Kehidupan manusia tidak akan luput dari sebuah persoalan atau masalah, misalnya masalah pekerjaan, keluarga, dan berbagai masalah lainnya yang dapat memengaruhi kondisi mental seseorang. Oleh karenanya, manusia membutuhkan suatu kekuatan yang mampu mendorongnya untuk tetap kuat dalam menjalani kehidupan ini. Salah satunya adalah harapan.
Psikologi modern menjelaskan bahwa harapan adalah hasil dari proses mental dan motivasi seorang individu. Di lain sisi, Islam mengajarkan bahwa harapan bertumpu pada keimanan kepada Allah dan keyakinan atas-Nya. Keduanya terlihat sedikit berbeda, tetapi mampu untuk mendorong kehidupan manusia untuk tidak berputus asa.[1]
Al-Qur’an sebagai pedoman umat manusia, mengajarkan nilai-nilai optimisme kepada manusia untuk kuat dan tidak berputus asa dalam menghadapi ujian hidup. Salah satunya terdapat pada Q.S. Al-Insyirah ayat 5-6. Harapan yang tercantum di dalam Al-Qur’an dapat kita ulik lebih jauh menggunakan teori harapan (Hope Theory) milik Charles Richard Snyder.
Maka, penulis merasa penting untuk menulis relasi harapan pada Q.S. Al-Insyirah ayat 5-6 dengan ‘hope theory’, sehingga landasan normatif yang terdapat di dalam Al-Qur’an dapat terealisasi menjadi solusi bagi permasalahan manusia.
Definisi Harapan
Secara bahasa, harapan dapat berarti tercapainya suatu keinginan terhadap sesuatu di masa yang akan datang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, harapan dimaknai sebagai sesuatu yang diinginkan supaya menjadi kenyataan.[2] Harapan adalah mekanisme yang mampu membangkitkan kepercayaan seseorang bahwa kesulitan yang ia hadapi dapat teratasi.[3]
Dalam kehidupan, manusia kerap membuat tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan tersebut digantungkan pada sebuah istilah yang sering disebut dengan ‘harapan’. Harapan ini menjadi aspek penting dalam kehidupan, bahkan dapat menjadi titik pacu manusia. Artinya, tanpa harapan, manusia tidak memiliki arah untuk menggapai tujuannya.[4]
Harapan dapat mendorong manusia merefleksi diri dan menjadi dukungan dalam menghadapi tantangan hidup. Harapan ini harus dibangkitkan dengan mengetahui makna kehidupan. Dengan adanya harapan tersebut, manusia akan terpacu untuk mengatasi ketidakpastian sesuatu dan menyelesaikan masalah dirinya guna mendapat tujuan yang ia harapkan.[5]
Harapan adalah salah satu faktor internal yang memengaruhi resiliensi seseorang. Resiliensi sendiri adalah kemampuan seseorang untuk bertahan di dalam tekanan. Harapan ini adalah mekanisme yang digunakan sebagai coping untuk menghadapi kesulitan hidup. Harapan adalah psychological strength yang berperan sebagai faktor protektif bagi remaja dalam menghadapi kesulitan. Dalam pendidikan, ketika harapan naik, maka kemampuan remaja untuk pulih dari kesulitan juga naik.[6] Lebih luas bukan hanya untuk remaja, tetapi untuk semua manusia.
Harapan Dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 5-6
Ayat Al-Qur’an yang menyinggung harapan terdapat pada Q.S al-Insyirah: 5-6. Ayat tersebut berbunyi:
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ini merupakan isyarat Allah akan adanya harapan yang pasti akan datang setelah kesulitan. Bahkan, Allah mengulangi redaksinya hingga dua kali dalam ayat tersebut.
Ibnu Kathir dalam tafsirnya menyebutkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Auf al-A‘rabi dan Yunus bin ‘Ubaid dari al-Hasan secara mursal. Dalam riwayat lain dari Qatadah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan ayat ini, lalu beliau bersabda “lan yagliba usrun yusrayni”—satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan. Sedangkan yang dimaksudkan oleh Nabi adalah firman Allah Q.S Al-Insyirah: 5-6 ialah bahwa “al-‘usr” yang pertama sama dengan “al-‘usr” yang kedua, sedangkan “yusr” yang pertama berbeda dengan “yusr” yang kedua, sehingga terhitung dua.[7]
***
Wahbah al-Zuhaili menjelaskan makna balagah pada ayat ini. Kata “yusra” pada “inna ma’al ‘usri yusra” berbentuk nakirah, tujuannya untuk ta’zhim dan tafkhim (membesarkan perkara). Makna ini seakan menunjukkan bahwa Allah mengatakan “yusran ‘adhiman”—kemudahan yang besar. Selain itu, kalimat “fa inna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra” adalah bentuk ithnab, yakni penggunaan kalimat yang lebih panjang untuk penekanan.
Kata “al-‘usra” berbentuk ma’rifat, maknanya menjadi mufrad (tunggal) sehingga “al-‘usra” yang pertama juga merupakan kata yang kedua, sedangkan “yusra” berbentuk nakirah maknanya menjadi berbilang. “Yusra” yang pertama bukanlah “yusra” yang kedua. Sehingga maknanya menjadi setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan.[8]
Al-Zuhaili juga berpaandangan bahwa ayat ini menegaskan setiap kesulitan selalu disertai kemudahan dan jalan keluar. Pengulangan makna tersebut menjadi penguat sekaligus penghibur bagi Rasulullah saw. bahwa Allah Swt. akan mengubah keadaan beliau dari kekurangan menuju kelapangan. Dua kemudahan yang disebutkan merupakan janji umum Allah bagi seluruh mukmin di setiap masa, mencakup kemudahan dunia dan akhirat, baik yang datang segera maupun di masa mendatang.[9]
Teori Harapan (Hope Theory) Charles Richard Snyder
Harapan menurut Snyder bukan hanya sekedar perasaan optimis, tetapi ia adalah kemampuan berpikir secara sadar yang terdiri dari agensi atau tekad untuk mencapai tujuan dan kemampuan mencari jalan untuk menuju tujuan yang dimaksud. Teori harapan Snyder berbeda dengan teori lainnya yang hanya sekadar yakin bahwa tujuan akan dicapai. Snyder lebih menekankan pada proses berpikir dan dorongan kuat untuk mencapai tujuan.
