwilan tentang ayat antropomorphisme yang menggunakan ra’yu dalam penafsirannya. Akan tetapi, dengan melihat tafsirannya secara keseluruhan, maka bisa dilihat bahwa bentuk bil ma’tsur lebih mendominasi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya penggunaan hadis-hadis dalam tafsirnya.

Sedangkan dalam penyajian tafsirnya, Ibnu Katsir menggunakan metode analisis (Manhaj tahlili). Ibnu katsir dalam tafsirnya menyajikan secara runtut mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat An-Nas sesuai dengan mushaf Usmani, dengan tidak mengabaikan asbabu al-nuzul dan juga munasabat ayat atau melihat hubungan ayat al-Qur’an satu sama lain. Akan tetapi metode pada tafsir ini juga bisa dikatakan semi tematik, karena dalam pembahasannya terdapat pengelompokkan dua ayat, kadang tiga ayat dan empat ayat, karena memiliki kaitan satu sama lain.

Analisis Penjelasan Surat An-Naml Ayat 30-31

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri”.

Tafsir Al-azhar menjelaskan dalam tafsirnya tentang surat An-Naml ayat 30-31 menggunakan cerita yang berhubungan dengan ayat sebelumnya. Bahwa Allah Ta’ala mengabarkan tentang pendapat Sulaiman kepada hud-hud di saat beliau telah menyampaikan kabar tentang saba’ dan kerajaannya, قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ  “Berkata Sulaiman: “Akan kami libat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” yakni, apakah engkau jujur dalam berita yang engkau sampaikan ini? أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ  “Ataukah kamu termasuk orang yang berdusta,” dalam pembicaraanmu untuk sekędar melepaskan diri dari ancaman yang aku berikan. اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ “Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” Untuk itu, Sulaiman menulis sepucuk surat kepada Balqis dan rakyatnya. Surat itu diberikan kepada hud-hud untuk dibawanya.

Baca Juga  QS. Al Kahfi Ayat 61: Fenomena Ikan Sebelah dan Cerita Nabi Musa

Menurut satu pendapat, ia membawa surat itu pada sayapnya sebagaimana kebiasaan burung. Pendapat lain mengatakan, diparuhnya. Lalu, ia pergi menuju Istana Balqis ke sebuah tempat yang digunakannya untuk menyendiri. Maka, ia segera menjatuhkannya melalui sebuah celah yang ada di hadapannya. Kemudian, ratu berpaling ke arah sisi dengan penuh adab dan wibawa dan ia tampak heran dengan apa yang dilihatnya. Lalu ia mengambil surat tersebut, kemudian membuka stempel dan membacanya. Di dalamnya tertulis:

  إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesunggühnya (isinya): ‘Dengan menyebut Nama Allah yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Maka, ia mengumpulkan para gubernur, para menteri dan para pejabat negara serta pembesar kerajaannya dan berkata kepada mereka: يَا أَيُّهَا الْمَلأ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ “Hai para pembesar, sesungguhnya telah dijatuh- kan kepadakú sebuah surat yang mulia,” yaitu dengan penuh hormat, di mana ia melihat urusan yang cukup aneh saat seekor burung membawa sepucuk surat lalu melemparkannya, setelah itu ia pergi dengan penuh hormat.

Mereka juga mengetahui bahwa surat tersebut berasal dari seorang Nabiyyullah, yaitu Sulaiman, padahal beliau tidak pernah bertemu kepada mereka. Surat ini mengandung sastra yang cukup tinggi karena mengandung makna yang luas, dengan menggunakan ungkapan yang paling mudah dan paling baik. Pada tafsir al-Azhar juga menjelaskan pendapat dari ulama’ yakni “tidak ada seorang pun yang menulis kata Bismillahirrahmanirrahiim sebelum Nabi Sulaiman”. Terdapat juga pendapat dari Maimun bin Mihran yakni “dahulu, Rasulullah menulis surat dengan menggunakan BismikaAllahumma, hingga dituliskannya ayat ini kemudian Rasulullah menggunakan Bismillahirrahmanirrahim.

Pada penafsiran dengan metode tahlili dalam tafsir al-Azhar di atas dijelaskan secara terperinci bagaimana asbabun nuzul dari suatu ayat, pendapat para ulama’ yang dipergunakan untuk memperjelas isi dari suatu ayat.

Baca Juga  Potret Kepemimpinan Nabi Sulaiman

Editor: An-Najm