Dalam teori Snyder, ketika seseorang gagal mencapai tujuannya, itu bukanlah akhir. Seseorang dapat melakukan penetapan ulang dengan mengganti tujuan menjadi lebih baru dengan perencanaan dan upaya baru yang lebih matang. Hal ini berbeda dengan teori lainnya yang menganggap bahwa kegagalan adalah akhir.[10]
Snyder menjelaskan tiga komponen harapan yang saling berhubungan dan harus ditempuh seseorang. Pertama, tujuan. Tujuan harus ditetapkan seseorang, bisa tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang. Tujuan ini harus memiliki nilai yang cukup untuk memenuhi kepuasan pribadi. Semakin tinggi tujuan, maka harapan juga akan semakin tinggi.
Kedua, keinginan kuat (will power). Keinginan ini berfungsi sebagai energi mental yang mendorong seseorang untuk fokus pada tujuan awal yang seseorang tetapkan. Ketiga, jalan keluar (way power). Ini merupakan perencanaan mental atau peta jalan untuk mencapai tujuan yang seseorang harapkan. Jalan ini berfungsi sebagai kapasitas mental seseorang, yang membantu menentukan rute yang harus diambil untuk mencapai tujuan yang diharapkan.[11]
Dengan menentukan ketiga komponen harapan tadi, seseorang akan dapat mewujudkan harapan yang ia inginkan.
Relasi Harapan Dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 5-6 dengan Hope Theory
Harapan adalah kekuatan yang manusia pegang untuk bertahan di tengah kondisi sulit yang ia hadapi. Al-Qur’an telah memberikan isyarat harapan bagi manusia, melalui Q.S al-Insyirah: 5-6. Dalam ayat tersebut Allah menjanjikan kemudahan jika terdapat kesulitan. Hal ini ditegaskan hingga diulang dua kali berturut-turut.
Al-Qur’an telah memberikan landasan normatif bagi manusia untuk optimis memiliki harapan dan tidak berputus asa. Harapan tersebut harus dilanjutkan dalam aksi nyata sehingga dapat terwujud. Untuk mewujudkan harapan tersebut, manusia dapat menggunakan teori harapan Snyder yang berfokus pada kendali diri secara sadar. Menurut Snyder harapan harus berlanjut dengan tiga komponen, yakni tujuan, keinginan kuat, dan kemampuan menentukan jalur.
Jika seseorang telah memiliki harapan, ia harus menentukan tujuan yang kuat sehingga ia berusaha untuk mencapainya. Tujuan tersebut tercapai dengan keinginan yang kuat, yang mendorong seseorang untuk mewujudkan tujuannya. Dalam perjalanan menentukan tujuan tersebut, manusia membuat perencanaan jalur-jalur yang akan ia gunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dengan ketiga komponen tersebut, harapan bukan hanya sekedar menjadi harapan, tetapi dapat terwujud nyata.
Daftar Pustaka
[1] Intan Jamilah Ulfa, dkk, “Hope Pada Anak: Kajian Psikologi Pendidikan Islam”, Jurnal Pendidikan Tambuasai, Vol. 8, No. 2, (2024), 19497.
[2] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), 510.
[3] Nur Solikhah dan Dewi Retno Suminar, “Harapan (hope), dan Resiliensi Akademik Siswa SMA/SMK di Masa Pandemi COVID-19” BRPKM, Vol. 2, No. 1 (2022), 725.
[4] Gede Agus Siswadi, “Dualitas Harapan dan Ketakutan Di Dalam Hidup Manusia:Sebuah Telaah Filosofis”, Widya Katambung: Jurnal Filsafat Agama Hindu, Vol.13, No.1, (2022), 16-17.
[5] Aprilia Salnabila, dkk, “Menumbuhkan Harapan dan Memelihara Optimisme: Studi Psikologi Positif”, Humanitis, Vol. 3, No, 1 (Juli, 2025), 173.
[6] Nur Solikhah dan Dewi Retno Suminar, “Harapan (hope), dan Resiliensi Akademik Siswa SMA/SMK di Masa Pandemi COVID-19” BRPKM, Vol. 2, No. 1 (2022), 723.
[7] Abdullah Ibn Muhammad Ibn Abd al-Rahman Ibn Ishaq Ali Syekh, Tafsir Ibnu Katsir, M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, Jilid-8, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2005), 498.
[8] Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, Abdul Hayyie Ak-Kattani, Jilid-15, (Jakarta: Gema Insani, 2013), 577.
[9] Ibid, 582.
[10] Jenny M. Y. Huen, dkk., “Hope and Hopeless: The Role of Hope in Buffering the Impact of Hopelessness on Suicidal Ideation”, Plos One, (Juni, 2015), 4.
[11] Aprilia Salnabila, dkk, “Menumbuhkan Harapan dan Memelihara Optimisme: Studi Psikologi Positif”, Humanitis, Vol. 3, No, 1 (Juli, 2025), 174.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.